Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Menu Umum dan Item Wajib Ada di Selamatan Orang Meninggal dalam Tradisi Jawa

Agung Sedana • Jumat, 13 Juni 2025 | 08:35 WIB
Sesandingan selamatan orang meninggal dalam tradisi Jawa.
Sesandingan selamatan orang meninggal dalam tradisi Jawa.

RADARBANYUWANGI.ID - Dalam tradisi Jawa, kematian bukan akhir dari segalanya. Ia adalah gerbang menuju fase berikutnya dalam perjalanan jiwa manusia.

Maka, tidak heran jika setiap detail dalam peristiwa kematian termasuk makanan yang disajikan dalam selamatan, dipilih dan disusun dengan pertimbangan yang dalam, spiritual, dan penuh nilai simbolik.

Selamatan bukan sekadar acara kumpul dan makan bersama. Ia adalah ritual yang memadukan nilai spiritual, sosial, dan kultural.

Dan dari semua elemen yang menyusun ritual ini, makanan menjadi pengantar doa, bentuk penghormatan terakhir, dan jembatan antara dunia yang tampak dan yang tak terlihat.

Menu Umum dan Wajib Selamatan Orang Meninggal

Tumpeng Putih. Tumpeng adalah nasi berbentuk kerucut yang menjulang ke atas. Dalam selamatan kematian, yang digunakan bukan nasi kuning seperti dalam syukuran, melainkan nasi putih polos. Warna putih menjadi penanda kesucian, keikhlasan, dan kemurnian niat keluarga yang ditinggalkan.

Kerucut tumpeng mencerminkan perjalanan spiritual manusia dari kehidupan duniawi menuju titik tertinggi: kehadapan Sang Pencipta. Disusun di tengah hidangan, tumpeng menjadi pusat, baik secara visual maupun makna.

Nasi putih juga menyiratkan kesederhanaan dan kebersihan hati, bahwa dalam kematian, semua kembali dalam bentuk yang paling murni. Terkadang menu ini juga ditambahkan nasi gurih.

Telur Rebus. Telur memiliki bentuk bulat sempurna, tanpa ujung. Bentuknya melambangkan keutuhan ciptaan dan siklus kehidupan. Dalam konteks selamatan, telur disajikan sebagai lambang awal kehidupan dan penyempurnaan.

Ketika disajikan utuh, telur melambangkan harapan agar arwah kembali dengan keadaan jiwa yang utuh dan tenang. Namun jika dibelah dua, itu menandakan bahwa kehidupan dan kematian adalah dua sisi yang saling melengkapi dan kini sang jiwa telah berpindah dari satu sisi ke sisi lain.

Apem (wajib). Apem adalah kue tradisional dari tepung beras dan santan, dimasak dengan cara dikukus. Teksturnya lembut, rasanya manis, dan bentuknya bulat.

Dalam tradisi Jawa, apem dianggap wajib dalam hampir semua jenis selamatan, terlebih dalam kematian. Apem ini wajib ada di setiap peringatan selamatan, dimulai dari tiga hari hingga hari seribu.

Kata apem berasal dari afwan dalam bahasa Arab yang berarti "maaf". Kehadiran apem dalam selamatan berarti keluarga memohonkan ampunan untuk dosa-dosa almarhum, sekaligus memohon kepada tamu dan lingkungan agar juga memaafkan kesalahan semasa hidupnya.

Jenang Abang-Putih (sesandingan. Jenang atau bubur ini dibuat dari bahan sederhana: tepung beras, santan, dan gula jawa. Bubur putih melambangkan kesucian dan ketulusan, sementara bubur merah (gula merah) melambangkan pengorbanan dan keberanian. Keduanya tidak pernah dipisahkan.

Hidangan ini mengekspresikan pemahaman masyarakat Jawa terhadap dualitas hidup. Bahwa kehidupan dan kematian adalah pasangan; suka dan duka berjalan berdampingan.

Jenang juga memiliki tekstur lengket yang diyakini membantu 'merekatkan' ikatan antara yang hidup dan yang sudah tiada melalui doa dan penghormatan.

Ketela atau Ubi Rebus (opsional). Sajian akar-akaran ini seolah menjadi pengingat yang sangat konkret bahwa manusia berasal dari tanah dan akan kembali ke tanah. Ubi atau ketela adalah tanaman yang tumbuh di dalam bumi, dan ini relevan dengan filosofi Jawa tentang siklus kehidupan.

Dengan menyajikan makanan akar seperti ini, keluarga menunjukkan kerendahan hati dan mengingatkan bahwa tidak ada yang abadi selain tanah tempat kita akan kembali. Ketela juga makanan sederhana, merakyat, dan bisa dinikmati semua kalangan, menyimbolkan bahwa dalam kematian, semua manusia sejajar.

Pisang Raja atau Pisang Matang (wajib). Buah pisang sering kali disusun atau ditata secara rapi, bahkan digantung. Jenis yang paling umum digunakan adalah pisang raja karena ukurannya besar, warnanya menarik, dan memiliki rasa manis yang khas.

Pisang diyakini sebagai simbol kematangan spiritual. Dalam kehidupan, seseorang harus melewati berbagai fase hingga mencapai kedewasaan. Maka, pisang matang dihidangkan untuk menunjukkan bahwa almarhum telah menyelesaikan tugas hidupnya dan kini saatnya beristirahat dalam kedamaian.

Kembang Setaman dan Air Mawar (sesandingan). Meskipun bukan makanan, bunga dan air kembang adalah bagian tak terpisahkan dari selamatan. Kembang setaman terdiri dari bunga melati, mawar, kenanga, dan kantil. Biasanya diletakkan dalam mangkuk atau ditaburkan di atas makam setelah prosesi.

Bunga adalah lambang keharuman amal dan doa. Air bunga digunakan untuk menyucikan dan menyejukkan suasana, menciptakan rasa damai selama acara berlangsung. Kehadirannya memperkuat kesan spiritual dan menghormati roh yang telah berpulang.

Menu Pelengkap (Opsional Tapi Sarat Nilai). Beberapa keluarga juga menyajikan menu tambahan sesuai tradisi atau kemampuan. Meski tidak wajib, kehadirannya memperkaya makna selamatan:

Dalam setiap sendok bubur dan gigitan apem, terkandung doa yang tidak diucap dengan lisan, tapi dengan hati. Selamatan menjadi cara masyarakat Jawa menyampaikan cinta terakhir mereka kepada yang telah berpulang lewat makanan yang dikemas dalam filosofi, tradisi, dan spiritualitas yang mendalam.

Menu dalam selamatan bukan soal kaya atau miskin, bukan soal lengkap atau mewah. Yang utama adalah makna di balik setiap hidangan, dan niat tulus dari hati orang-orang yang ditinggalkan.

 

Editor : Agung Sedana
#makanan kematian adat Jawa #menu selamatan Jawa