RADARBANYUWANGI.ID - Untuk mewadahi ruang ekspresi seni bagi para pelajar, Pemkab Banyuwangi menggelar Festival Padang Ulanan yang dilakukan secara keliling di setiap kantor kecamatan.
Dalam acara ini, para siswa menampilkan seni dan budaya yang ada di Kota Gandrung.
Untuk kali ini, giliran para siswa di Kecamatan Songgon menunjukkan ekspresi seninya di kantor Desa Songgon, Kecamatan Songgon pada Sabtu (6/9).
Dalam penampilan ini, para siswa menunjukkan seni drama Gandrung Marsan.
“Di Kecamatan Songgon, Festival Padang Ulanan bertema Gandrung Marsan,” kata ketua Panitia Festival Padang Ulanan Kecamatan Songgon, Sapaat.
Festival Padang Ulanan yang digelar mulai pukul 15.00 hingga pukul 17.00, terang dia, menampilkan Gandrung Marsan dengan anggota puluhan pelajar SD, SMP, hingga SMK dari Kecamatan Songgon.
Tari seni drama kolosal ini diperagakan oleh 60 siswa yang berasal dari SD, SMP, hingga SMK. “Yang ditampilkan berupa seni drama kolosal Gandrung Marsan,” katanya.
Mengambil tema Gandrung Marsan, kata dia, karena bertajuk pada sejarah masyarakat setempat saat melawan Belanda.
Saat itu, trik yang digunakan melawan penjajah menggunakan seni tari Gandrung.
“Tari Gandrung Marsan berkesinambungan dengan wujud perlawanan penjajah masyarakat Kecamatan Songgon, atau biasa disebut Puputan Bayu,” terangnya
Perang melawan penjajah itu, jelas dia, terjadi pada tahun 1776. Saat itu penjajah sangat suka dengan hiburan, dan penari Gandrung perempuan sebagai pasukan pembunuh pasukan kolonial Belanda.
“Dengan Gandrung yang ditarikan oleh perempuan untuk melawan, penari-penari itu dijadikan pembunuh penjajah,” jelasnya.
Kemudian, masih kata Sapaat, untuk melestarikan tarian ini, pada tahun 1886, ada seorang tokoh pemuda yang bernama Marsan sebagai penari Gandrung laki-laki.
Saat itu, ia melakukan pertunjukan tarian Gandrung dengan keliling kampung.
“Itu asal usul tari Gandrung Marsan,” ujarnya
Festival Padang Ulanan bukan sekadar ajang unjuk kebolehan, tetapi juga sarana edukasi dan investasi dalam menanamkan kecintaan budaya Banyuwangi kepada generasi muda, khususnya pelajar.
Sebab, sejak dini mereka dikenalkan seni dan budaya. “Para siswa bisa lebih mengenal dengan budaya yang ada di Banyuwangi,” katanya.
Selain memberi edukasi ke siswa, masih kata dia, UMKM masyarakat juga ikut dilibatkan dalam Festival Padang Ulanan.
Sebab, dengan banyaknya pengunjung yang datang, penggiat UMKM yang berada di sekitar lokasi penggelaran acara ketiban berkah.
“Belum lagi sebelum acara ini digelar, ada jalan sehat yang diikuti pelajar dan guru yang ada di Kecamatan Songgon,” pungkasnya.
Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani melalui Kepala Dinas Kebudyaan dan Pariwisata Banyuwangi, Taufiqurrahman mengatakan, Festival Padang Ulanan ini wahana bagi pelajar untuk mengekspresikan diri.
Dan ini juga bentuk dukungan Pemkab Banyuwangi dalam bidang seni dan budaya. Apalagi, Ditambah, saat ini tada perguruan tinggi ISI Surakarta Banyuwangi yang juga jembatan para seniman dan budayawan dalam memperdalam ilmunya.
“Untuk jurusannya ada dua Etno Musikologi dan Tari, ini bisa mewadai pelajar yang berjiwa seni, sebab Banyuwangi itu memiliki DNA seni,” katanya.
Kasi Mutu Pendidikan SD Dinas Pendidikan Banyuwangi, Irfandi mengatakan, kegiatan ini digelar setiap bulan dan bergilir ke setiap kecamatan yang ada di Banyuwangi. Saat ini Festival Padang Ulanan yang ketujuh selama 2025.
“Tujuan kegiatan ini untuk mengedukasi dan menanamkan jiwa seni, serta mewadahi bidang seni khususnya pada pelajar,” katanya.
Editor : Agung Sedana