RADARBANYUWANGI.ID – Bagi masyarakat Jawa, Bulan Suro bukan bulan biasa. Meski dalam kalender Hijriyah ia setara dengan bulan Muharram yang dianggap mulia dalam Islam, namun dalam tradisi Jawa, Suro justru dibalut aura mistis, sakral, dan bahkan dianggap angker.
Bulan ini menjadi bulan sunyi. Tak ada pesta pernikahan, tidak ada selametan besar, bahkan banyak yang memilih tidak bepergian jauh. Semua dilakukan karena satu alasan: menghindari bala atau petaka.
Lalu, dari mana asal mula keyakinan bahwa Bulan Suro membawa aura angker?
Warisan dari Era Mataram Kuno
Keyakinan terhadap keangkeran Bulan Suro tidak lepas dari warisan budaya Kerajaan Mataram Islam yang menyatukan kalender Hijriyah dan kalender Jawa.
Sunan Kalijaga dan Sultan Agung Hanyakrakusuma adalah tokoh penting yang berjasa menciptakan sistem penanggalan Jawa Islam, di mana Bulan Suro menjadi penanda tahun baru Jawa.
Namun, berbeda dengan tahun baru masehi yang dirayakan dengan pesta, tahun baru Jawa diawali dengan tirakat, keheningan, dan tapa.
Dalam budaya Kejawen, permulaan harus diawali dengan perenungan. Maka tidak heran jika 1 Suro justru diperingati dengan tapa bisu, tirakatan, dan larung pusaka, bukan kemeriahan.
Energi Kosmis Suro: Saat Dunia Gaib Terbuka
Keyakinan spiritual Jawa menyebut bahwa Bulan Suro adalah saat di mana tabir antara dunia nyata dan dunia gaib menjadi lebih tipis.
Pada malam 1 Suro, konon para lelembut, makhluk halus, dan arwah leluhur lebih aktif.
Inilah mengapa banyak orang Jawa enggan melakukan kegiatan besar selama bulan ini, karena takut “beradu energi” dengan kekuatan yang tidak kasatmata.
Jika tidak dibarengi dengan kesiapan spiritual, bisa mendatangkan kesialan.
Bukan Waktu untuk Menantang Nasib
Bagi orang Jawa, Suro bukan saatnya menantang takdir, tetapi saat menundukkan ego, menata batin, dan merendahkan diri di hadapan Yang Maha Kuasa.
Itulah sebabnya banyak tokoh spiritual melakukan tirakat berat seperti puasa mutih, tapa pendem, bahkan tapa bisu mengelilingi keraton.
Larangan menikah di Bulan Suro misalnya, bukan semata-mata mitos kosong. Ada pesan filosofis di baliknya: jangan memulai sesuatu yang besar di saat energi alam sedang bergejolak.
Meski dianggap angker, Bulan Suro juga diyakini membawa keberkahan jika dijalani dengan benar.
Banyak yang memilih mendekatkan diri pada Tuhan, berdoa, berdzikir, atau menyucikan pusaka bukan untuk menyembah benda, tetapi sebagai bentuk penghayatan spiritual.
“Suro itu seperti cermin. Ia bukan angker karena jahat, tapi karena ia memaksa kita melihat ke dalam diri sendiri,” ujar Ki Subandi, sesepuh desa di lereng Gunung Lawu.
Keyakinan bahwa Bulan Suro itu angker sebenarnya tidak lepas dari kebijaksanaan spiritual Jawa yang menekankan kehati-hatian, introspeksi, dan laku prihatin.
Disclaimer: Artikel ini ditulis berdasarkan tradisi dan budaya spiritual masyarakat Jawa. Tidak dimaksudkan sebagai ajaran agama, namun sebagai bagian dari kekayaan kearifan lokal.
Editor : Agung Sedana