RADARBANYUWANGI.ID – Siapa sangka bila Ondel-Ondel yang selama ini familiar dianggap sebagai salah satu hiburan budaya pernah memiliki nilai tersendiri di masa lalu.
Ondel-ondel yang pada awalnya berfungsi sebagai penolak bala atau gangguan roh halus yang gentayangan. Tetapi kini, ondel-ondel biasa digunakan untuk menambah semarak pesta rakyat, acara peresmian, atau penyambutan tamu terhormat.
Dibalik nama Ondel-Ondel, boneka dari hasil anyaman bambu ini ternyata pernah memiliki nama lain. Ondel-ondel dulunya disebut juga sebagai Barongan.
Ada yang menyebut bila julukan Barongan pada ondel-ondel berasal dari kata bareng-barengan atau sama-sama.
Sebutan itu diklaim berasal dari ajakan masyarakat dalam dialek Betawi. "Nyok, kita ngarak bareng-bareng!".
Namun, ada pula yang mengatakan bahwa julukan Barongan pada ondel-ondel berasal dari kisah pewayangan.
Selain itu ada yang menyebut bila ondel-ondel sejatinya merupakan tokoh yang dihilangkan pada Sendratari Reog versi Wengker dari Ponorogo. Tokoh tersebut adalah sepasang mahluk halus dengan tubuh raksasa.
Karena mengganggu perjalanan Singo Barong, maka dikutuklah menjadi burung gagak dan burung merak dalam bentuk raksasa.
Pada pemerintahan Batara Katong, tokoh-tokoh yang tidak terlalu penting dihilangkan. Selanjutnya pada kesenian Jathilan Jawa Tengah, tokoh tersebut dikenal sebagai Gendruwon Gede.
Di tanah Pasundan ada yang disebut dengan Badawang. Dia sudah ada sejak setelah Perang Bubat yang dibawa pejabat Sunda yang masih hidup dengan membawa Angklung Reyog.
Sedangkan di Bali lebih dikenal dengan nama Barong Landung. Barong ini merupakan jenis Barong Bali yang dibawa Raja Airlangga saat menyelamatkan diri.
Selain itu julukan barongan pada ondel-ondel sama halnya seperti Barongan Bali pada Barong Landung, Barongan Jawa Tengah pada Reog Ponorogo, dan Barongan dari negeri China pada Barongsai dan Liongsai.
Ondel-Ondel sendiri muncul diperkirakan jauh sebelum Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) masuk ke Nusantara.
Ondel-Ondel pernah masuk dalam catatan perjalanan pedagang asal Inggris di tahun 605, W Scot. W. Scot,
Hanya saja perbedaan kultur dan budaya, membuatnya melihat tradisi Betawi sebagai sesuatu yang asing. (*)
Editor : Niklaas Andries