RADARBANYUWANGI.ID - Minyak bintang kembali jadi sorotan publik setelah sosok Ida Dayak ramai diperbincangkan karena menggunakan minyak ini untuk mengobati pasiennya.
Tradisi ini bukan hal baru, melainkan warisan lama dari masyarakat Dayak Benuaq dan Dayak Tunjung di Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur.
Menurut catatan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), minyak bintang dulunya dipelajari sebagai ilmu magis untuk bertahan hidup sekaligus menyerang musuh pada masa perang antarsuku.
Kepercayaan ini sangat lekat dengan kehidupan masyarakat Dayak di masa lalu.
Ilmu Langka dengan Harga Mahal
Konon, untuk bisa memiliki ilmu minyak bintang, seseorang harus menebusnya dengan harga tinggi, sekitar lima hingga sepuluh antang, alat tukar bernilai besar pada masa itu.
Tak heran, hanya segelintir orang yang mampu menguasainya.
Yang membuat minyak bintang semakin istimewa adalah keyakinan bahwa ilmu ini dapat menghidupkan kembali pemiliknya yang mati terbunuh, selama bintang di langit masih terlihat.
Namun, manfaatnya hanya berlaku bagi pemilik ilmu, bukan untuk orang lain.
Fungsi sosialnya kala itu lebih pada memberi semangat juang dan keberanian dalam peperangan.
Jenis-Jenis Minyak Bintang
Dalam tradisi Dayak, minyak bintang dibagi menjadi tiga golongan:
- Golongan tiga - digunakan untuk menyembuhkan luka.
- Golongan dua - dipercaya memberi kekebalan tubuh.
- Golongan satu - disebut sebagai minyak super, konon mampu menghidupkan kembali orang yang mati.
Bahan utama minyak ini terdiri dari minyak kelapa fermentasi, serbuk kayu yang disebut "bintang" atau "kayu bintang", serta campuran tanaman obat khas Dayak.
Proses pengolahannya dilakukan dengan cara tradisional dan penuh ritual.
Cara Pemakaian dan Pantangan
Minyak bintang dipercaya cukup dikonsumsi beberapa tetes pada malam hari, lalu khasiatnya bisa bertahan seumur hidup.
Namun, ada pantangan penting. Manfaat minyak bintang akan hilang bila pemiliknya meninggal dunia dan tubuhnya dipotong-potong lalu dikubur terpisah.
Kontroversi di Era Modern
Meski Ida Dayak mengklaim minyak bintang dapat mengobati patah tulang, stroke, hingga penyakit serius lain, para ahli dan lembaga kesehatan tetap meragukan efektivitasnya.
Kemendikbud menegaskan bahwa secara tradisi, minyak bintang hanya bisa berfungsi bagi pemilik ilmunya, bukan untuk orang lain.
Karena itulah, penggunaan minyak bintang sebagai pengobatan medis menuai pro dan kontra.
Sebagian masyarakat masih percaya pada khasiatnya, sementara pihak lain menilai praktik ini tidak ilmiah dan bisa berisiko bagi pasien.
Warisan Budaya yang Perlu Dilestarikan
Terlepas dari kontroversi, minyak bintang tetap menjadi bagian dari identitas budaya Dayak yang sarat nilai historis dan spiritual.
Ia bukan sekadar ramuan, melainkan simbol kekuatan, perlindungan, sekaligus warisan leluhur yang mencerminkan kearifan lokal Kalimantan.
Editor : Agung Sedana