Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Ritual Tolak Bala Tumpeng Kedawung Banyuwangi, Ribuan Takir Dipersembahkan untuk Warga

Zamrozi Wahyu • Sabtu, 28 Juni 2025 | 18:33 WIB

 

Masyarakat Kampung Kedawung, Dusun Krajan dan Dusun Sukodadi, Desa Sraten, Kecamatan Cluring mengarak tumpeng raksasa dan takir sewu dalam memperingati 1 Suro.
Masyarakat Kampung Kedawung, Dusun Krajan dan Dusun Sukodadi, Desa Sraten, Kecamatan Cluring mengarak tumpeng raksasa dan takir sewu dalam memperingati 1 Suro.

RADARBANYUWANGI.ID - Masyarakat Kampung Kedawung yang meliputi Dusun Krajan dan Dusun Sukodadi, Desa Sraten, Kecamatan Cluring, punya tradisi menarik dalam memperingati datangnya 1 Suro. Mereka menggelar kirab tumpeng dan takir sewu dengan keliling kampung, kemarin (27/6).

Dalam acara yang digelar rutin setiap tahun itu, warga menyiapkan gunungan atau tumpeng raksasa berukuran dua meter dan ribuan takir.

“Ada 12 tumpeng jumbo atau gunungan yang isinya hasil bumi, sekitar 500 tumpeng biasa, dan sekitar 2.000 takir,” kata panitia tumpeng dan takir sewu, Saifulloh.

Untuk ratusan tumpeng dan gunungan, kata dia, diarak keliling Kampung Kedawung dengan jarak sekitar 1,5 kilometer. Sedangkan ribuan takir disiapkan di depan pentas finish, atau tepatnya di depan Makam Prabu Tawang Alun.

“Semua tumpeng dan takir yang telah disiapkan warga dikhususkan untuk pengunjung, sedangkan warga sekitar tidak diperbolehkan mengambil,” katanya.

Kepala Desa Sraten, Arif Rahman Mulyadi, mengatakan kirab budaya tumpeng dan takir sewu ini digelar untuk tolak bala.

Selain itu, juga sebagai penanda adanya petilasan Prabu Tawang Alun yang ada di Desa Sraten.

“Kegiatan ini memang rutin digelar warga dan pemerintah desa saat 1 Muharram,” katanya.

Tradisi tumpeng sewu ini, lanjut dia, dilakukan sejak tahun 2015. Awalnya, perwakilan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Banyuwangi datang ke kampungnya untuk mencari makam Prabu Tawang Alun.

Warga bersiap mengambil takir sewu.
Warga bersiap mengambil takir sewu.

“Lalu ditunjukkan ke makam Prabu Tawang Alun yang berada di pemakaman umum Kedawung,” katanya.

Perwakilan Disbudpar itu, jelas dia, mengadakan ritual dengan membawa takir dan bunga sesajen.

Selanjutnya, bunga dan takir itu diletakkan di sekitar makam dan dibacakan doa. Jika saat pembacaan doa muncul api, maka di lokasi itu pernah terjadi sesuatu di masa lampau.

“Saat dilakukan ritual, muncul api setinggi dua meter yang membara layaknya kembang api,” ujarnya.

Ritual itu dilakukan berdasarkan petunjuk saat anggota kontingen ada yang kesurupan ketika mengikuti event budaya di tingkat Provinsi Jawa Timur.

Dalam acara budaya itu, kontingen ini membawa cerita kolosal berjudul Langit Mendung di Atas Kedawung, Prabu Tawang Alun.

“Saat kesurupan, kontingen itu menyatakan makam Prabu Tawang Alun berada di Kedawung, kemudian orang Disbudpar mendatangi lokasi ini,” terangnya.

Setelah peristiwa itu masyarakat Dusun Sukodadi, Desa Sraten semakin yakin makam tua yang ada di kampungnya itu adalah makam Prabu Tawang Alun, dan mengadakan kegiatan untuk mengenalkan makam Prabu Tawang Alun.

“Karena semakin yakin makam Prabu Tawang Alun berada di wilayahnya, masyarakat sekitar menggelar adat tumpeng dan takir sewu,” katanya.

 

Editor : Agung Sedana
#suro #Sraten #Kampung Kedawung #takir sewu #banyuwangi