RADARBANYUWANGI.ID - Sudah lebih dari 33 tahun Fredi "Marley" Kayaman melanglang buana di dunia musik reggae. Musisi gaek kelahiran Singaraja, Bali itu kini menetap ke Banyuwangi.
Pria berambut gimbal itu berniat mengembangkan musik asal Jamaika tersebut ke tanah kelahirnya di Desa Kelir.
"Love Love Love Love Ina … Love Love Love Love Ina, Love Love Love Love Ina … Lovina… ".
Itulah petikan lirik lagu Lovina yang diciptakan oleh Fredi Kayaman, seorang musisi gaek kelahiran Singaraja yang telah melanglang buana di blantika musik bergenre reggae.
Fredi kini kembali ke Desa Kelir. Sebuah desa kecil di Kecamatan Kalipuro yang menjadi tempat tinggalnya sejak tiga tahun terakhir. Fredi memilih kembali merintis musik reggae dari desa.
Dia ingin memperkenalkan aliran musik yang dipopulerkan oleh musisi asal Jamaika, Bob Marley, melalui generasi muda atau gen Z.
"Reggae bagi saya bukan sekadar musik, tapi jalan hidup. Saya ingin menghidupkan musik ini di Banyuwangi, melalui desa," kata Fredi Kayaman ditemui di rmuhanya Desa Kelir empat hari lalu.
Dengan style rambut gimbalnya Fredi kerap bermain musik di acara desa. Bahkan, pada puncak HUT RI ke-80 kemarin, dia menjadi guest star untuk menghibur masyarakat di Kelir.
Banyuwangi bukan tempat asing bagi Fredi. Ibunya, Maria Francisca Londong adalah warga Desa Kelir.
Namun, sejak kecil Fredi kerap mengikuti ayahnya bertugas sehingga membuatnya berpindah-pindah.
"Papa waktu itu masih bertugas di Kemenag, jadi saya ikut berpindah-pindah bersama orang tua, dari Singaraja ke Denpasar," ungkapnya.
Sebelum terjun di dunia reggae, pria yang memiliki nama asli Ferdinandus Juventius Bredjon itu akrab dengan lagu-lagu balada dan country.
Dia pernah membuat grup musik country bernama Mozart Band di tahun 1983. Fredi mengaku cukup menggemari Bob Dylan dan Gombloh saat itu.
Lambat laun, dia mulai familier dengan musik reggae. Banyaknya turis yang datang ke Bali, ikut membawa aliran musik reggae ke sana.
Fredi mulai menikmati musik tersebut. Salah satu musisi yang paling menginspirasinya adalah Bob Marley.
Akhirnya mulai tahun 1992, Fredi mulai menyanyikan lagu-lagu reggae. Meski hanya menjadi penyanyi dari kafe ke kafe, perlahan namanya mulai dikenal.
Bahkan, Fredi mendapat julukan "Marley" di belakang namanya dari para turis di Bali yang melihat performanya.
Pada tahun 2005, karir Fredi mulai meningkat. Single-single lagu yang diciptakan mulai dikumpulkan menjadi album.
Pada tahun itu, dia mulai berkolaborasi bersama beberapa musisi reggae seperti Steven & Coconut Treez dan Ras Muhamad.
Tahun itu juga diluncurkan lagu “Lovina” yang cukup dikenali. "Saat itu saya bersama 12 musisi reegae, termasuk Steven dan Ras Muhamad mau membuat kompilasi album, tapi tidak jadi," ceritanya sembari tersenyum.
Perjuangan Fredi untuk mempopulerkan musik reggae juga tak mudah. Apalagi, dia termasuk tipikal musisi idealis yang ingin membawa musik sesuai style-nya.
Saking idealisnya, Fredi banyak menolak tawaran dari salah satu label musik di Jakarta. Dia lebih memilih ”jemput bola” ke berbagai daerah untuk memenuhi panggilan manggung.
"Kalau dulu ya dibayar mulai dari Rp 15 ribu sampai Rp 100 ribu dari kafe ke kafe, kemudian mulai ditawari manggung. Ya bersih bisa dapat Rp 1 juta," ungkapnya.
Yang menarik, Fredi tetap memilih naik rmotor saat mendapat tawaran manggung. Mulai dari Malang, Lampung, hingga Palembang ditempuh dengan sepeda motor.
"Karena tidak punya saja, akhirnya naik motor. Sudah habis empat motor saya untuk keliling," katanya sembari tertawa.
Sekitar tahun 2015, Fredi mengganti namanya menjadi Fredi Kayaman. Dia merasa, nama Marley yang disandangnya terasa berat.
Apalagi, anak-anak Bob Marley cukup banyak yang eksis di dunia musik reggae.
"Kayaman artinya ‘Kaya Banyak Teman’. Awalnya saya mau pakai nama Sugiman, Sugih banyak teman, tapi batal,” katanya.
Di balik kiprahnya, Fredi tetap seorang anak yang ingin berbakti pada orang tua. Setelah ayahnya, Yustinus Philipus Bredjon, meninggal pada tahun 2018, dia kerap pulang ke Banyuwangi.
Hingga akhirnya menetap bersama istrinya, Angela Mericy, setelah ibunya Maria Francisca Londong meninggal pada 2022.
"Setelah pandemic Covid-19, saya kembali ke Kelir. Tinggal di desa lebih tenang,’’ tegas musisi berusia 64 tahun itu.
Sepanjang karirnya hingga sekarang, Fredi telah melahirkan delapan album. Di antaranya Green, Peace and Love, Retak Mencari Belah, Freedom Lost (1 dan 2), Ale Hitam, Gurindam City, Mr. Sunshine, dan Live Acoustic. Musiknya membawanya jauh hingga ke beberapa negara di Asia.
Dia pernah tampil di Timor Timur dalam pergelaran seni Indonesia–Timor dan Australia. Terakhir, pada 10 Agustus 2025, Fredi diundang ke Jepang oleh komunitas TKI untuk festival musim panas.
"Saya pernah merasakah dapat honor puluhan juta, tapi kalau kembali ke sini berapapun bisa. Semua bisa dibicarakan," ujarnya.
Setelah pulang ke Banyuwangi, Fredi memilih lebih aktif di media sosial. Lagunya kini banyak tersebar di beberapa platform musik seperti Spotify, Apple Music, Soundcloud, dan YouTube. Dia masih rutin membagikan penampilan singkat dua kali seminggu.
Meski potensi pencinta musik reggae di Banyuwangi belum besar, Fredi merasa optimistis musik tersebut bisa diterima.
Dia juga aktif dalam kegiatan komunitas Vespa di Banyuwangu yang menurutnya banyak diisi pencinta reggae.
Fredi juga pernah tampil dalam event Banyuwangi Scooter Festival dengan membawakan lagu-lagunya. Saat ini Fredi tengah merencanakan album baru yang akan lahir dari Banyuwangi.
“Kalau diundang tampil, saya ingin bawakan lagu sendiri. Saya ingin anak-anak muda tahu musik ini bisa lahir dari Kelir,” tukasnya. (fre/aif)
Editor : Ali Sodiqin