RADARBANYUWANGI.ID - Bulan Suro, atau Muharram dalam kalender Hijriyah, dikenal sebagai bulan sakral bagi masyarakat Jawa.
Di balik kekhidmatan spiritual yang dijalankan, bulan ini juga dikelilingi oleh berbagai mitos dan pantangan yang diwariskan turun-temurun.
Beberapa terdengar masuk akal, namun tak sedikit yang terasa ganjil dan membuat merinding saat direnungi.
Salah satu mitos yang paling sering didengar adalah larangan memotong rambut atau kuku selama Bulan Suro.
Dalam budaya Jawa, tindakan tersebut dipercaya bisa membawa sial, membuka celah gangguan gaib, hingga dianggap membuang ‘aura perlindungan’ yang sedang dibutuhkan selama bulan keramat ini.
Rambut dan Kuku: Simbol Energi Pribadi
Masyarakat Jawa kuno memandang rambut dan kuku bukan hanya bagian tubuh biasa. Keduanya dianggap menyimpan “energi diri”, bahkan bisa merekam perasaan dan suasana batin pemiliknya.
Dalam bulan-bulan biasa, memotongnya tidak jadi masalah. Tapi di Bulan Suro yang dipercaya sebagai masa pengendalian diri dan refleksi spiritual, justru dianggap berbahaya.
Jika seseorang memotong rambut atau kuku di bulan ini, konon ia seperti membuang sebagian "daya spiritual" dari tubuhnya.
Apalagi jika dilakukan dalam kondisi marah, sedih, atau sedang sakit hati, maka potongan rambut atau kuku itu dipercaya bisa menjadi sarana halus untuk makhluk tak kasatmata ikut ‘masuk’ atau menempel.
Ritual Tirakat dan Pantangan Fisik
Dalam laku tirakat Jawa, Bulan Suro adalah waktu menyepi. Banyak orang menjalani puasa mutih, tapa bisu, atau bertapa di tempat sunyi.
Potong rambut dan kuku dipandang sebagai tindakan yang bertentangan dengan laku prihatin, karena dianggap terlalu memperhatikan penampilan fisik, bukan pembenahan batin.
Beberapa spiritualis bahkan meyakini bahwa potongan kuku atau rambut yang dibuang sembarangan saat Suro bisa “dimanfaatkan” oleh pihak-pihak yang ingin berbuat jahat secara gaib.
Mitos ini berkembang dari cerita-cerita lama tentang orang yang disantet lewat potongan tubuhnya sendiri, entah itu helai rambut, darah, atau kuku.
Dipercaya Bikin Sial: Fakta atau Sugesti?
Meski tak ada dasar ilmiah untuk membenarkan mitos ini, kisah-kisah dari orang tua zaman dulu masih sering menjadi rujukan.
Ada cerita pengantin yang nekat potong rambut untuk pernikahan saat Suro, tapi malah rumah tangganya tak langgeng.
Ada pula kisah orang yang memotong kuku dan kemudian jatuh sakit secara misterius.
Namun dalam pandangan modern, banyak yang meyakini efek dari larangan ini lebih karena sugesti kolektif.
Saat seseorang tumbuh besar dengan kepercayaan kuat pada mitos itu, maka melakukan sebaliknya bisa menimbulkan rasa bersalah, gelisah, hingga panik yang berujung pada hal-hal negatif yang justru ia ciptakan sendiri.
Tradisi yang Tetap Dihormati
Menariknya, meskipun kepercayaan akan mitos ini mulai berkurang di kota-kota besar, tradisi ini masih sangat hidup di desa-desa Jawa, khususnya di wilayah Yogyakarta, Solo, Wonogiri, dan sebagian Banyuwangi.
Bukan soal percaya atau tidak, tapi menjaga tradisi dianggap bagian dari bentuk nguri-uri budaya leluhur.
Dengan tidak melanggar pantangan, seseorang dianggap lebih eling, hati-hati, dan tak sembarangan dalam menjalani hari-hari di bulan yang dianggap penuh makna ini.
Disclaimer: Artikel ini disusun berdasarkan cerita rakyat, kesaksian warga, dan pandangan spiritual yang hidup di kalangan masyarakat adat Jawa. Tidak ada klaim ilmiah atau pembuktian empiris atas keberadaan kebenarannya. Pembaca disarankan untuk menyikapi isi artikel secara bijak sebagai bagian dari tradisi lisan dan kepercayaan lokal.
Editor : Agung Sedana