Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Ribuan Warga Padati Ritual Petik Laut di Pantai Pancer, Tradisi Nelayan yang Jadi Magnet Ekonomi

Salis Ali Muhyidin • Senin, 29 September 2025 | 13:10 WIB
Gitik yang membawa sesaji diusung para nelayan untuk dilarung ke tengah laut dalam Petik Laut ke-50 di Pantai Pancer.
Gitik yang membawa sesaji diusung para nelayan untuk dilarung ke tengah laut dalam Petik Laut ke-50 di Pantai Pancer.

RADARBANYUWANGI.ID - Suasana Pantai Pancer, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, berubah meriah dengan ribuan warga yang hadir dalam upacara adat petik laut, Minggu (28/9).

Tradisi tahunan nelayan ini menjadi bentuk rasa syukur atas hasil tangkapan laut sekaligus doa bersama untuk keselamatan di tengah gelombang samudra.

Rangkaian petik laut dimulai sejak Kamis (24/9) dengan kegiatan bersih-bersih kampung, dilanjutkan istighosah bersama pada Jumat (25/9).

Malam harinya, Sabtu (27/9), masyarakat menggelar pagelaran wayang kulit semalam suntuk.

Puncaknya, Minggu pagi, prosesi larung sesaji digelar di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Pancer dan disaksikan masyarakat, tokoh adat, hingga seniman daerah.

Ketua Panitia Petik Laut Pancer 2025, Faishol Jamil, menjelaskan bahwa ritual ini merupakan tradisi turun-temurun yang tetap lestari hingga kini.

“Petik laut adalah wujud rasa syukur nelayan atas rezeki hasil tangkapan sepanjang tahun. Setiap tahun, nelayan Pancer akan rutin menggelar tradisi ini,” ujarnya.

Prosesi inti ditandai dengan arak-arakan sesaji dari Balai Dusun Pancer menuju pantai. Sesaji berupa kepala kambing, hasil bumi, dan hasil laut diletakkan di atas perahu kecil berukuran dua meter yang disebut githik.

Setelah doa bersama dipanjatkan, sesaji dilarung ke tengah laut sebagai simbol pengharapan hasil tangkapan melimpah di tahun mendatang.

“Semoga tahun selanjutnya nelayan mendapat hasil yang lebih banyak dan tetap dalam lindungan Allah,” harap Faishol.

Acara yang penuh kearifan lokal ini mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Kabupaten Banyuwangi. Asisten Perekonomian dan Pembangunan, Dwi Yanto, menyebut petik laut Pancer tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga mendongkrak ekonomi warga.

“Banyak stand UMKM yang ikut serta, dari makanan khas hingga kerajinan nelayan. Dampaknya sangat positif bagi perputaran ekonomi masyarakat pesisir,” katanya.

Dwi menambahkan, sektor perikanan dan tradisi maritim seperti ini menjadi salah satu pilar perekonomian Banyuwangi.

“Ibu Bupati menargetkan pertumbuhan ekonomi 5,5 persen pada tahun 2030, namun triwulan 2025 kemarin sudah mencapai 5,8 persen. Salah satu pendorongnya adalah kekuatan sektor perikanan dan pariwisata berbasis budaya seperti petik laut ini,” jelasnya.

Dengan dukungan masyarakat, nelayan, dan pemerintah, petik laut Pancer terus menjadi simbol kebersamaan sekaligus magnet wisata budaya yang memperkuat identitas Banyuwangi sebagai kota festival.

Editor : Agung Sedana
#petik laut #banyuwangi