Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Menguak Misteri Puasa Mutih: Warisan Leluhur Jawa yang Kian Diburu di Zaman Modern

Bayu Shaputra • Kamis, 31 Juli 2025 | 14:35 WIB
Seorang wanita sedang menjalani puasa mutih, dengan hanya memakan nasi tanpa lauk dan air putih.
Seorang wanita sedang menjalani puasa mutih, dengan hanya memakan nasi tanpa lauk dan air putih.

RADARBANYUWANGI.ID - Dalam derasnya arus modernisasi, tak sedikit tradisi lama yang tergerus zaman.

Namun di tengah gegap gempita kehidupan digital, satu amalan spiritual kuno khas Jawa justru mulai kembali dilirik: puasa mutih.

Puasa yang dahulu dijalani para resi dan spiritualis Jawa ini kini menjelma menjadi bentuk detoks jiwa dan ritual keseimbangan batin bagi mereka yang jenuh dengan hiruk-pikuk dunia modern. Lalu, apa sebenarnya puasa mutih itu?

Hanya Nasi Putih dan Air Tawar, Demi Jiwa yang “Putih”

Puasa mutih berasal dari kata “mutih” dalam bahasa Jawa yang berarti putih atau bersih.

Praktiknya sederhana, namun dampaknya mendalam: hanya makan nasi putih polos tanpa garam, gula, atau lauk, dan minum air putih, selama jangka waktu tertentu.

Berbeda dengan puasa biasa yang menahan makan dan minum di waktu tertentu, puasa mutih masih memperbolehkan konsumsi—namun sangat terbatas.

Dalam versi yang lebih ekstrem, hanya air putih yang diperkenankan. Tujuannya bukan sekadar menahan lapar, tetapi menyucikan batin dan mengasah kepekaan spiritual.

Tak Hanya Bertapa: Mutih untuk Cinta, Karier, hingga Kesembuhan

Puasa mutih bukan sekadar tradisi turun-temurun. Di balik kesederhanaannya, ritual ini sarat makna. Banyak masyarakat Jawa menjalani mutih saat:

Tak heran jika puasa ini dijalani selama 3 hari, 7 hari, bahkan 40 hari, tergantung niat dan keteguhan pelaksana.

Dari Resi Hindu-Buddha hingga Ulama Kejawen

Akar puasa mutih bisa ditelusuri sejak era kerajaan Hindu-Buddha di Jawa. Kala itu, para resiguru dan pertapa menjalaninya untuk meraih kesempurnaan batin dan ilmu sejati.

Ketika Islam masuk, mutih tetap dilestarikan—namun diselaraskan dengan nilai-nilai Islam, khususnya dalam tarekat dan tradisi Kejawen.

Naskah kuno Jawa, seperti Serat Centhini dan Primbon Jawa, menyebut puasa mutih sebagai bagian dari tapa brata—ritual berat yang dijalani untuk membersihkan diri dari dosa dan mendekat kepada Sang Pencipta.

Dari Relik Masa Silam Menjadi Tren Spiritual Modern

Meski terkesan kuno, puasa mutih kini mulai menarik perhatian generasi muda urban. Di tengah stres dan tekanan pekerjaan, banyak yang mencari jalan alternatif untuk menenangkan pikiran—dan puasa mutih menjadi jawabannya.

Tak sedikit pula yang melihat puasa ini sebagai bentuk detoks alami, lantaran pola makan yang bersih dan tanpa zat tambahan.

Lestari atau Hilang? Kembali ke Niat Hati

Meski tak sepopuler dulu, puasa mutih masih hidup. Diam-diam, banyak pelakunya. Baik di desa maupun kota.

Tradisi ini mungkin tak disorot, namun ia tetap ada—berjalan seiring waktu. ***


Ikuti terus berita ter-update Radar Banyuwangi di Google News

Editor : Ali Sodiqin
#puasa mutih