RADARBANYUWANGI.ID – Tradisi Rebo Wekasan kembali menjadi sorotan. Tahun ini, Rebo Wekasan jatuh pada Rabu, 20 Agustus 2025, bertepatan dengan 25 Safar 1447 H.
Momen ini diyakini sebagian umat Islam sebagai waktu turunnya bencana, sehingga masyarakat Jawa Tengah, Yogyakarta, hingga sebagian Jawa Timur menggelar amalan khusus untuk tolak bala.
Baca Juga: Rangkaian Rebo Wekasan di Banyuwangi, Tradisi Tolak Bala yang Kaya Makna
Rebo Wekasan sendiri dipahami sebagai hari Rabu terakhir di bulan Safar.
Menukil kitab Kanzun Najah was Surur karya Syekh Abdul Hamid Khudus, disebutkan bahwa pada hari itu Allah SWT menurunkan ratusan ribu musibah ke bumi.
Keyakinan inilah yang kemudian melahirkan tradisi amalan Rebo Wekasan di kalangan muslim Nusantara.
Baca Juga: Kenapa Rebo Wekasan Disebut Hari Turunnya Bala? Ini Penjelasan Sejarahnya
Namun, pandangan ini tidak sepenuhnya disepakati. Dalam buku 1001 Hal yang Paling Sering Ditanyakan tentang Islam karya Abu Muslim, ditegaskan tidak ada nash Al-Qur’an maupun hadits yang menyebutkan khusus tentang turunnya bencana pada Rabu terakhir bulan Safar.
Bahkan Rasulullah SAW menegaskan dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim, bahwa tidak ada kesialan di bulan Safar.
Meski begitu, tradisi Rebo Wekasan tetap lestari sebagai wujud syukur kepada Allah sekaligus doa agar dijauhkan dari marabahaya. Beberapa amalan yang lazim dikerjakan antara lain:
Baca Juga: Rebo Wekasan: Tradisi Rabu Terakhir Safar yang Kini Dihidupkan Generasi Muda dengan Cara Kreatif
-
Sholat Rebo Wekasan – dilaksanakan dua kali salam, masing-masing dua rakaat, dengan niat sholat sunnah mutlak memohon perlindungan Allah.
-
Membaca Doa Tolak Bala – doa khusus yang memohon keselamatan dunia akhirat dan dijauhkan dari bencana.
-
Pembacaan Sholawat Barzanji – lantunan sholawat sebagai bentuk mahabbah kepada Rasulullah SAW.
Terlepas dari perbedaan pandangan, Rebo Wekasan menjadi bukti bahwa tradisi Islam Nusantara masih terjaga hingga kini. Wallahu a’lam. (*)
Editor : Ali Sodiqin