Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Kenapa Harus Begadang atau Melekan di Malam Satu Suro?

Agung Sedana • Selasa, 24 Juni 2025 | 22:00 WIB
Apa alasan orang harus begadang atau melekan saat malam satu suro?
Apa alasan orang harus begadang atau melekan saat malam satu suro?

RADARBANYUWANGI.ID - Ketika malam 1 Suro tiba, suasana di banyak desa Jawa berubah drastis. Bukan hanya karena kalender berganti ke tahun baru Islam, tapi karena malam itu dianggap malam keramat.

Yakni malam di mana langit terbuka, dunia gaib mendekat, dan tidur bisa jadi kesalahan besar.

Ya, inilah malam di mana banyak orang tua mewanti-wanti anak cucunya: “Aja turu neng malam Suro. Lek iso melek wae sak bengi!

Tapi apa sebenarnya makna dari begadang atau melekan di malam 1 Suro? Apakah ini sekadar ritual, atau ada pesan spiritual yang lebih dalam?

Malam Keramat: Bukan Sekadar Awal Tahun

Dalam kalender Jawa, 1 Suro tidak hanya menandai pergantian tahun. Ia adalah malam penyatuan antara waktu, ruh, dan energi alam.

Pada malam itu, langit dipercaya lebih peka terhadap doa, dan gerbang antara dunia manusia dan makhluk gaib terbuka lebih lebar dari biasanya.

Karena itulah, banyak orang tua melarang anak-anak untuk tidur di malam itu.

Mereka takut mimpi yang muncul bukan sekadar bunga tidur, tapi bentuk gangguan atau peringatan dari alam halus.

Tidur dalam keadaan tidak “eling” pada malam itu diyakini bisa membuat seseorang terseret dalam dimensi lain.

Melek Jadi Tirakat

Bagi para pelaku spiritual Kejawen, melek di malam Suro bukan sekadar menahan kantuk.

Ini adalah bentuk tirakat latihan batin, wujud pengendalian diri. Seseorang diajak untuk merenung, menahan nafsu untuk bersantai, dan mengganti waktu tidur dengan laku prihatin seperti:

Mereka percaya, siapa pun yang bisa melewati malam 1 Suro dalam keadaan sadar dan khusyuk, akan mendapatkan ketenangan batin dan perlindungan spiritual sepanjang tahun ke depan.

Waktu Favorit Makhluk Halus?

Banyak kisah mistis yang beredar soal malam 1 Suro.

Dari suara gamelan yang berbunyi sendiri, penampakan kereta kencana gaib, hingga orang-orang yang kerasukan saat ikut acara adat.

Bahkan dalam tradisi keraton Yogyakarta dan Solo, malam ini dianggap malam perjalanan roh leluhur, sehingga rakyat diminta untuk tenang, menjaga sikap, dan tidak tidur sembarangan.

Mereka yang tidur dalam keadaan tidak bersih atau sembarangan posisi, konon bisa “ditiduri” oleh makhluk halus, atau malah rohnya diajak pergi dan tidak kembali.

Sebuah Simbol: Jangan Lalai di Awal Tahun

Meski mitosnya terdengar menyeramkan, intisari dari larangan tidur ini sebenarnya sangat filosofis.

Di awal tahun, seseorang diharapkan lebih sadar, lebih waspada, dan tidak terlena.

Dengan begadang di malam Suro, seseorang diajak untuk mempersiapkan batinnya, menyambut waktu baru dengan doa, dengan pikiran jernih, bukan dengan tidur dan ketidaksadaran.

Hingga kini, banyak komunitas dan pesantren masih menghidupkan tradisi melekan di malam Suro.

Tidak sedikit pula masyarakat yang berkumpul mengadakan doa bersama, kirab budaya, atau tirakat pribadi di rumah masing-masing.

Meskipun zaman berubah, nilai-nilai seperti kewaspadaan, introspeksi, dan laku prihatin tetap menjadi warisan budaya Jawa yang mengandung makna luhur.

Melekan di malam 1 Suro dipercaya sebagai laku spiritual untuk menghindari gangguan gaib dan menyambut tahun baru Jawa dengan kesadaran penuh.

Disclaimer: Artikel ini disusun berdasarkan cerita rakyat, kesaksian warga, dan pandangan spiritual yang hidup di kalangan masyarakat adat Jawa. Tidak ada klaim ilmiah atau pembuktian empiris atas keberadaan kebenarannya. Pembaca disarankan untuk menyikapi isi artikel secara bijak sebagai bagian dari tradisi lisan dan kepercayaan lokal.

Editor : Agung Sedana
#melekan #malam #Begadang #satu suro