RADARBANYUWANGI.ID - Bulan Suro selalu membawa nuansa berbeda, terutama bagi masyarakat Jawa. Ia bukan hanya penanda tahun baru Islam, tapi juga saat-saat ketika dunia dianggap sedang berada dalam kondisi tipis.
Yakni antara nyata dan gaib. Maka tak heran jika banyak orang tua mewanti-wanti, jangan biarkan bayi tidur sendirian di malam satu Suro.
Mitos ini bukan tanpa dasar. Bahkan dalam banyak keluarga, dianjurkan bayi harus dipangku dalam tidurnya sebagai bentuk perlindungan batin dan fisik yang menyeluruh.
Dalam kepercayaan Jawa, bayi adalah makhluk suci yang baru turun dari alam ruh. Ia belum memiliki perlindungan energi yang kuat seperti orang dewasa.
Pada malam-malam sakral seperti 1 Suro, ketika diyakini makhluk halus berkeliaran atau "menampakkan diri" ke alam manusia, bayi menjadi salah satu sosok yang paling rentan disentuh secara metafisik.
Konon, jika bayi dibiarkan tidur sendirian di malam ini, maka rohnya bisa “diajak main” oleh makhluk halus
Atau bahkan terpisah sesaat dari tubuhnya yang kemudian menyebabkan demam misterius, menangis tanpa henti, atau mimpi buruk yang tak bisa dijelaskan.
Kenapa Harus Dipangku?
Memangku bayi saat tidur di malam 1 Suro bukan hanya untuk menghangatkan tubuhnya.
Secara simbolik, ini adalah perisai spiritual. Pangkuan ibu atau ayah dianggap sebagai benteng energi positif yang melindungi si kecil dari gangguan luar.
Banyak yang percaya, pelukan dan detak jantung orang tua menciptakan ketenangan batin bagi bayi dan membuat makhluk halus segan mendekat.
Bahkan dalam tirakat Jawa, memeluk bayi sambil membaca doa atau dzikir adalah bentuk paling sederhana dari ikhtiar menjaga ruh yang masih rapuh itu.
Tanda-Tanda Gangguan Menurut Masyarakat
Bayi yang diganggu biasanya menunjukkan beberapa gejala:
- Tiba-tiba menangis keras tanpa sebab jelas
- Menatap satu titik lama seperti melihat sesuatu
- Tersenyum atau tertawa sendiri saat malam
- Mendadak demam setelah malam Suro
Jika ini terjadi, orang tua biasanya segera membacakan doa, meniupkan ayat kursi ke ubun-ubun, atau membawa si kecil ke orang pintar atau sesepuh desa untuk diberi “pagaran” atau proteksi batin.
Ritual dan Proteksi Sederhana
Agar bayi aman sepanjang malam 1 Suro, masyarakat biasanya melakukan hal berikut:
- Tidak membiarkan bayi tidur sendiri, bahkan di siang hari
- Menyalakan lampu atau pelita semalaman
- Membacakan ayat suci di dekat tempat tidur
- Meletakkan bawang merah, garam, atau daun kelor di bawah bantal
Dan tentu saja, menidurkannya dalam pangkuan orang tua hingga benar-benar pulas, sebelum perlahan dibaringkan di tempat tidur yang masih berada di sisi orang tuanya.
Antara Mitos dan Hikmah
Bagi sebagian orang modern, larangan ini mungkin hanya mitos. Tapi di baliknya ada kebijaksanaan lokal yang sangat relevan.
Yakni bayi memang tak seharusnya dibiarkan tidur sendirian, apalagi di malam penuh makna seperti 1 Suro.
Kehangatan orang tua adalah perlindungan terbaik yang bisa diberikan pada bayi di malam paling sunyi itu.
Disclaimer: Artikel ini disusun berdasarkan cerita rakyat, kesaksian warga, dan pandangan spiritual yang hidup di kalangan masyarakat adat Jawa. Tidak ada klaim ilmiah atau pembuktian empiris atas keberadaan kebenarannya. Pembaca disarankan untuk menyikapi isi artikel secara bijak sebagai bagian dari tradisi lisan dan kepercayaan lokal.
Editor : Agung Sedana