RADARBANYUWANGI.ID - Desa Gintangan, Kecamatan Blimbingsari, Banyuwangi, kembali menunjukkan eksistensinya dalam gelaran budaya yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.
Tahun ini, event yang dikemas lewat Festival Bambu Gintangan (FBG) mengusung tema ”Peruncuke Jajang Kawitan”. Artinya tumbuhnya bambu pertama.
Yang membuat FBG berbeda dari festival lain adalah keunikan kostum yang dikenakan para peserta. Semua talent diwajibkan memakai busana berbahan dasar bambu.
Kostum tersebut merupakan hasil kreasi para pemuda desa yang dirancang dengan penuh kreativitas. Berbagai motif dan corak ditampilkan, menjadikan kostum bambu ini bukan hanya unik, tetapi juga memiliki nilai seni tinggi.
Sejak awal digelar, FBG memang menjadi magnet bagi warga sekitar Gintangan. Ribuan warga tumpah ruah di sepanjang jalan utama Gintangan yang menjadi venue FBG. Mereka menyaksikan penampilan puluhan talent yang mengenakan kostum berbahan bambu.
Start FBG di dekat Balai Desa Gintangan. Selanjutnya talent berjalan kaki sejauh 100 meter menuju garis finis di depan SDN 1 Gintangan.
Sepanjang perjalanan, sambutan penonton sangat antusias. Tak sedikit dari mereka memberikan sawer sebagai bentuk apresiasi kepada talent.
"Busana yang dikenakan para peserta merupakan hasil karya tangan-tangan kreatif pemuda Gintangan. Dari bambu, mereka bisa menghadirkan busana yang cantik, penuh variasi, dan punya ciri khas tersendiri," ujar Kepala Desa Gintangan, Hardiyono.
Event FBG dihadiri sejumlah pejabat. Antara lain perwakilan kepala UPT Seni dan Ekonomi Kreatif Disbudpar Jatim, Asisten Pembangunan dan Perekonomiana Pemkab Banyuwangi Dwi Yanto, kepala SKPD terkait, Camat, Kapolsek, Danramil Blimbingsari, dan kepala desa.
Kades Hardiyono menjelaskan tema ”Peruncuke Jajang Kawitan” dipilih sebagai simbol pertumbuhan dan harapan agar desa semakin berkembang serta membawa manfaat bagi masyarakat.
"Mudah-mudahan dengan terselenggaranya festival ini bisa memberikan dampak positif, khususnya bagi keluarga besar Desa Gintangan," ungkapnya.
Melalui festival ini, pemerintah desa berharap mampu menarik kunjungan wisatawan, baik dari dalam negeri maupun mancanegara.
"Semoga festival ini bisa menjadi daya tarik wisata, dan membawa nama baik Banyuwangi khususnya Desa Gintangan. Festival Bambu Gintangan tak sekadar menjadi perayaan tahunan, tetapi juga wadah untuk melestarikan bambu sebagai identitas lokal sekaligus ruang kreatif bagi generasi muda,’’ kata Hardiyono.
Dapat Apresiasi dari Disbudpar Jatim
Terselenggaranya FBG mendapat apresiasi dari Kepala UPT Seni dan Ekonomi Kreatif Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jawa Timur, Samad Widodo.
Dia menilai FBG sebagai salah satu contoh nyata kolaborasi masyarakat dan pemerintah dalam mengembangkan ekonomi kreatif berbasis potensi lokal.
“Alhamdulillah, ini semua berkat sentuhan tangan Pak Kepala Desa. Kegiatan seperti ini patut diapresiasi karena bisa menjadi pilot project pengembangan ekonomi kreatif di Banyuwangi. Saya melihat masyarakat Banyuwangi benar-benar mendukung perkembangan seni budaya dan industri kreatif,” ujarnya.
Samad menekankan pentingnya kolaborasi pentahelix, antara pemerintah, masyarakat, pelaku usaha, akademisi, dan media dalam memperkuat industri pariwisata.
“Media juga luar biasa. Tanpa media, event seperti ini tidak bisa dikenal luas. Ini bentuk nyata kerjasama pentahelix dalam mengembangkan ekonomi kreatif," imbuh Samad.
Samad mendorong agar Festival Bambu Gintangan bisa ditingkatkan ke level yang lebih tinggi. Setelah beberapa kali terselenggara, kegiatan ini perlu didorong agar bisa menjadi event nasional, bahkan internasional.
”Antusiasme masyarakat luar biasa, tinggal kita kemas lebih meriah dengan tambahan musik dan kesenian lokal agar semakin hidup,” katanya.
Asisten III Bidang Perekonomian dan Pembangunan Pemkab Banyuwangi, Dwi Yanto menyampaikan dukungan penuh terhadap penyelenggaraan FBG. Pemkab siap mendorong agar festival ini tidak hanya menjadi agenda budaya daerah, tetapi juga mampu menembus level nasional bahkan internasional.
“Banyuwangi sudah punya banyak event besar, dan FBG bisa menjadi salah satu yang membanggakan. Kami mendukung penuh agar festival ini bisa terus berkembang, tidak hanya dikenal di tingkat kabupaten, tetapi juga menjadi festival berskala nasional bahkan internasional,” ungkapnya. (cw5-Dalila Adinda/aif)
Editor : Ali Sodiqin