RADARBANYUWANGI.ID - Bulan Suro dan Muharram sering dianggap sama karena terjadinya juga di waktu yang bersamaan.
Namun, dibalik kesamaan penanggalannya ini, keduanya memiliki makna dan tradisi yang berbeda.
Bulan Suro merupakan istilah dalam kalender Jawa, sedangkan Muharram adalah bulan pertama dalam kalender Hijriyah Islam.
Berikut perbedaan antara bulan Suro dan Muharram:
Bulan Suro
1. Bulan suro ialah bulan pertama dalam kalender Jawa yang diadaptasi dari kalender Hijriyah.
Nama "Suro" berasal dari bahasa Arab yang berbunyi "Asyura", berarti hari kesepuluh di bulan Muharram.
Di Jawa, bulan suro punya makna mistis dan sakral, terutama bagi masyarakat yang masih memegang teguh tradisi leluhur di kejawen.
2. Keduanya dimulai setelah matahari terbenam (Maghrib), namun sistem penanggalan nya berbeda. Kalender Jawa bersifat lunisolar.
3. Bulan Suro diwarnai oleh berbagai ritual yang khas dengan budaya Jawa seperti tirakat, tapa bisu, nyepi dan larangan mengadakan pesta pernikahan.
Malam 1 Suro juga diyakini sebagai waktu yang sakral penuh energi spiritual.
Bulan Muharram
1. Bulan Muharram adalah bulan pertama dalam kalender Hijriyah yang memiliki status mulia dalam Islam.
Dalam Al-Qur'an, Muharram termasuk salah satu dari empat bulan haram, yakni bulan-bulan yang dimuliakan dan diharamkan untuk berperang.
2. Dengan sistem penanggalan yang berbeda ini, disebabkan oleh kalender Hijriyah murni berdasarkan peredaran bulan.
3. Muharram dalam islam diisi dengan puasa sunnah Tasua (9 Muharram) dan Asyura (10 Muharram).
Perbanyak doa, dzikir, sholawat dan juga amalan baik untuk mendapatkan pahala-Nya. Di bulan Muharram juga tidak ada larangan pernikahan atau pindah rumah sebagaimana di tradisi Jawa.
Persamaan dan Perbedaan Utama
Persamaannya, kedua bulan ini menandai awal tahun baru yang sama-sama dianggap suci dan sakral.
Namun, perbedaannya terletak pada nilai, Suro lebih menekankan tradisi budaya dan spiritualitas Jawa, sedangkan Muharram pada ibadah serta ajaran Islam. (*)
Editor : Agung Sedana