Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Tradisi Larangan Keluar Rumah Selepas Magrib di Dusun Popongan, Tetap Terjaga Hingga Kini!

Tim Redaksi Radar Banyuwangi • Sabtu, 16 Agustus 2025 | 13:30 WIB
ILUSTRASI larangan keluar rumah selepas Magrib masih terjaga di Dusun Popongan.
ILUSTRASI larangan keluar rumah selepas Magrib masih terjaga di Dusun Popongan.

RADARBANYUWANGI.ID - Selain khitanan massal, warga Dusun Popongan, Desa Benelan Lor, Kecamatan Kabat, Banyuwangi, punya tradisi unik lainya, yaitu larangan keluar rumah atau bertamu setelah magrib.

Tradisi ini awalnya berakar dari kepercayaan leluhur bahwa waktu petang adalah saat sakral, lalu dipadukan dengan nilai-nilai Islam yang kuat di masyarakat.

Menjelang senja, suara azan magrib berkumandang. Satu per satu warga Dusun Popongan bergegas kembali ke rumah.

Anak-anak yang sedari sore bermain layangan atau sepak bola segera membubarkan diri.

Tak lama kemudian, suasana dusun berubah hening. Lampu-lampu rumah menyala, pintu tertutup rapat, dan nyaris tak ada orang yang melintas di jalan desa.

Di Dusun Popongan, larangan keluar rumah setelah magrib bukan sekadar kebetulan, tapi sudah menjadi tradisi turun-temurun.

Menurut penuturan Fuad Hasyim, salah satu sesepuh dusun, tradisi ini dulunya dipromotori oleh tokoh dusun bernama almarhum Mbah Guru Yasin.

Tradisi ini dilestarikan untuk melindungi anak-anak yang sering berkeliaran pada senja.

“Dulu, selepas magrib dianggap waktu sakral. Orang tua bilang, jangan keluar rumah karena saat itu adalah waktunya makhluk gaib berkeliaran. Tapi bukan hanya soal mistis, ini juga soal sopan santun,” ujarnya sambil tersenyum.

Selain dilatarbelakangi petuah leluhur, larangan ini juga dipengaruhi oleh atmosfer budaya Islam yang mengakar kuat di Dusun Popongan.

Waktu petang dimaknai sebagai momen untuk melepas urusan duniawi dan beralih pada kegiatan yang mendekatkan diri kepada Tuhan.

“Jadi warga di sini sudah terbiasa untuk tidak bercengkerama setelah magrib ataupun menerima tamu. Bahasa Osingnya disebut cumpleng, bahkan toko saja tutup. Kecuali jika ada tahlilan atau kegiatan yang sifatnya ibadah,” ungkap Fuad yang juga sebagai guru ngaji di salah satu pondok pesantren setempat.

Kebiasaan ini membuat suasana dusun selepas magrib menjadi hening. Hanya terdengar lantunan tadarus dari musala dan rumah-rumah. Bagi warga, inilah waktu paling damai dalam sehari.

Kepercayaan ini berkembang menjadi aturan tak tertulis yang disepakati warga. Selepas magrib, waktu diprioritaskan untuk berkumpul bersama keluarga.

Makan malam, beribadah, dan beristirahat. Bertamu pada jam ini dianggap kurang pantas kecuali untuk urusan penting.

Meski berakar pada kepercayaan lama, larangan ini juga punya manfaat sosial yang nyata.

Yuni, salah satu warga Dusun Popongan, menuturkan, aturan tersebut menjadikan dusun menjadi lebih tertib dan aman.

“Anak-anak jadi tahu waktu, tidak keluyuran sampai malam. Orang tua juga lebih tenang, apalagi kalau rumah-rumah di sini saling berdekatan,” kata Yuni.

Meski perkembangan zaman telah mengubah gaya hidup masyarakat, tradisi ini tetap bertahan.

Generasi muda yang akrab dengan gawai dan media sosial pun masih mematuhi aturan tersebut.

Aktivitas di luar rumah selepas magrib diganti dengan belajar, mengaji atau sekadar bercengkerama bersama keluarga.

Rina, remaja setempat berusia 17 tahun, mengaku pernah merasa bosan dengan aturan ini.

“Dulu waktu kecil rasanya kok nggak boleh main terus. Tapi lama-lama paham, ternyata enak juga. Jadi punya waktu ngobrol sama orang tua, bantu ibu di dapur,” katanya.

Bagi warga Popongan, larangan ini bukan sekadar membatasi gerak, tetapi juga menjaga nilai-nilai kebersamaan.

Selepas magrib adalah saat semua anggota keluarga berada di rumah, berkumpul di ruang tamu atau meja makan.

Momen ini memperkuat ikatan, membangun komunikasi, dan mencegah jarak antaranggota keluarga.

Para tetua desa berharap tradisi ini terus dijaga meski zaman berubah. Bagi mereka, ini adalah warisan leluhur yang mengandung banyak kebaikan, baik dari sisi spiritual, sosial, maupun moral.

“Sekarang alasannya bisa lebih modern supaya aman, supaya anak-anak tidak terpapar hal negatif di luar. Tapi intinya sama, waktu Magrib adalah untuk keluarga,” kata Fuad menutup perbincangan.

Dan benar saja, malam pun tiba di Dusun Popongan. Jalanan gelap tanpa aktivitas, hanya suara jangkrik dan semilir angin yang terdengar.

Di balik keheningan itu, ada sebuah kearifan lokal yang terus hidup mengajarkan bahwa di tengah hiruk pikuk dunia luar, rumah dan keluarga tetap menjadi tempat terbaik untuk kembali. (cw5-Dalila Adinda/aif)

Editor : Ali Sodiqin
#keluar rumah #larangan #banyuwangi