Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Cara Hitung dan Makna Selamatan Orang Meninggal dalam Tradisi Jawa: Start Hari Geblak hingga Nyewu

Agung Sedana • Jumat, 13 Juni 2025 | 07:14 WIB
Cara menghitung hari selamatan orang meninggal dalam tradisi Jawa.
Cara menghitung hari selamatan orang meninggal dalam tradisi Jawa.

RADARBANYUWANGI.ID - Dalam kebudayaan Jawa, kematian bukanlah titik akhir, melainkan gerbang awal menuju perjalanan spiritual yang lebih luas.

Masyarakat Jawa memaknai proses setelah kematian dengan rangkaian upacara selamatan, sebuah tradisi yang tidak hanya melibatkan doa, tetapi juga perhitungan waktu yang sangat rinci berdasarkan hari dan pasaran Jawa.

Selamatan ini dipercaya bukan sekadar bentuk penghormatan, tapi juga ritual untuk menyempurnakan unsur-unsur jasad yang telah kembali ke tanah, serta membimbing roh menuju alam kelanggengan.

Tak heran jika dalam masyarakat Jawa, hitungan selamatan orang meninggal menjadi ilmu tersendiri yang diwariskan lintas generasi.

Tradisi selamatan bukan hanya ritual keluarga untuk mengenang, tapi juga bentuk ajaran budaya yang menanamkan rasa tanggung jawab terhadap kehidupan setelah kematian.

Dengan perhitungan matang dan penuh makna, masyarakat Jawa telah membingkai kematian sebagai proses yang luhur dan tidak terburu-buru.

Rangkaian ini juga menjadi bagian dari pendidikan nilai-nilai spiritual, bahwa kehidupan bukan hanya tentang dunia, tapi juga bagaimana kita meninggalkan dunia dengan cara yang mulia dan dikenang.

Urutan Selamatan dalam Adat Jawa

Rangkaian selamatan dilakukan dalam kurun waktu tertentu sejak hari meninggalnya seseorang. Ada tujuh momen utama yang lazim digelar:

  1. Geblag – Digelar pada hari pertama setelah jenazah dikebumikan. Tujuannya adalah menutup masa duka awal dan mulai mengiringi perjalanan roh.
  2. Nelung Dina (3 hari) – Dilakukan pada hari ketiga, berdasarkan perhitungan hari dan pasaran.
  3. Mitung Dina (7 hari) – Digelar pada hari ketujuh, juga berdasarkan siklus pasaran Jawa.
  4. Matang Puluh Dina (40 hari) – Momentum penting yang menandai penyempurnaan anggota tubuh.
  5. Nyatus Dina (100 hari) – Penyempurnaan terakhir dari jasad secara fisik.
  6. Pendhak Pisan (1 tahun) – Sebagai peringatan tahunan pertama atas wafatnya almarhum.
  7. Pendhak Pindo (2 tahun) – Dikenal sebagai ulang tahun kematian yang kedua.
  8. Nyewu (1000 hari) – Penutup dari seluruh rangkaian. Dianggap saat di mana roh telah benar-benar menyatu dengan tanah dan kembali kepada Sang Pencipta.

Cara Menghitung Hari Selamatan

Perhitungan ini memakai sistem kalender Jawa yang menggabungkan hari (Senin–Minggu) dengan pasaran (Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon). Dalam tradisi ini, setiap selamatan memiliki patokan khusus:

Nelung Dina: Hari ke-3 sejak kematian, pasaran ke-3 juga. Jika meninggal pada Sabtu Pahing, maka selamatan digelar pada Senin Pon.

Mitung Dina: Hari ke-7 sejak kematian, namun pasaran ke-2. Jadi Sabtu Pahing + 6 hari = Jumat Pon.

Matang Puluh Dina: Dihitung 40 hari ke depan, hari dan pasaran dihitung ulang. Bisa jatuh pada hari dan pasaran yang berbeda.

Nyatus Dina: Selamatan hari ke-100, biasanya jatuh sekitar 3 bulan 10 hari setelah meninggal.

Pendhak Pisan: Tepat satu tahun dari kematian, namun tidak selalu jatuh pada hari dan pasaran yang sama.

Pendhak Pindo: Perhitungan kembali ke hari dan pasaran saat kematian.

Nyewu: Dihitung sebagai hari ke-1000, umumnya sekitar 2 tahun 9 bulan dari hari kematian, hari dan pasaran ditentukan dengan rumus: 6 hari + 5 pasaran, bulan dimundurkan dua siklus.

Rumus Singkat dan Istilah Tradisional

Cara Hitung dan Makna Selamatan Orang Meninggal dalam Tradisi Jawa
Cara Hitung dan Makna Selamatan Orang Meninggal dalam Tradisi Jawa

Setiap istilah dalam bahasa Jawa kuno ini bukan sekadar nama, tapi simbol angka dan posisi siklus waktu.

Makna Filosofis dari Tiap Selamatan

Setiap tahapan selamatan memiliki makna spiritual dan fisik terhadap "kelengkapan" tubuh serta transisi arwah:

Nelung Dina: Unsur dasar jasad (air, api, tanah, angin) mulai terurai.

Mitung Dina: Unsur halus seperti rambut, kuku, dan kulit mulai menyatu dengan bumi.

Matang Puluh: Organ dalam seperti daging, otot, dan darah mulai larut ke tanah.

Nyatus Dina: Tulang-belulang dan jaringan keras mulai menyatu dan hilang dari bentuk aslinya.

Pendhak Pisan & Pindo: Momen reflektif keluarga, menyempurnakan tanggung jawab sosial.

Nyewu: Simbol bahwa seluruh jasad telah kembali ke alam dan arwahnya telah selesai menempuh masa transisi.

Dalam budaya Jawa, tubuh manusia tidak hanya dilihat dari aspek fisik, melainkan juga metafisik. Maka tak heran, proses peringatan kematian ini dianggap sakral dan penuh rasa tanggung jawab, baik secara spiritual maupun sosial.

 

 

Editor : Agung Sedana
#cara hitung #selamatan orang meninggal