Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Warga Binaan Lapas Banyuwangi Hebohkan Festival Banjoewangi Tempo Doeloe dengan Tarian Kinasih Sutra!

Tim Redaksi Radar Banyuwangi • Kamis, 25 September 2025 | 11:30 WIB
Kelompok penari yang personelnya dari Warga Binaan Lapas Banyuwangi tampil gemulai dalam pembukan Festival Banjoewangi Tempo Doeloe di Disbudpar Banyuwangi, Selasa sore (23/9).
Kelompok penari yang personelnya dari Warga Binaan Lapas Banyuwangi tampil gemulai dalam pembukan Festival Banjoewangi Tempo Doeloe di Disbudpar Banyuwangi, Selasa sore (23/9).

RADARBANYUWANGI.ID - Sepuluh Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lapas Banyuwangi ikut ambil bagian dalam Festival Banjoewangi Tempo Doeloe. Mereka  menampilkan tarian Kinasih Sutra.

Penampilan WBP menjadi simbol bahwa pembinaan di dalam Lapas tidak hanya fokus pada disiplin, tetapi juga pengembangan potensi seni dan rasa percaya diri.

Tepuk tangan meriah dari penonton Festival Banjoewangi Tempo Doeloe membahana di halaman kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Banyuwangi, Selasa sore (23/9). Penonton memberikan aplaus atas penampilan penari dari Lapas Banyuwangi.

Sepuluh warga binaan Lapas Banyuwangi ikut menghibur penonton. Mereka hadir bukan sekadar menari, melainkan membawakan pesan harapan, kerinduan, dan peluang untuk memperbaiki diri.

Satu dari sepuluh penari adalah adalah Arinda Narisha Putri, 29, warga Kelurahan Penganjuran, Kecamatan Banyuwangi.

Wanita tersebut sudah menjalani masa pidana selama tiga tahun. Kesempatan tampil di hadapan publik menjadi pengalaman emosional untuknya.

“Awalnya cemas sekali, karena sudah tiga tahun saya tidak pernah ke dunia luar. Setelah tampil menari, ada kebanggaan tersendiri. Saya jadi percaya diri kalau nanti selesai menjalani masa hukuman bisa kembali ke masyarakat dengan lebih baik,” tutur Arinda.

Arinda bersama rekan-rekannya tampil membawakan tarian Kinasih Sutra, sebuah karya kreasi penuh sarat makna.

Tarian ini bercerita tentang pasangan suami istri yang terpisah karena tanggung jawab dan kesulitan hidup.

Sang suami menjalani masa penuh kegelapan, sementara sang istri setia berdoa dan menanti dengan sabar.

“Tarian ini dipilih karena dekat dengan perasaan kami sebagai warga binaan. Ada kerinduan yang dalam, ada doa, ada kesetiaan. Jadi benar-benar bisa kami ekspresikan dari hati,” jelas Arinda.

Menurutnya, pembinaan tari di Lapas bukan hanya soal gerakan, tetapi juga penghayatan.

Setiap gerakan harus dimaknai, seolah-olah ia sendiri tengah menjalani kisah dalam tarian tersebut.

”Kalau ada gerakan yang susah, pembina akan menjelaskan seolah-olah saya berada dalam cerita itu. Jadi benar-benar diarahkan sampai kami bisa menemukan feel-nya,” tambahnya.

Kepala Lapas Banyuwangi I Nyoman Nurasta Wibawa mengatakan, persiapan penampilan ini sebenarnya tidak panjang, tetapi antusiasme warga binaan sangat tinggi.

“Alhamdulillah nuansa masyarakat, terutama untuk warga binaan, antusias sekali. Bahkan persiapan kami kalah dengan semangat mereka,” ujarnya.

Menurut Nyoman, latihan intensif baru dimulai pada awal September. Sebelumnya, kelompok tari warga binaan sempat tampil di hadapan Bupati Banyuwangi pada 17 Agustus.

Dari pengalaman itu, tarian kemudian disempurnakan kembali untuk Festival Tempo Doeloe.

“Latihan rutin setiap Sabtu dan Minggu. Kalau dihitung, mungkin enam sampai tujuh kali latihan sampai hari H. Beberapa kali juga dibantu Sanggar Tari Langlang Buana milik Pak Sabar agar lebih mantap,” tambahnya.

Tarian Kinasih Sutra dibawakan oleh lima penari perempuan, satu penari laki-laki, serta empat orang pendukung yang membawa properti gunungan dan payung, sehingga total ada sepuluh orang. Pilihan tarian ini, kata Nyoman, murni hasil kreasi bersama warga binaan.

“Karena kami tahu, banyak warga binaan yang menyimpan kerinduan. Baik kepada istri, suami, atau keluarga. Jadi konteks tarian ini pas sekali, sebuah ekspresi kerinduan dan kesetiaan,” jelasnya.

Tidak semua warga binaan bisa tampil di luar lapas, mengingat aturan ketat soal masa tahanan.

Namun justru karena itulah, kesempatan ini terasa istimewa. Banyak warga binaan lain yang sebenarnya ingin ikut serta, tetapi belum memenuhi syarat administratif.

“Antusiasnya luar biasa, banyak yang bilang ‘Pak, saya ikut, saya ikut’. Tapi ya harus ada aturan yang dipatuhi. Jadi yang tampil ini memang sudah memenuhi persyaratan tertentu,” kata Nyoman.

Bagi Disbudpar  Banyuwangi, kolaborasi ini juga menjadi bukti bahwa festival budaya bisa menjadi ruang inklusi sosial.

Seni tidak mengenal batas, bahkan bisa menjadi jembatan bagi mereka yang sedang menjalani masa hukuman.

Arinda pun menaruh harapan besar agar kegiatan seperti ini terus dilanjutkan.

“Kami berterima kasih pada Dinas Pariwisata, Lapas Banyuwangi, dan Sanggar Tari Pak Sabar. Kesempatan ini membuat kami merasa dihargai, bahwa kami juga punya sisi positif. Harapannya, setelah bebas nanti, saya bisa lebih percaya diri untuk kembali ke masyarakat,” ucapnya. (Dalila Adinda/aif)

Editor : Ali Sodiqin
#btd 2025 #banyuwangi tempoe doeloe