Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Bukan Sekadar Lapar! Ini Rahasia Puasa Kejawen yang Bisa Buka Pintu Spiritual dan Energi Positif

Bayu Shaputra • Kamis, 31 Juli 2025 | 15:45 WIB
Seorang wanita Jawa sedang memakan nasi putih tanpa lauk.
Seorang wanita Jawa sedang memakan nasi putih tanpa lauk.

RADARBANYUWANGI.ID - Puasa ternyata tak melulu soal menahan lapar dan haus. Di balik tradisi spiritual Kejawen, tersimpan berbagai ritual puasa kuno yang dipercaya bisa membuka kesadaran diri, memperkuat energi batin, hingga mendekatkan diri pada Sang Pencipta.

Tak main-main, tradisi ini telah diwariskan turun-temurun oleh leluhur Jawa dan masih dijalankan oleh sebagian masyarakat hingga kini.

Puasa Mutih: Membersihkan Jiwa Lewat Kesederhanaan

Pernah dengar orang hanya makan nasi putih dan minum air putih saja? Itulah puasa mutih. Praktik ini melambangkan penyucian batin lewat kesederhanaan ekstrem.

Warna putih dalam filosofi Jawa menggambarkan kemurnian hati, kejujuran, dan niat suci. Dengan menjauh dari rasa dan kenikmatan duniawi, pikiran dianggap lebih jernih, hati lebih lapang, dan koneksi spiritual lebih kuat.

Durasinya pun tak main-main—bisa tujuh hingga empat puluh hari, tergantung tujuan puasa dan kedalaman spiritual si pelaku.

Puasa Ngebleng: Tirakat Hening, Kekosongan Penuh Makna

Ini adalah puasa level lanjutan. Disebut ngebleng, ritual ini bukan hanya menahan makan dan minum dari subuh ke maghrib, tapi juga dilakukan dalam keheningan total, sering di tempat sunyi seperti gua atau makam leluhur.

Makna "ngebleng" sendiri berarti kosong. Tapi dalam kejawen, kekosongan adalah jalan menuju pencerahan. Saat tubuh dilanda lapar dan dunia ditinggalkan sejenak, di situlah kesadaran baru bisa tumbuh.

Puasa Ngrowot: Stop Interaksi, Mulai Introspeksi

Berbeda dari puasa biasa, puasa ngrowot menahan bukan cuma makanan, tapi juga aktivitas sosial dan duniawi.

Hiburan? Skip. Nongkrong? Off. Bahkan bicara pun dibatasi. Tujuannya jelas: menjernihkan batin, memahami diri, dan membuka pintu kesadaran lewat keheningan serta pengamatan dalam diri.

Puasa Patigeni, Weton, Daud dan Lainnya: Jalan Sunyi Penuh Makna

Beberapa jenis puasa lain dalam tradisi Kejawen juga tak kalah sakral dan unik:

Manunggaling Kawula Gusti: Tujuan Akhir yang Sakral

Tujuan akhir dari semua puasa ini bukan sekadar spiritual tinggi-tinggian. Tapi penyatuan antara manusia dan Sang Pencipta atau dikenal dengan istilah “manunggaling kawula Gusti”.

Dengan membatasi tubuh, manusia diajak masuk lebih dalam ke alam rasa dan nurani, sebuah wilayah yang selama ini kerap terabaikan oleh rutinitas dunia.

Spiritual Bukan Tren, Tapi Warisan

Puasa dalam kejawen bukan cuma praktik. Ia adalah warisan budaya luhur yang mengajarkan kesadaran, ketekunan, dan kedekatan spiritual.

Dalam dunia yang makin bising dan cepat ini, tradisi seperti ini bisa jadi jalan sunyi penuh makna. ***


Editor : Ali Sodiqin
#Ragam puasa dalam Kejawen #puasa mutih #warisan #tradisi