RADARBANYUWANGI.ID - Ruwatan Murwakala adalah salah satu ritual kuno yang masih diyakini masyarakat Jawa hingga kini.
Tradisi ini dipandang sebagai jalan untuk membuang kesialan, menolak bala, menghindari gangguan gaib, hingga melindungi diri dari santet.
Pelaksanaannya tidak bisa dilakukan sembarangan. Ruwatan Murwakala umumnya diselenggarakan melalui pagelaran wayang dengan lakon khusus berjudul Murwakala.
Hanya dalang yang memiliki kemampuan spiritual tertentu yang dipercaya bisa memimpin ritual ini.
Keyakinan Jawa Kuno dan Tujuan Ruwatan
Dalam kepercayaan Jawa lama, banyak peristiwa dianggap bisa mendatangkan celaka jika tidak diantisipasi dengan laku khusus.
Oleh karena itu, ruwatan hadir sebagai sarana ikhtiar agar manusia terhindar dari bahaya yang diyakini dapat datang kapan saja.
Salah satu tujuan pentingnya adalah tolak bala, yaitu membebaskan seseorang dari nasib buruk. Beberapa kategori orang yang dipercaya harus menjalani ruwatan antara lain:
- Anak yang lahir pada waktu tertentu, misalnya tepat tengah hari saat bedug duhur.
- Anak dengan kondisi cacat sejak lahir atau sering sakit-sakitan.
- Orang yang melanggar pantangan adat atau merusak benda keramat, baik disengaja maupun tidak.
- Bayi kembar, yang dalam budaya Jawa masuk kategori sukerta (anak yang harus diruwat).
Menurut para senior Kejawen, menuturkan bahwa anak-anak sukerta dipercaya bisa menjadi mangsa Batara Kala jika tidak segera diruwat.
Unsur Magis dan Pantangan dalam Ruwatan
Selain aspek budaya, ruwatan juga sarat dengan unsur magis. Salah satu bagian penting adalah pembacaan mantra dalam kitab Nyonteng.
Saat bagian ini dilantunkan, ada aturan ketat: ibu hamil tidak boleh mendengarnya.
Konon, jika larangan itu dilanggar, ibu dan bayi yang dikandung bisa mendapat kesialan.
Karena itu, dalang biasanya menurunkan mikrofon ketika membacakan bagian Nyonteng, agar suaranya tidak terdengar jelas.
Bahkan, ada cerita turun-temurun yang menyebutkan bahwa bayi bisa lahir dengan kondisi buruk jika ibunya mendengarkan lantunan tersebut.
Syarat dan Risiko Bagi Dalang Ruwatan
Tidak semua dalang bisa memimpin ruwatan Murwakala. Seorang dalang harus memenuhi syarat spiritual, termasuk menjalani puasa tiga hari sebelum pelaksanaan. Puasa ini berbeda dengan puasa biasa, karena disertai laku batin tertentu.
Selain itu, aneka sesaji atau ubarampe wajib dipersiapkan tanpa ada yang terlewat. Dalang yang memimpin ruwatan juga harus memiliki kekuatan batin yang matang.
Sebab, diyakini ada risiko berat bila tidak mampu menahan energi gaib yang hadir, mulai dari sakit mendadak, muntah darah, hingga kematian.
Dampak Ruwatan Murwakala
Meski berisiko, hasil dari ruwatan dipercaya membawa pengaruh besar bagi kehidupan orang yang diruwat.
Tidak hanya secara magis, tetapi juga secara psikologis. Banyak masyarakat Jawa, khususnya di Banyuwangi, merasa lebih tenang setelah menggelar ruwatan, seolah beban hidup menjadi lebih ringan.
Bagi mereka yang percaya, Ruwatan Murwakala bukan sekadar ritual, melainkan bentuk ikhtiar agar hidup terhindar dari mara bahaya dan kembali selaras dengan alam semesta.
Disclaimer: Artikel ini disajikan sebagai informasi budaya dan tradisi masyarakat Jawa. Isinya tidak dimaksudkan untuk mengajak pembaca mempercayai praktik mistis, melainkan sebagai pengetahuan mengenai warisan budaya Nusantara.
Editor : Agung Sedana