RADARBANYUWANGI.ID - Ketika Majapahit, kerajaan besar yang pernah menguasai hampir seluruh Nusantara mulai kehilangan sinarnya, pulau Jawa tak lantas menjadi hening.
Justru dari reruntuhan kemegahan itu, lahirlah berbagai kerajaan merdeka yang membawa identitas dan ideologinya masing-masing.
Salah satunya adalah Balambangan, sebuah praja yang tumbuh dari tapak kaki pelarian, pertapaan, dan doa-doa panjang di kaki gunung.
Menurut Pararaton (1966:43), runtuhnya Majapahit terjadi ketika raja ke-10, Dyah Suraprabawa, wafat.
Tahun kejatuhan itu ditandai dengan Sakakala berbunyi: Sunya nora yoganing wong, yang berarti “sepi tanpa orang sakti.” Tafsir ini menyiratkan kosongnya kepemimpinan dan berakhirnya era kekuasaan besar Majapahit pada tahun 1478 M.
Kala itu, Jawa tidak benar-benar tanpa penguasa. Justru lahir empat kerajaan yang memegang kendali atas wilayah-wilayah penting.
Pertama, Kerajaan Kawali. Ini berpusat di Ciamis, yang kemudian berkembang menjadi Sunda Pajajaran di Pakuan Bogor (1311–1579) dengan ideologi Hindu-Sunda.
Kedua, Wilwatikta. Ini erpusat di Daha/Kediri, lalu berpindah ke Panarukan hingga akhirnya berakhir di Kedhawung (Jember) pada 1633 dengan corak Hindu-Jawa.
Ketiga, Demak-Bintara. Ini merupakan kerajaan Islam yang berkuasa di pesisir utara Jawa Tengah dari 1481 hingga 1546.
Dan yang paling unik di antara mereka, Balambangan. Yakni kerajaan yang berdiri di ujung timur pulau Jawa dengan napas spiritual dan sejarah yang kaya.
Dari Pertapaan Menuju Praja
Sejarah Balambangan tak lepas dari tokoh Lembu Miruda, anak dari Bhrawijaya, raja Majapahit terakhir.
Ketika Majapahit runtuh, Lembu Miruda memilih mengungsi ke arah timur. Ia menembus hutan, mendaki gunung, hingga tiba di wilayah yang kini dikenal sebagai Balambangan.
Di sebuah tempat bernama Watuputih, ia mendirikan asrama atau pesantren sebagai tempat pertapaan.
Dalam keheningan itu, ia berdoa agar dianugerahi keturunan yang kelak dapat memimpin kembali tanah Jawa bagian timur.
Doa itu dijawab. Setelah bertapa selama sebulan tujuh hari, Lembu Miruda dikaruniai dua anak kembar dampit. Yakni seorang putra bernama Mas Sembar dan putri cantik bernama Mas Ayu Singasari. Mas Sembar kelak menjadi raja di Blambangan Timur.
Garis darah pemimpin, mas Sembar memiliki tiga putra. Gede Punir Cindhe-amoh, sang sulung yang menjadi pemimpin di daerah Puger, dikenal tampan dan bijak.
Bima-nabrang-wijaya, anak tengah yang kelak dirajakan di Bima, Pulau Sumbawa. Dan Bima-koncar, si bungsu, yang menjadi penguasa Balambangan di kota Lamajang.
Dari sinilah kerajaan Balambangan berkembang pesat. Istana kerajaan berpindah-pindah seiring zaman: dari Tapasana (lereng timur Gunung Tengger), Kutha Sembara, Kutha Kedhawung (Jember), hingga ke pusat akhirnya di Banyuwangi, yang menjadi ibukota hingga akhir kejayaan Balambangan pada tahun 1778.
Selama 300 tahun keberadaannya, Balambangan memeluk ideologi Budha-Jawi Wishnu (Hindu) dan dikenal sebagai praja yang tangguh serta spiritual.
Catatan dari Babad
Kisah ini juga diperkuat dalam Serat Babad Tedhak Dermayudan (Winarsih PA, 1995:301–323) dan Babad Mas Sembar, sebuah pupuh karya Mas Kertajaya, patih dari Bupati Jayanagara di Prabhalingga (1767–1804).
Kedua babad ini menyebut bahwa setelah keruntuhan Majapahit, Balambangan menjadi kelanjutan dinasti Bhrawijaya yang diwariskan kepada generasi spiritual dan pengembara, bukan melalui kekuatan militer semata.
Referensi: Pararaton 1966:43, Babad Tedhak Dermayudan, Winarsih PA 1995, Serat BS (Babad Mas Sembar) karya Mas Kertajaya.
Editor : Agung Sedana