RADARBANYUWANGI.ID - Bagi masyarakat Jawa, kelahiran bayi bukan sekadar peristiwa biologis.
Ia juga dianggap sebagai momen spiritual yang sakral, penuh makna, dan menyangkut hubungan antara alam lahir dan alam gaib.
Salah satu praktik penting yang dijalankan turun-temurun adalah memendam batur bayi, yang tak lain adalah ari-ari atau plasenta yang ikut keluar saat proses melahirkan.
Ari-ari bukan hanya dianggap limbah medis, tapi bagian dari sedulur papat limo pancer, yakni empat saudara gaib yang lahir bersama bayi.
Karena itu, ari-ari harus diperlakukan secara khusus, Salah satu caranya, dikubur dengan ritual tertentu, diiringi doa, dan diberi penerangan.
Apa Itu Batur Bayi?
Dalam budaya Jawa, "batur bayi" merujuk pada entitas atau bagian ruhani yang menyertai kelahiran bayi.
Ia bisa berupa ari-ari, air ketuban, darah, atau pusar yang memiliki posisi spiritual tersendiri. Konsep ini disebut sebagai sedulur papat limo pancer, yaitu:
- Kakang Kawah (air ketuban)
- Adi Ari-ari (plasenta)
- Getih (darah)
- Pusar (tali pusat)
- Pancer (roh utama manusia)
Empat yang pertama dianggap sebagai batur atau saudara gaib yang akan terus mengiringi hidup si bayi.
Karena itu, memendam batur bayi dilakukan dengan penuh tata cara agar tidak ada satu bagian pun dari kelahiran itu yang disepelekan.
Cara Memendam Ari-Ari (Batur Bayi)
1. Pembersihan
Sebaiknya ini dilakukan oleh si bapak kandung dari anak tersebut. Pertama, ari-ari dicuci bersih menggunakan air mengalir.
Ini mengingatkan bahwa segala bentuk kehidupan akan kembali padaNYA, semua ornamen di tubuh manusia berasal dari tanah. Maka harus kembali ke tanah juga dalam wujud yang bersih dan suci.
Baca Juga: Mitos Aneh Bulan Suro, Larangan Tidak Boleh Potong Rambut dan Kuku
2. Masukkan dalam kendi atau periuk tanah liat
Ari-ari kemudian dibungkus dengan kain kafan. Lalu dimasukkan ke dalam kendi, bersama beberapa benda simbolik sebagai perwujudan doa orang tua. Seperti;
- Kertas bertuliskan tangan huruf alphabet, huruf Hijaiyah, angka dan lain-lainnya.
- Bunga setaman (melati, mawar, kenanga)
- Garam dan kunyit (penangkal energi negatif)
- Benang dan jarum (simbol kehidupan sosial dan komunikasi)
- Uang receh (harapan rezeki)
Pensil atau pulpen (doa anak pintar)
3. Lokasi mengubur
- Kuburan ari-ari dibuat di dekat rumah.
- Sebelah kanan rumah untuk bayi laki-laki
- Sebelah kiri rumah untuk bayi perempuan
Kedalaman kubur sekitar satu hasta (lengan orang dewasa), lalu ditutup dengan keranjang bambu, sebagai pelindung dari hewan.
4. Diberi Penerangan
Di atas kubur itu, diletakkan lampu minyak atau bohlam kecil yang menyala setiap malam selama 7, 35, atau 40 hari.
Ini dilakukan sebagai penerang spiritual agar batur bayi tetap merasa dihormati dan tidak merasa kesepian.
Doa dan Bacaan Saat Memendam
Praktik ini biasanya dilakukan oleh ayah atau kakek dari bayi, dengan membacakan:
- Basmallah: Bismillahirrahmanirrahim
- Sholawat Nabi: Allahumma sholli 'ala Muhammad wa 'ala ali Muhammad
- Al-Fatihah: Sebagai pembuka dan penutup doa
Dalam logika kejawen, manusia tidak hidup sendiri. Sejak lahir, ia ditemani oleh saudara gaibnya, dan hanya dengan doa dan kesadaran, kita bisa hidup seimbang bersama mereka.
Disclaimer: Artikel ini disusun berdasarkan kepercayaan budaya dan tradisi masyarakat Jawa yang telah diwariskan secara turun-temurun. Informasi mengenai ritual batur bayi tidak dimaksudkan untuk mendorong praktik tertentu atau menggantikan panduan medis dan keagamaan yang resmi.
Pembaca diharapkan menyikapi isi artikel dengan bijak sebagai bagian dari kekayaan budaya lokal, bukan sebagai ajaran mutlak. Segala keputusan untuk mengikuti atau tidak mengikuti tradisi ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab masing-masing individu atau keluarga.
Editor : Agung Sedana