RADARBANYUWANGI.ID - Karnaval budaya tingkat SD/MI yang digelar Pemerintah Kecamatan Genteng, membuat jalanan di pusat Kota Genteng macet total, Senin (25/8).
Para peserta berjalan memenuhi badan jalan hingga tidak menyisakan kendaraan, termasuk roda dua.
Kemacetan sangat parah di Jalan KH Hasyim Asyari, Desa Genteng Wetan, Kecamatan Genteng. Di jalan ini semua kendaraan harus berhenti cukup lama.
Yang membuat pengguna marah, peserta SD dari Gugus Desa Genteng Wetan, malah berhanti.
“Menunggu peserta di belakang,” cetus salah satu pendamping peserta karnaval.
Kekecewaan pengguna jalan semakin meningkat saat peserta yang mulanya hanya berhenti itu, ternyata oleh guru pendamping malah diminta duduk-duduk di jalan sambil istirahat.
“Kenapa malah duduk-duduk, peserta yang depan sudah jalan,” protes salah satu pengguna jalan.
Kemacetan di jalan utama di Kota Genteng, ini sudah biasa setiap karnaval yang digelar memperingati hari Kemerdekaan digelar.
“Macetnya luar biasa, mau lewat harus pintar-pintar cari jalur alternatif,” kata Edhi Wijaya, warga Kecamatan Glenmore.
Edhi mengaku terjebak macet saat perjalanan pulang dari Kecamatan Srono menuju Glenmore.
“Di pertigaan (simpang tiga traffic light) Genteng Wetan, jalan sudah ditutup. Tapi saya bisa lewat, sampai pasar ternyata macetnya luar biasa, banyak pemotor yang masuk barisan,” terangnya.
Keruwetan itu, terang dia, diperparah dengan jalannya peserta yang lamban. Padahal finish itu cukup jauh, yakni di Perum Bulog, Desa Genteng Wetan.
“Banyak peserta itu duduk-duduk, mungkin karena capek juga. Apalagi ini menggunakan seluruh badan jalan,” katanya.
Dari pantauan Jawa Pos Radar Genteng, risiko kecelakaan memang sangat besar. Antrean kendaraan baik sepeda motor dan mobil mengular tepat dibelakang peserta.
Kesalahan sedikit seperti salah injak pedal gas mobil bisa membahayakan peserta.
“Sebenarnya sudah dikawal, peserta yang duduk-duduk juga diminta cepat bergerak agar tidak macet,” kata salah satu panitia Agustusan Kecamatan Genteng, Eko Priyono.
Menurut Eko, baik panitia maupun kepolisian selalu proaktif mengawal para peserta agar tidak kemalaman sampai finish. Terlebihpeserta itu kategori anak-anak.
“Sayangnya itu peserta ke dua ada yang terlalu lama, tapi pukul 16,00 sudah masuk finish itu sudah bagus,” pungkasnya
Editor : Agung Sedana