RadarBanyuwangi.id – Watu Loso yang berada di salah satu puncak bukit di Dusun Krajan, Desa Alasmalang, Kecamatan Singojuruh, selama ini dikeramatkan oleh sebagian warga sekitar. Bila akan punya hajat seperti pernikahan atau khitanan, datang ke batu berukuran besar sambil membawa sesaji.
Malahan, upacara Kebo-keboan di Dusun Krajan, Desa Alasmalang, Kecamatan Singojuruh, tidak lepas dari keberadaan Watu Loso berupa batu pipih yang menyerupai keloso (tikar). “Batu Loso ini tempat semedinya Mbah Buyut Karti saat menerima wangsit untuk mengadakan Kebo-kebian,” terang keturunan Mbah Buyut Kardi yang ke-12, Restu Sumedi, 26.
Menurut Restu, ritual upacara adat Kebo-keboan yang diwariskan pada masyarakat Desa Alasmalang, bermula dari leluhurnya, Mbah Buyut Karti yang hidup sekitar tahun 1725. Mbah Buyut Karti semasa hidupnya dipercaya memiliki ilmu kesaktian, yang dapat digunakan mengusir makhluk halus. “Awal mulanya dari mabh buyut itu, beliau yang mbabat Desa Alasmalang,” katanya.
Awalnya, lanjut dia, masyarakat Desa Alasmalang terkena musibah atau pagebluk (bencana penyakit). Saat itu, semua hewan yang dipelihara, ketika malam sakit, paginya langsung mati. Ketika pagi sakit, sorenya langsung mati. “Bukan hanya hewan, manusia juga, kalau tanaman selalu gagal panen,” jelasnya.
Karena musibah terus melanda, terang dia, Mbah Buyut yang mempunyai kesaktian melakukan semedi di Watu Loso. Saat tirakatan itu, mendapatkan wangsit (bisikan makhluk haslus). “Bisikan itu menyatakan masyarakat disuruh menggelar selamatan kampung,” katanya.
Setelah bersemedi, masih kata Restu, Mbah Buyut Karti mengumpulkan masyarakat untuk menggelar selamatan kampung. Selamatan itu wujud syukur warga dengan mengarak manusia yang dihias menyerupai kerbau, sebagai simbol hewan setia membantu petani. “Awalnya kerbau asli, baru sekitar tahun 1950 diganti manusia berdandan kerbau,” terangnya seraya mengatakan semenjak diadakan ritual itu musibah di kampungnya hilang.
Upacara Kebo-keboan di Desa Alasmalang, lanjut dia, dilaksanakan setiap Sura. Sedangkan prosesi upacara adat Kebo-keboan di Desa Alasmalang tidak luput dari upacara ider bumi dan berkunjung ke empat tempat, yakni Watu Loso, Watu Gajah, Watu Karangan, dan Watu Nogo. “Semua batu ini ada di perbukitan, dan masih terawat hingga kini, semua didatangi saat ritual digelar,” katanya.
Restu menyampaikan, selain didatangi warga saat akan upacara ritual Kebo-keboan, di hari biasa Watu Loso juga banyak didatangi oleh masyarakat yang akan punya hajatan. “Banyak yang datang untuk berbagai keperluan,” terangnya.
Untuk warga yang akan punya hajatan, jelas dia, biasanya akan melangsungkan pernikahan atau khitanan. Mereka datang sambil membawa sesaji. “Intinya hajatan yang akan dilaksanakan bisa lancar tanpa halangan,” ungkapnya.(cw3/abi)
Editor : Agus Baihaqi