RADARBANYUWANGI.ID - Tak banyak yang tahu, di balik kisah kepemimpinan Soekarno dan Suharto, tersimpan fakta menarik soal weton Jawa yang dipercaya memengaruhi jalan hidup seseorang.
Entah takdir atau hanya kebetulan, namun dua tokoh besar ini lahir dengan neptu sama, yakni 15.
Bagi orang Jawa terutama golongan ningrat, angka ini bukan sekadar hitungan, tapi dipercaya sebagai weton Pamengkang Jagat atau pembuka jalan besar dengan pamor yang sulit ditandingi.
Soekarno Presiden RI Pertama
Soekarno lahir pada 6 Juni 1901, bertepatan dengan hari Kamis Wage. Dalam hitungan Jawa, Kamis punya nilai 8, Wage bernilai 7. Jika dijumlahkan, jadilah 15.
Angka ini diyakini memberi aura kharisma, daya tarik wicara, dan kemampuan menggerakkan massa.
Ini persis watak Bung Karno yang piawai membakar semangat jutaan orang hanya dengan pidato.
Bukan kebetulan jika Soekarno selalu tampil gagah dengan gestur tegas di depan rakyat.
Primbon menyebut neptu 15 juga membawa watak “cemerlang di muka umum”, tapi harus dijaga dengan kejujuran dan komitmen agar tidak berubah jadi senjata makan tuan.
Suharto Presiden RI Kedua
Menariknya, Presiden Suharto pun lahir dengan neptu sama. Suharto lahir 8 Juni 1921, hari Rabu Kliwon. Rabu bernilai 7, Kliwon bernilai 8. Totalnya lagi-lagi 15.
Dalam banyak versi Primbon, Rabu Kliwon dikaitkan dengan sosok keras hati, tapi tahan uji.
Jika Bung Karno dikenal dengan orasi berapi-api, Suharto justru memimpin dengan gaya dingin, penuh kalkulasi.
Namun sama seperti Bung Karno, Suharto pun berhasil memengaruhi jalannya negara puluhan tahun.
Bagi orang Jawa lama, ini bukti weton pamengkang jagat. Diyakini bahwa neptu 15 memang ‘berat’ dibawa, tapi bila bisa dikendalikan, pamornya memayungi banyak orang.
Neptu 15: Tanggung Jawab Pamor Besar
Weton dengan neptu 15 ini dipercaya selalu diperhatikan di mana pun dia berada.
Sisi baiknya, jika dijaga dengan niat luhur, pemilik neptu 15 bisa jadi pemimpin disegani, tak mudah dijatuhkan, dan punya nama harum sampai generasi berikutnya.
Namun, Primbon Jawa juga mengingatkan bahwa pamor besar berarti beban besar.
Kekuatan neptu 15 dapat berubah menjadi kutukan jika disalahgunakan untuk menindas atau berbuat semena-mena.
Inilah yang membuat orang tua Jawa dulu selalu menasihati anaknya “Wetonmu kudu dijaga tindak tanduke” (wetonmu harus dijaga perilakunya).
Hingga hari ini, nama Bung Karno tetap melegenda, disebut-sebut dalam pusaran politik hingga ke kampus-kampus.
Sementara Suharto, meski tak luput dari kontroversi, tetap diingat sebagai ‘Bapak Pembangunan’ yang merintis banyak infrastruktur.
Dua-duanya berbeda gaya, tapi sama-sama meninggalkan jejak sejarah yang membuktikan pamor besar memang benar-benar nyata.
Dan bagi masyarakat Jawa, angka 15 bukan sekadar angka. Ia jadi pengingat bahwa kharisma, pengaruh, dan kewibawaan bukan cuma soal bakat, tetapi soal bagaimana kita memikulnya dengan bijaksana.
Editor : Agung Sedana