RADARBANYUWANGI.ID – Di sebuah desa di Kabupaten Semarang terdapat tradisi tahunan yang tidak biasa. Di Desa Sendang, warga rela kotor-kotoran di lumpur, bahkan saling lempar-lemparan!
Tapi jangan salah, ini bukan tawuran, ini Tradisi Popokan, simbol syukur dan pembersihan diri
Popokan adalah tradisi leluhur yang hidup turun-temurun di Desa Sendang. Digelar setiap akhir panen kedua, biasanya Agustus-September di hari Jumat Kliwon.
Setiap tradisi ada tujuan serta makna, popokan ini diadakan untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Tradisi ini juga sebagai bentuk penyucian diri lahir dan batin.
Asal Usul Singkat Tradisi Popokan - Berasal dari cerita Mbah Janeb dan seekor harimau.
Konon, di desa ini dulunya sering dihantui oleh harimau buas. Warga panik, lalu meminta bantuan Mbah Janeb, tokoh pembuka desa.
Ajaibnya, Mbah Janeb mengusir harimau itu bukan dengan senjata, tapi dengan bekatul (dedak, pakan unggas) yang dilempar ke arah sang harimau. Harimau pergi, desa pun selamat.
Sejak itu, melempar bekatul diubah jadi lempar lumpur, dan dikenang tiap tahun lewat tradisi Popokan.
Acara popokan ini nggak hanya sekedar lempar-lemparan lumpur saja, tetapi ada serangkaian acara sebelum memulainya.
Ini dia urutan acara popokan lengkap dengan rincian kegiatannya:
1. Bersih-bersih Mata Air: Desa Sendang punya 7 mata air sakral, dan semua dibersihkan jelang acara.
2. Tumpengan Setiap keluarga bikin nasi tumpeng + urap: Simbol rasa syukur dan kebersamaan.
3. Kirab Budaya: Warga keliling desa dengan kesenian dan boneka harimau, simbol kisah Mbah Janeb.
4. Puncak Popokan: Warga turun ke sawah, saling lempar lumpur sambil tertawa gembira, oit tidak boleh ada yang marah saat dilempari lumpur.
Baca Juga: Cair Lagi! Bansos PKH, BPNT, dan Penebalan Bantuan Turun Lagi di Akhir Juli 2025
Upacara ini lebih dari sekadar tradisi, tetapi menanam rasa syukur, menghormati alam, juga melatih kesabaran dan pembersihan diri.
Bagian yang paling penting adalah untuk menjaga warisan leluhur agar tak punah serta mempererat solidaritas warga di Desa Sendang ini. (*)
Ikuti terus berita ter-update Radar Banyuwangi di Google News.
Editor : Agung Sedana