RADARBANYUWANGI.ID – Pergelaran Meras Gandrung di Taman Gandrung Terakota menghadirkan harmoni antara tradisi sakral dan inovasi seni modern.
Dengan alur cerita yang lebih kompleks dan penggarapan profesional, pertunjukan seni budaya ini bukan hanya sekadar tontonan.
Meras Gandrung menjadi sebuah ruang penghormatan sekaligus regenerasi budaya melalui keterlibatan aktif sanggar-sanggar tari di Banyuwangi.
Prosesi ”wisuda” belasan penari menunjukkan sang penari telah tuntas menjalani pelatihan dari gandrung senior.
Mereka siap melakukan pementasan tari gandrung secara utuh.
Makna dalam ritual ini adalah sebagai ungkapan rasa syukur yang mendalam, penghormatan, harapan, kesucian serta semangat menjadi seorang gandrung.
Minggu (8/6), Taman Gandrung Terakota menghadirkan kembali sendratari Meras Gandrung yang memiliki alur cerita lebih kompleks dibanding dengan repertoar gandrung pada umumnya.
Miftahul Jannah, salah seorang pelatih tari di sanggar Senetra milik Taman Gandrung Terakota, menjelaskan, karya sendratari Meras Gandrung ini telah dipatenkan oleh pakar-pakar seni yang ada di Banyuwangi.
“Secara struktur, konsep, alur cerita dari sendratari meras gandrung di sini sudah dipatenkan oleh pihak Terakota sendiri. Yang mana konseptor merupakan para pakar-pakar seni di Banyuwangi,’’ ujarnya.
Pramu Sukarno, salah satu aktor dalam pergelaran seni Meras Gandrung menegaskan, kekuatan utama pertunjukan ini tak hanya terletak pada tata artistik atau koreografi, tetapi pada esensi ritual sakral yang dihidupkan kembali lewat panggung.
“Secara konsep, yang paling ditekankan dalam pergelaran ini adalah sisi ritualnya. Gandrung bukan sekadar gadis cantik yang menari indah, tapi tentang jiwa-jiwa yang melekat dalam diri seorang gandrung. Itulah yang menjadikannya utuh,” ujar Mbah Pram, panggilan akrabnya.
Setiap bulannya panggung terbuka di kaki TWA Ijen tersebut rutin menggelar pementasan sendratari Meras Gandrung. Penyaji tari bergantian dari sanggar-sanggar tari di penjuru Banyuwangi.
Meras Gandrung bukan sekadar menambah keberagaman gaya penampilan dari setiap sanggar, tetapi juga menjadi ajang untuk penari muda mengasah diri di hadapan penonton, dalam suasana pertunjukan profesional.
”Meras Gandrung lebih dari sekadar panggung hiburan dan menjadi ajang menghidupkan kembali semangat nguri-uri budaya di tengah gempuran budaya modern,’’ kata seniman berambut gondrong itu.
Listi, salah satu pengelola sanggar tari Damar Art, menyambut baik keberadaan pagelaran rutin Meras Gandrung di Taman Gandrung Terakota.
Ia menyebut, kegiatan ini menjadi ruang yang sangat berarti bagi para penari muda di sanggarnya untuk tampil di hadapan publik secara lebih serius dan profesional.
“Kami senang sekali ada wadah seperti ini. Anak-anak jadi punya kesempatan unjuk kebolehan, tampil di panggung yang lebih besar, dan belajar bertanggung jawab atas karyanya,” ujar Listi.
Lebih dari 50 penari terlibat dalam pergelaran Meras Gandrung, Minggu lalu (8/6). Menariknya, seluruh penampil merupakan penari muda berusia antara 10 hingga 17 tahun.
Kehadiran mereka bukan hanya memperkuat pesan regenerasi seni, tapi juga menjadi bukti bahwa gandrung terus hidup di dada generasi penerus.
Keunikan inilah yang menjadi daya tarik utama dari pagelaran Meras Gandrung di Taman Gandrung Terakota.
Unsur sakral yang berpadu dengan kemasan panggung modern menciptakan pengalaman budaya yang tidak hanya menghibur, tetapi juga menggugah rasa.
Setiap bulan, pertunjukan ini berhasil mengundang banyak penonton dari berbagai daerah.
Tak sedikit dari mereka adalah wisatawan yang sengaja datang untuk menyaksikan momen langka ini di tengah bentang alam Banyuwangi yang memukau.
“Saya baru pertama kali lihat pementasan tarian ini dan senang sekali karena ceritanya bagus dan sedikit terharu juga sih tadi,“ ujar Dimas, wisatawan asal Jember yang datang bersama kawannya.
Melalui perpaduan nilai sakral dan kreativitas, pertunjukan ini menjadi cermin bahwa tradisi tak harus tinggal diam dalam bingkai masa lalu, melainkan bisa terus bergerak, tumbuh, dan berdialog dengan zaman. (cw5/Dalila Adinda/aif)
Editor : Ali Sodiqin