Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Bupati Ipuk Terharu! 1.300 Penari Panaskan Latihan Terakhir Gandrung Sewu 2025 di Stadion Diponegoro

Ali Sodiqin • Minggu, 19 Oktober 2025 | 13:00 WIB
TERHARU: Bupati Ipuk Fiestiandani memberikan semangat kepada ribuan penari dalam sesi latihan terakhir di Stadion Diponegoro, Sabtu sore (18/10).
TERHARU: Bupati Ipuk Fiestiandani memberikan semangat kepada ribuan penari dalam sesi latihan terakhir di Stadion Diponegoro, Sabtu sore (18/10).

RADARBANYUWANGI.ID - Latihan gabungan terakhir Gandrung Sewu terasa spesial, Sabtu sore (18/10).

Bupati Ipuk Fiestiandani hadir langsung menyemangati 1.300 penari yang menggelar latihan di Stadion Diponegoro sore itu.

Ipuk didampingi beberapa pejabat. Antara lain Kepala Disbudpar Taufik Rohman, Kepala Dinas Pendidikan Suratno, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Dwi Handayani, Plt. Direktur RSUD Blambangan Siti Asiyah Anggraeni, Kepala Dinas Sosial-PPKB Henik Satyorini, Ketua Dewan Kesenian Blambangan Hasan Basri, dan Direktur Jawa Pos Radar Banyuwangi Samsudin Adlawi.

Di sela-sela latihan, Ipuk memberikan semangat kepada seribu lebih penari yang tengah berlatih.

Dia pun terlihat sedikit terharu melihat jerih payah, latihan dan penampilan para penari yang sudah mulai terlihat rapi.  

"Kami mengucapkan terima kasih kepada kalian semua anak-anakku yang dengan hati yang tulus telah menjalani proses ini. Saya sampai terharu melihat penampilan kalian yang luar biasa," ungkap Ipuk dengan haru.

Ipuk berpesan kepada seluruh penari untuk manfaatkan waktu berlatih dengan sebaik mungkin dengan niat yang tulus.

Dia juga memberikan motivasi kepada penari, bahwa pergelaran Gandrung Sewu tak hanya menjadi milik Kabupaten Banyuwangi saja. 

"Ini bukan hanya untuk Banyuwangi, tapi juga Indonesia. Festival Gandrung Sewu tahun ini kita mengundang teman-teman dari luar kota dan luar negeri, termasuk 50 kepala desa,’’  imbuh Ipuk.

Menurut Ipuk, sukses Gandrung Sewu berkat  kolaborasi yang indah dari semua elemen seni. Mulai dari penari, pemusik, hingga budayawan yang  membentuk satu karya seni yang luar biasa.

"Kalian adalah pahlawan budaya bagi Banyuwangi, semoga tetap semangat dan sukses untuk kita semua," tandasnya kepada segenap penari gandrung sewu.

Tahun ini, tim penata musik Gandrung Sewu telah menyiapkan pertunjukan selama tiga bulan penuh. Tak hanya sekadar mengiringi, tetapi juga menceritakan kisah lewat nada.

“Dalam penataannya, kita punya dua sesi besar. Pertama, untuk anak-anak usia SD kelas 3 sampai 6, dan kedua untuk remaja SMP hingga SMA,” ujar Adlin Mustika Alam, komposer musik Gandrung Sewu tahun ini.

Dua kelompok usia itu, katanya, sengaja diberi ruang agar regenerasi penari dan pemusik gandrung terus hidup.

“Kita ingin anak-anak kecil juga punya kesempatan tampil di acara besar ini. Dari situ mereka belajar cinta pada budaya Banyuwangi sejak dini,” ujarnya.

Untuk unsur musiknya sendiri, tahun ini terasa berbeda. Adlin menggabungkan unsur musik tradisi dengan sentuhan musik barat.

“Kalau biasanya hanya gamelan dan kendang, sekarang kita tambahkan keyboard dan saxophone. Biar suasananya lebih hidup, lebih indah, tapi tetap berakar pada tradisi Banyuwangi,” jelasnya.

Menariknya, para penabuh dan sinden yang terlibat berasal dari berbagai kecamatan di Banyuwangi. Mereka diseleksi secara ketat sebelum akhirnya tampil di panggung Gandrung Sewu.

“Kita ambil dari seluruh kabupaten, lalu dipilih yang terbaik, termasuk sindennya juga,” imbuhnya.

Tahun ini, tema “Selendang Sang Gandrung” diangkat untuk menggambarkan perjalanan hidup seorang gandrung dari masa kejayaan hingga masa redupnya.

“Di situ kita ceritakan keluh kesahnya gandrung, tentang suka duka hidup, tentang bagaimana seorang penari ketika tenar dan ketika sudah tidak lagi di atas lewat musik,” pungkas Adlin.

Adlin menjelaskan bahwa proses kreatif musik Gandrung Sewu juga tak lepas dari kolaborasi dengan para pengamat dan seniman Banyuwangi.

“Saya membuat konsepnya, tapi ada pengamat seperti seniman lainnya yang membantu mencicipi hasil akhirnya. Kalau diibaratkan masakan, saya yang masak, mereka yang menilai rasa,” ujarnya sambil tersenyum. (cw5-Dalila Adinda/aif)

Editor : Ali Sodiqin
#gandrung sewu #Tari Gandrung Banyuwangi #gandrung sewu 2025 #Stadion Diponegoro #Pantai Marina Boom Banyuwangi #latihan menari #25 Oktober 2025