RADARBANYUWANGI.ID – Penahkah kalian mendengar atau menemui tradisi orang Jawa yang berjalan di bawah keranda jenazah?
Namanya Brobosan, dan ini bukan sekadar ritual biasa. Ada makna mendalam di baliknya. Yuk kenali lebih dekat tentang brobosan.
Brobosan berasal dari kata "brobos" yang berarti menembus, melewati, atau melalui.
Dalam tradisi ini, keluarga dekat almarhum akan berjalan di bawah keranda jenazah yang sedang diangkat, mondar-mandir sebanyak 7 kali, sebelum jenazah dibawa ke pemakaman.
Brobosan ini biasanya dilakukan sebagai bentuk penghormatan terakhir untuk almarhum di keluarga orang Suku Jawa.
Tujuannya untuk mengantar roh ke alam baka, selain itu juga untuk membantu keluarga yang ditinggal agar merelakan kepergian almarhum
Tradisi brobosan juga sebagai simbol harapan agar kebaikan almarhum bisa diteruskan oleh generasi berikutnya.
Brobosan bukan sekedar simbol duka, berikut maknanya yang menyentuh nilai spiritual serta emosional:
- Menguatkan hati keluarga yang ditinggal.
- Melambangkan ikatan terakhir antara yang hidup dan yang telah berpulang.
- Doa tanpa kata untuk perjalanan jiwa yang damai
Meski mulai jarang dijumpai, Brobosan masih dilakukan oleh masyarakat Jawa yang kuat memegang tradisi.
Namun, ada juga yang mulai meninggalkan karena tak semua ajaran agama mendukungnya. Setiap keluarga punya pilihan, dan semua kembali pada keyakinan masing-masing.
Brobosan merupakan bagian dari cara masyarakat Jawa dalam mengikhlaskan dan mendoakan. Bukan tentang mistis, tapi tentang makna, kenangan, dan penerimaan.
Sudah pernah melihat atau mengikuti tradisi ini saat kerabat kalian meninggal? (*)
Ikuti terus berita ter-update Radar Banyuwangi di Google News
Editor : Ali Sodiqin