RADARBANYUWANGI.ID – Bagi masyarakat Jawa, pusaka bukan sekadar benda lama. Ia dipercaya menyimpan energi, nilai sejarah, hingga warisan spiritual leluhur.
Dan setiap Bulan Suro, pusaka-pusaka ini biasanya dimandikan melalui ritual yang disebut jamasan. Masyarakat biasa membersihkan keris dalam bulan suro ini.
Bukan hanya untuk membersihkan secara fisik, ritual ini juga diyakini membersihkan energi gaib dalam benda pusaka sekaligus menyelaraskan kembali hubungan batin antara pemilik dan pusakanya.
Lantas, bagaimana cara mencuci pusaka yang benar di Bulan Suro?
Pilih Waktu yang Tepat
Tradisi Kejawen sangat memperhatikan hari dan malam. Masyarakat biasanya memilih:
- Malam 1 Suro
- Malam Jumat Kliwon di bulan Suro
- Atau malam lain yang dianggap “hening” dan tidak banyak interaksi duniawi
Tujuannya agar pusaka menerima getaran spiritual dari alam yang sedang sunyi, sekaligus memperkuat energi baik di sekitarnya.
Siapkan Bahan Jamasan
Bahan-bahan yang digunakan untuk mencuci pusaka umumnya bersifat alami dan wangi, antara lain:
- Air kembang setaman (mawar, melati, kenanga)
- Jeruk nipis atau air perasan jeruk purut
- Daun sirih
- Minyak melati, cendana, atau khusus minyak pusaka
- Kain putih bersih atau kain mori untuk mengelap
- Wadah tanah liat atau baskom kuningan, agar tidak mengganggu energi benda
Setiap bahan ini diyakini memiliki vibrasi alami yang dapat “menetralkan” energi negatif dari pusaka.
Bersihkan dengan Hati-Hati
Proses mencuci pusaka tidak boleh kasar. Langkah-langkahnya:
- Letakkan pusaka dalam baskom berisi air bunga
- Bilas pelan dengan tangan atau kain lembut
- Jika ada karat (pada keris atau tombak), bisa diusap dengan jeruk nipis secara perlahan
- Jangan gunakan sabun atau bahan kimia
Berdoa atau Melafalkan Wirid
Selama proses jamasan, pemilik pusaka dianjurkan membaca doa sesuai keyakinan. Dalam tradisi Jawa-Islami, bacaan yang umum dipakai:
- Surah Al-Fatihah
- Ayat Kursi
- Sholawat Nabi
- Doa pribadi untuk keselamatan dan penyucian batin
Jika bukan Muslim, laku hening, meditasi, atau mantram juga digunakan untuk menjaga kesakralan suasana.
Keringkan dan Simpan dengan Penuh Tanggung Jawab
Setelah dicuci:
- Keringkan dengan kain bersih
- Oleskan minyak pusaka jika perlu
- Bungkus dengan kain mori putih
- Simpan di tempat yang bersih, tenang, dan tidak sembarangan dijamah
Beberapa orang juga meletakkannya di altar kecil, rak khusus, atau bahkan ruangan yang diberi sesajen bunga.
Bagi sebagian orang luar tradisi, mencuci pusaka mungkin tampak mistis. Tapi bagi masyarakat Jawa, ini adalah cara menjaga warisan, menghormati leluhur, dan menyucikan energi batin. Pusaka hanyalah media, bukan objek penyembahan.
Mencuci pusaka di Bulan Suro bukan hanya perkara ritual, tapi juga refleksi spiritual.
Ia mengingatkan bahwa manusia pun perlu “dicuci” dari hawa nafsu dan kesombongan agar tetap terhubung dengan akar, tanah, dan langit.
Disclaimer: Artikel ini menggambarkan tradisi dan budaya lokal masyarakat Jawa. Tidak bertujuan mendorong praktik bertentangan dengan ajaran agama. Harap disikapi secara bijak.
Editor : Agung Sedana