RADARBANYUWANGI.ID – Rebo Wekasan adalah tradisi yang masih dijalankan oleh sebagian masyarakat Indonesia, terutama di Jawa, Madura, dan beberapa wilayah Sumatera.
Perayaan ini jatuh pada hari Rabu terakhir di bulan Safar menurut kalender Hijriah, yang diyakini sebagai waktu turunnya bala atau musibah.
Sejarah Rebo Wekasan berakar dari perpaduan ajaran Islam dan kearifan lokal. Dalam kepercayaan sebagian umat, hari ini disebut-sebut sebagai waktu ketika Allah menurunkan banyak ujian ke bumi.
Untuk menghindari bala tersebut, masyarakat menggelar doa bersama, pembacaan surat Yasin sebanyak tiga kali, dan shalat sunah khusus.
Tradisi ini diperkirakan mulai dikenal di Nusantara bersamaan dengan masuknya Islam pada abad ke-15 hingga 16.
Para ulama penyebar agama, seperti Sunan Kalijaga, mengemas ajaran dari Timur Tengah dalam bentuk yang sesuai dengan budaya lokal, sehingga lebih mudah diterima oleh masyarakat.
Di beberapa daerah pesisir, Rebo Wekasan dilakukan dengan larung sesaji, perahu dihias, membawa tumpeng, buah, dan bunga, lalu dilarung ke laut. Ritual ini dipercaya sebagai doa keselamatan bagi nelayan dan penolak badai.
Sementara di pedalaman, bentuknya lebih sederhana: doa bersama di masjid atau surau, kemudian makan bersama.
Meski tidak ada dalil kuat dari hadis sahih, tradisi ini terus hidup sebagai warisan budaya. Sebagian ulama menolak dengan alasan bid’ah, sementara yang lain melihatnya sebagai kebiasaan baik (urf) selama tidak bertentangan dengan syariat.
Bagi masyarakat, Rebo Wekasan bukan sekadar menolak bala, tetapi juga menjadi momen mempererat silaturahmi, berbagi makanan, dan menghidupkan nilai kebersamaan.
Hingga kini, gema Rebo Wekasan tetap terdengar dari desa pesisir hingga kampung pegunungan—mengajarkan bahwa dalam setiap ritual ada pesan universal: memohon keselamatan dan menjaga harmoni sosial.
Penulis: Devi Fathihatul Asliha | magang jurnalistik Radar Banyuwangi
Ikuti terus berita ter-update Radar Banyuwangi di Google News
Editor : Ali Sodiqin