RADARBANYUWANGI.ID – Buat kalian yang lahir di lingkungan masyarakat Jawa, saat kerabat dekat atau tetangga kalian melahirkan, pasti sudah tidak asing lagi dengan dua tradisi penting yang tidak boleh dilewatkan setelahnya.
Namanya Mendhem Ari-Ari dan Brokohan. Dua prosesi ini jadi bentuk rasa syukur sekaligus simbol harapan besar untuk si bayi yang baru lahir. Yuk kita bahas satu per satu!
Tradisi Mendhem Ari-Ari
Ari-ari bukan sekadar sisa kelahiran. Bagi masyarakat Jawa, ari-ari (plasenta) adalah 'saudara kembar' sang bayi yang harus diperlakukan dengan hormat. Makanya, ari-ari dikubur secara khusus oleh sang ayah.
Ari-ari dimasukkan ke dalam kendil, bersama aneka simbol, kain mori, garam, jarum-benang, kertas beraksara Jawa-Latin-Arab, bunga, hingga uang logam dan bahan makanan.
Tidak sembarangan, ternyata semua isi kendil ini memiliki makna serta simbol tersendiri. Mari kita bahas!
- Garam, beras, kemiri, gereh pethek berarti harapan anak bisa mencukupi pangan.
- Jarum & benang berarti sandang atau baju untuk jabang bayi.
- Kertas tiga aksara yang memiliki arti betapa pentingnya ilmu dalam kehidupan.
- Uang logam: pandai mencari rezeki.
Setelah kendi yang berisi 4 perkara di kehidupan ini dikubur, lampu dinyalakan di atas kuburannya selama 35 hari (selapan), sebagai simbol penerang hidup si kecil.
Tradisi Brokohan
Kalau ini tandanya bayi sudah lahir. Sederhana nya tradisi Brokohan adalah cara keluarga mengabarkan kabar gembira ke tetangga.
Kata 'brokohan' berasal dari kata 'barokah', artinya berkah yang artinya ungkapan syukur keluarga yang baru saja dikaruniai titipan besar dari Allah SWT..
Baca Juga: Libur Agustus Bertambah! Ada Dua Tanggal Merah Berturut-turut di Pertengahan Bulan
Selain syukuran, ini juga jadi momen bagi keluarga untuk menyebar doa dan harapan baik kepada sang bayi.
Apa saja sih isi dari brokohan? Cukup sederhanya namun penuh makna. Ada 6 macam yakni:
- Jenang tujuh macam sebagai simbol orang tua dan rezeki.
- Kelapa belah dua.
- Telur ayam kampung.
- Gula jawa.
- Kembang sritaman.
- Dawet lengkap dengan santan dan juruh.
Semua ini akan didoakan dan dibagikan ke kerabat dan tetangga. Jumlah sesaji dibagikan sesuai hitungan hari lahir dan pasaran sang bayi.
Contoh: lahir Senin Wage = 4 + 4 = 8 set sesaji.
Masing-masing terdiri dari dawet, telur, kelapa, gula jawa, dan bunga. (*)
Ikuti terus berita ter-update Radar Banyuwangi di Google News
Editor : Lugas Rumpakaadi