RADARBANYUWANGI.ID - Hari Batik Nasional diperingati setiap tanggal 2 Oktober. Momen tersebut sangat tepat untuk mengenalkan batik Banyuwangi ke kancah nasional maupun dunia.
Batik bukan sekadar karya seni, melainkan identitas dan warisan budaya yang harus dijaga serta dilestarikan.
Di Banyuwangi, batik telah menjadi bagian dari denyut nadi masyarakat, baik bagi para perajin maupun konsumen.
Batik Banyuwangi dengan ragam motifnya memang sarat makna. Seperti motif Gajah Oling, Kangkung Setingkes, hingga Blarak Semplah.
Ragam motif ini mencerminkan kekayaan alam dan budaya lokal.
Saat ini, perkembangan industri batik di Banyuwangi menunjukkan tren yang sangat positif dan memberi dampak signifikan bagi ekonomi daerah.
Data terbaru mencatat, terdapat sekitar 65 perajin batik di Banyuwangi yang tergabung dalam asosiasi maupun yang mandiri.
Kepala Dinas Koperasi Usaha Mikro dan Perdagangan (Diskop-UMP) Banyuwangi, Nanin Oktaviantie mengatakan, keberadaan asosiasi ini berperan penting sebagai wadah koordinasi dan kolaborasi, mulai dari peningkatan kualitas produksi, inovasi desain, hingga perluasan jaringan pemasaran.
Meski demikian, masih ada sejumlah perajin yang belum berhimpun dalam organisasi resmi, menunjukkan potensi pengembangan industri batik di Banyuwangi masih sangat luas.
“Dengan penguatan peran asosiasi serta perluasan keanggotaan, pengembangan batik Banyuwangi bisa lebih terarah, berdaya saing, sekaligus memberikan kontribusi optimal bagi perekonomian daerah dan pelestarian budaya,” kata Nanin.
Sebagai bentuk dukungan, pemerintah telah menggulirkan berbagai kebijakan strategis.
Mulai dari fasilitasi promosi melalui event tahunan Banyuwangi Fashion Festival (BFF) dan Banyuwangi Batik Festival (BBF), hingga misi dagang berskala nasional dan internasional yang melibatkan kolaborasi dengan Bank Indonesia, Pemerintah Provinsi Jawa Timur, dan berbagai mitra.
Tak hanya itu, pemerintah juga mendorong pemberdayaan perajin batik lewat pelatihan desain, peningkatan kualitas produksi, hingga sertifikasi halal yang difasilitasi bersama Bank Indonesia perwakilan Jember dan Dinas Koperasi UKM Provinsi Jatim.
Digitalisasi pemasaran pun digencarkan agar produk batik Banyuwangi semakin mudah diakses pasar yang lebih luas.
Langkah lain yang ditempuh adalah mendorong penggunaan batik Banyuwangi sebagai busana kerja di instansi pemerintah, dunia pendidikan, hingga kegiatan resmi.
Upaya ini diharapkan mampu meningkatkan kecintaan masyarakat terhadap batik sekaligus mendukung perputaran ekonomi daerah.
“Batik tidak hanya simbol budaya, tapi juga motor penggerak ekonomi kreatif. Industri batik mampu membuka lapangan kerja, peluang usaha, hingga menjadi daya tarik wisata yang bernilai tambah. Karena itu, kami mengajak generasi muda untuk terus mencintai, memakai, dan bangga terhadap batik Banyuwangi,” tegas Nanin.
Pemkab Banyuwangi berkomitmen menjadikan batik sebagai kebanggaan bersama, bukan hanya di tingkat lokal, tetapi juga di kancah nasional dan internasional.
“Mari bersama menjadikan batik Banyuwangi dan batik Indonesia semakin dikenal, dicintai, dan mendunia,” kata Nanin.
Sekadar diketahui, motif batik khas Banyuwangi cukup banyak. Antara lain Gajah Oling, Kangkung Setingkes, Paras Gempal, Gedegan, Blarak Semplah, hingga Kopi Pecah.
Motif batik Gajah Oleng resmi mendapat surat pencatatan inventarisasi kekayaan intelektual komunal (KIK) dari Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham) RI. Motif Gajah Oleng tercatat sebagai Ekspresi Budaya Tradisional (EBT) asli Banyuwangi.
Gajah Oling merupakan satu dari puluhan motif batik yang ada di Banyuwangi. Motif ini bisa dibilang paling populer dibanding motif lainnya. Gajah Oling merupakan perpaduan dari gambaran gajah dan oleng alias sidat.
Ada beberapa pendapat dalam memaknai motif ini. Namun, yang paling terkenal adalah simbol mengingat Tuhan.
Oling adalah perumpamaan dari kata iling (ingat), sedangkan gajah adalah simbol dari sesuatu yang besar yang tak lain adalah Tuhan Yang Maha Kuasa. (cw5- Dalila Adinda/aif)
Editor : Ali Sodiqin