Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Cara Sederhana Mencuci Keris Pusaka di Bulan Suro, Jamasan yang Bisa Dilakukan Sendiri di Rumah

Agung Sedana • Kamis, 19 Juni 2025 | 09:13 WIB
Ciri-ciri orang terkena santet.
Ciri-ciri orang terkena santet.

RADARBANYUWANGI.ID – Bagi masyarakat Jawa, pusaka bukan sekadar benda lama. Ia dipercaya menyimpan energi, nilai sejarah, hingga warisan spiritual leluhur.

Dan setiap Bulan Suro, pusaka-pusaka ini biasanya dimandikan melalui ritual yang disebut jamasan. Masyarakat biasa membersihkan keris dalam bulan suro ini.

Bukan hanya untuk membersihkan secara fisik, ritual ini juga diyakini membersihkan energi gaib dalam benda pusaka sekaligus menyelaraskan kembali hubungan batin antara pemilik dan pusakanya.

Lantas, bagaimana cara mencuci pusaka yang benar di Bulan Suro?

Pilih Waktu yang Tepat

Tradisi Kejawen sangat memperhatikan hari dan malam. Masyarakat biasanya memilih:

Tujuannya agar pusaka menerima getaran spiritual dari alam yang sedang sunyi, sekaligus memperkuat energi baik di sekitarnya.

Siapkan Bahan Jamasan

Bahan-bahan yang digunakan untuk mencuci pusaka umumnya bersifat alami dan wangi, antara lain:

Setiap bahan ini diyakini memiliki vibrasi alami yang dapat “menetralkan” energi negatif dari pusaka.

Bersihkan dengan Hati-Hati

Proses mencuci pusaka tidak boleh kasar. Langkah-langkahnya:

Berdoa atau Melafalkan Wirid

Selama proses jamasan, pemilik pusaka dianjurkan membaca doa sesuai keyakinan. Dalam tradisi Jawa-Islami, bacaan yang umum dipakai:

Jika bukan Muslim, laku hening, meditasi, atau mantram juga digunakan untuk menjaga kesakralan suasana.

Keringkan dan Simpan dengan Penuh Tanggung Jawab

Setelah dicuci:

Beberapa orang juga meletakkannya di altar kecil, rak khusus, atau bahkan ruangan yang diberi sesajen bunga.

Bagi sebagian orang luar tradisi, mencuci pusaka mungkin tampak mistis. Tapi bagi masyarakat Jawa, ini adalah cara menjaga warisan, menghormati leluhur, dan menyucikan energi batin. Pusaka hanyalah media, bukan objek penyembahan.

Mencuci pusaka di Bulan Suro bukan hanya perkara ritual, tapi juga refleksi spiritual.

Ia mengingatkan bahwa manusia pun perlu “dicuci” dari hawa nafsu dan kesombongan agar tetap terhubung dengan akar, tanah, dan langit.

Disclaimer: Artikel ini menggambarkan tradisi dan budaya lokal masyarakat Jawa. Tidak bertujuan mendorong praktik bertentangan dengan ajaran agama. Harap disikapi secara bijak.

 

Editor : Agung Sedana
#suro #membersihkan keris #cara mencuci pusaka #jamasan