RadarBanyuwangi.id – Ritual petik laut yang digelar para nelayan Muncar berlangsung meriah, Kamis (10/7). Tradisi yang digelar setiap 15 Suro sejak 1901 lalu itu, ditandai dengan melarung gitik yang berisi sesaji ke tengah laut.
Upacara ritual petik laut yang ke-124 ini, tampaknya berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani yang diharapkan hadir, ternyata hanya diwakili Kepala Dinas Perikanan (Disperik) Banyuwangi, Suryono Bintang Samudra. Pelepasan batuk yang menandai dimulainya larung gitik sesaji, dilakukan sekitar pukul 11.00. “Petik laut ini tradisi yang dilakukan setiap tahun,” terang Kepala (Disperik) Banyuwangi, Suryono Bintang Samudra.
Menurut Suryono, petik laut ini upacara tradisi yang digelar sebagai wujud syukur dari para nelayan dengan hasil tangkapan laut yang melimpah. Dengan ritual ini, diharapkan para nelayan bisa lebih sejahtera. “Semoga setelah diadakan acara ini, tangakapn nelayan bisa lebih banyak,” katanya saat melepas perahu gitik sesaji yang akan dilarung ke tengah laut.
Ketua panitia petik laut, Hasan Basri menyampaikan, tradisi ptik laut ini biasanya di laksanakan setiap 15 Suro. Tapi untuk tahun ini, trerpaksa diajukan pada 14 Suro. “Tanggal 15 Suro tahun ini jatuh pada Jumat, jadi kita ajukan sehari,” dalihnya.
Upacara petik laut yang diawali dengan serimonial di lokasi Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Pelabuhan Muncar, ini berlangsung meriah. Ribuan pengunjung tumplek blek di daerah pelabuhan ujung timur Pulau Jawa untuk itu untuk melihat ritual tahunan itu. “Setiap tahun pengunjung membeludak,”katanya.
Para pengunjung yang mulanya berkumpul di sekitar TPI, bergerak ke pantai saat perahu gitik akan dibawa ke laut. Dalam perahu itu, terang dia, ada hasil bumi, seperti pisang, padi, kelapa, sayur-sayuran, dan ayam. Yang harus ada dalam sesaji itu, kepala kambing kendit dengan ciri-ciri seluruh bulunya hitam, kecuali bagian perut yang harus ada glarit warna putih.
Itu memiliki simbol, warna hitam berarti kehidupan nelayan yang penuh kegelapan dan kekerasan. Untuk warna putih di tengah perut, memiliki filosofi penengah dari kehidupan nelayan yang penuh kekerasan. Kabag Humas Polrestas Banyuwangi, Kompol Toni mendapat kehormatan memasang pancing emas ke bibir kepala kambing yang akan dilarung,” ungkapnya.
Detik-detik perahu gitik berisi sesaji dibawa ke pantai setelah diberi pancing emas, sempat membuat suasana semakin panas. Para pengumjung berjubel untuk mendekat ke gitik sesaji. Setelah melalui lautan manusia, gitik sesaji akhirnya berhasil di Kapal Slerek Oplosan untuk selanjutnya dibawa ke tengah laut.
Puluhan kapal slerek dan perahu nelayan tampak mengiringi kapal slerek yang membawa gitik sesaji. Selama di laut, kapal dan perahu itu seperti balapan dan bersaing untuk bisa mendekati gitik sesaji. “Kalau petik laut ini para juragan kapal ikut bersama keluarganya,” terang Hasan Basri.
Suasana menegangkan sempat mewarnai saat kapal slerek yang membawa perahu gitik sesaji berhenti. Sejumlah kapal nelayan yang ikut dalam ritual ini, nyaris tabrakan karena berebut mendeklat. Usai didoakan sesepuh nelayan, gitik sesaji dijatuhkan ke laut. Nelayan banyak yang mencebur ke laut untuk berebut sesaji. “Para nelayan percaya mengambil sesaji itu akan mendapat berkah,”ungkapnya.
Tidak hanya berebut sesaji, lanjut dia, pemilik kapal dan para nelayan juga ada yang mengambil air laut di sekitar lokasi pelarungan menggunakan wadah. Air itu disiramkan di seluruh bagian kapal atau perahu. “Mereka percaya, mennyiram perahu menggunakan air yang dilewati pelarungan bisa tolak balak,” bebernya.(cw3/abi)
Editor : Agus Baihaqi