Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Istri Belum Punya Anak Jangan Tidur Menghadap Kaca di Malam Satu Suro, Kenapa?

Agung Sedana • Selasa, 24 Juni 2025 | 19:05 WIB
Ilustrasi larangan wanita tidur menghadap cermin kaca.
Ilustrasi larangan wanita tidur menghadap cermin kaca.

RADARBANYUWANGI.ID - Di balik tenangnya malam Bulan Suro, ada satu benda yang dipercaya membawa aura mistis lebih kuat dari biasanya, yaitu cermin. 

Bukan hanya sebagai alat bercermin atau mempercantik diri, benda ini dalam kepercayaan Jawa kerap disebut sebagai pintu penghubung antara dunia nyata dan alam halus. 

Karena itu, tidur menghadap cermin, terutama saat Bulan Suro, bagi wanita yang sudah menikah namun belum dikaruniai anak, disebut-sebut sebagai tindakan yang bisa mengundang sial.

Mitos ini memang tidak sepopuler larangan menikah atau bepergian saat Suro. Tapi di kalangan pelestari budaya Kejawen dan spiritualis Jawa, cermin adalah objek yang harus diwaspadai, khususnya selama bulan keramat tersebut.

Cermin Bukan Sekadar Refleksi

Cermin dianggap mampu “menangkap” dan “menyimpan” energi, baik dari manusia maupun dari entitas lain yang tidak kasatmata.

Saat seseorang tidur menghadap cermin, apalagi saat tubuh dan pikirannya dalam kondisi lelah atau tidak sadar sepenuhnya, diyakini jiwa orang itu lebih rentan keluar masuk antara dua alam.

Banyak kisah menyebut orang mengalami mimpi buruk, tidur sambil menangis, hingga mengalami sleep paralysis berulang saat posisi tempat tidurnya langsung menghadap cermin.

Dalam mitos Jawa, itu dianggap sebagai tanda bahwa seseorang telah "dilirik" atau bahkan “diseret” ke wilayah gaib melalui pantulan cermin itu sendiri.

Bulan Suro: Tabir Tipis Antardunia

Seperti pada mitos sebelumnya, Bulan Suro diyakini sebagai waktu di mana tabir antara dunia nyata dan dunia gaib sedang sangat tipis.

Itu sebabnya segala benda yang dianggap bisa menjadi “portal”, seperti cermin, lebih berhati-hati diperlakukan.

Sebagian orang bahkan menutup semua cermin di rumah dengan kain putih saat malam 1 Suro.

Ini dilakukan bukan karena takut berlebihan, melainkan sebagai bentuk simbolik bahwa rumah sedang "dijaga rapat" dari pengaruh buruk luar yang bisa masuk lewat media pemantul itu.

Refleksi yang Bisa Menipu

Ada pula mitos bahwa cermin bisa menampilkan bayangan yang bukan hanya milik kita.

Saat Bulan Suro, jika kamu bercermin terlalu lama di malam hari, konon bisa melihat bayangan lain.

Cerita-cerita semacam ini hidup di tengah masyarakat desa, dan menjadi bagian dari folklore turun-temurun.

Walaupun bisa dianggap sugesti atau ilusi optik oleh pandangan modern, tetap saja banyak orang memilih untuk tidak tidur menghadap cermin, sekadar untuk berjaga-jaga.

Beberapa pakar menyebut bahwa efek psikologis dari tidur menghadap cermin memang nyata, terutama jika di kamar remang-remang atau kamu sering terbangun malam.

Bayangan di cermin bisa menimbulkan rasa tidak nyaman atau panik mendadak, yang jika terus terjadi, bisa memicu stres dan gangguan tidur.

Disclaimer: Artikel ini disusun berdasarkan cerita rakyat, kesaksian warga, dan pandangan spiritual yang hidup di kalangan masyarakat adat Jawa. Tidak ada klaim ilmiah atau pembuktian empiris atas keberadaan kebenarannya. Pembaca disarankan untuk menyikapi isi artikel secara bijak sebagai bagian dari tradisi lisan dan kepercayaan lokal.

Editor : Agung Sedana
#suro #larangan #Pantangan #mitos