RADARBANYUWANGI.ID - Khitanan massal di Dusun Popongan, Desa Benelan Lor, Kecamatan Kabat, Banyuwangi, merupakan warisan yang menyatukan warga lewat gotong royong dan rasa syukur.
Lebih dari sekadar tradisi, khitan massal menjadi identitas desa yang diyakini akan terus hidup selama semangat kebersamaan tetap terjaga.
Sekitar 20 menit perjalanan dari pusat kota Banyuwangi, terdapat sebuah desa yang sampai sekarang tetap teguh menjaga tradisi tuanya.
Ya, warga Dusun Popongan, Desa Benelan Lor, Kecamatan Kabat, masih melestarikan tradisi unik yang lahir dari semangat kebersamaan dan gotong royong.
Tradisi khitanan massal sekaligus menjadi jawaban untuk menghapus kebiasaan lama yang kurang baik, berjudi saat hajatan.
Di teras Masjid Popongan, Fuad Hasyim, ketua panitia khitanan massal, duduk santai sambil mengingat awal mula tradisi ini.
Senyumnya mengembang setiap kali mengenang bagaimana kegiatan yang sederhana ini bertahan selama puluhan tahun.
“Kalau dihitung, tradisi ini sudah berusia pitung puluh pitu (77 tahun). Sejak awal kemerdekaan, bahkan sebelum desa ini punya listrik, acara ini sudah ada,” ungkapnya.
Bagi warga Popongan, khitanan massal bukan sekadar ritual medis bagi anak laki-laki. Ini adalah perayaan besar yang menyatukan semua lapisan masyarakat.
Ceritanya dimulai dari masa ketika hajatan khitanan identik dengan keramaian, musik, dan permainan kartu.
”Saat itu, para lelaki kerap menghabiskan waktu berjudi kecil-kecilan di sela acara. Lama-kelamaan, kebiasaan ini menimbulkan keresahan,’’ kata Fuad.
Seorang tokoh masyarakat, KH Asmuni, kemudian mengambil langkah tegas. Ia menggagas khitanan massal yang dikelola secara bersama-sama dengan tujuan menghapus perjudian dan menggantinya dengan kegiatan positif.
“Tujuannya sederhana, anak-anak yang sudah waktunya disunat, dikhitan bersama-sama. Semua biaya ditanggung dan acara dibuat meriah dengan cara yang benar,” ungkap Fuad.
Sejak saat itulah, setiap anak yang ikut khitanan massal mendapat perlengkapan komplit seperti sandal, baju, celana, sarung, hingga uang saku.
Semua kebutuhan, mulai dari proses medis hingga selamatan, ditanggung pengurus. Tidak ada biaya sepeser pun yang dibebankan ke keluarga peserta khitan.
Tradisi ini semakin semarak karena selalu dirangkai dengan ider bumi, prosesi keliling kampung pada malam sebelum acara dimulai.
Warga membawa hasil bumi seperti padi, buah, dan sayuran untuk dibagikan sebagai tanda syukur.
“Dulu arak-arakannya kecil, ada musik, doa bersama, semua orang ikut. Suasananya ramai sekali,” kenang Fuad.
Pelaksanaannya selalu bertepatan dengan bulan Syawal, tepat di tanggal 9, 10, dan 11. Tanggal ini sudah seperti kesepakatan tak tertulis.
Semua warga tahu dan bersiap. Bagi warga, Syawal adalah waktu terbaik untuk bersyukur dan berbagi berkah.
Namun, di balik kemeriahan itu, penyelenggaraannya bukan perkara mudah. Semua biaya diambil dari kas pengurus dan donasi warga, baik yang tinggal di desa maupun yang merantau.
“Kami ingin memastikan semua anak bisa disunat tanpa membebani orang tua. Ini ibadah sekaligus menjaga warisan,” tegas Fuad yang juga seorang guru ngaji di pondok pesantren setempat.
Peserta khitanan massal tiap tahun bervariasi. Kadang hanya belasan, kadang sampai puluhan anak.
Tahun lalu, ada 20 peserta. Jumlahnya boleh berubah, tapi semangat gotong royong warga tak pernah surut.
Bahkan, ada aturan tak tertulis, apabila ada warga yang memilih mengadakan khitanan sendiri di luar tradisi ini, masyarakat enggan datang.
“Pernah ada yang melakukannya dan tidak ada yang hadir. Bukan marah, tapi itu cara kami menjaga kekompakan,” ujar Fuad.
Puncak acara selalu menjadi momen yang paling ditunggu. Sebelum proses khitan, para peserta diarak keliling kampung.
Mereka mengenakan pakaian baru, tersenyum malu-malu meski beberapa masih meringis terpaksa karena takut.
Warga menyambut mereka dengan doa dan tepuk tangan, seolah mengantar anak-anak itu memasuki babak baru kehidupannya.
Seiring waktu, tradisi khitanan massal ini menjadi identitas kampung. Bukan hanya karena usianya yang panjang, tapi karena makna yang terkandung di dalamnya. Kebersamaan, saling membantu, dan menjaga warisan leluhur.
“Selama kita mau gotong royong, insyaallah khitanan massal ini akan terus ada. Tidak peduli zaman sudah berubah seperti apa,” tutup Fuad dengan penuh keyakinan. (cw5-Dalila Adinda/aif)
Editor : Ali Sodiqin