RADARBANYUWANGI.ID - Bulan Suro selalu punya cerita magis yang tak lekang oleh zaman, apalagi jika dikaitkan dengan Alas Purwo, hutan purba di ujung timur Pulau Jawa yang kental dengan mitos spiritual.
Bagi sebagian orang Jawa, menyepi ke Alas Purwo di Bulan Suro bukan hanya soal tirakat biasa. Banyak yang percaya, weton atau hari lahir seseorang bisa memengaruhi ‘keselarasan’ batin dengan alam gaib di sana.
Dalam tradisi kejawen, orang yang lahir dengan weton tertentu dianggap punya ‘pamor’ kuat sehingga cocok melakukan laku tapa brata atau ritual di Alas Purwo.
Umumnya, weton dengan neptu tinggi seperti Senin Legi, Jumat Kliwon, Rabu Pon, atau Minggu Wage dipercaya mudah ‘terbuka mata batinnya’.
Konon, mereka bisa berinteraksi dengan penjaga gaib Alas Purwo tanpa terganggu atau justru tersesat.
Selain neptu, watak bawaan weton juga dipertimbangkan. Orang yang wetonnya punya watak Lakuning Rembulan atau ‘watak seperti bulan’ biasanya mampu membawa ketenangan, tidak mudah panik, dan pandai meredam energi negatif.
Hal ini sangat penting karena di Bulan Suro, Alas Purwo sering ‘ramai’ dengan ribuan pertapa dan peziarah spiritual dari berbagai daerah.
Energi spiritualnya diyakini berlipat-lipat, sehingga butuh kesiapan batin yang matang.
Beberapa sesepuh adat bahkan menyarankan agar orang dengan weton ‘rawan’ seperti Selasa Pon atau Kamis Wage berhati-hati.
Sebab, weton tersebut sering dianggap ‘panas’ dan mudah bentrok dengan penghuni gaib.
Kalau memang nekat, biasanya orang-orang ini akan lebih dulu meminta restu spiritual dari guru atau orang tua yang paham tata cara laku tapa.
Meskipun demikian, kepercayaan ini kembali pada keyakinan masing-masing. Bagi yang sungguh ingin menepi ke Alas Purwo di Bulan Suro, niat hati yang bersih dan tujuan yang jelas lebih utama daripada sekadar cocok tidaknya weton.
Karena pada akhirnya, laku spiritual bukan hanya soal hitung-hitungan neptu, melainkan bagaimana manusia mampu menaklukkan dirinya sendiri.
Alas Purwo, dengan segala misteri dan keangkerannya, tetap menjadi ruang belajar bagi siapa saja yang ingin mendekat pada alam, pada leluhur, dan pada Sang Pencipta.
Namun selalu ingat, di balik rimbun pepohonan dan sunyi lorong-lorong gua, ada adat yang perlu dijaga. Ada pantangan yang tak boleh dilanggar. Dan ada rasa hormat yang tak boleh pudar.
Jadi, sebelum berangkat ke Alas Purwo di Bulan Suro, pahami dulu wetonmu. Siapa tahu, ‘pintu’ spiritualmu sudah terbuka lebar, tinggal bagaimana kau melangkah dengan hati yang bersih.
Editor : Agung Sedana