RADARBANYUWANGI.ID - Tradisi Tumpeng Sewu di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, bukan sekadar pesta rakyat.
Berakar dari tradisi pancen, tumpeng sewu sebagai wujud syukur rakyat pada pemimpinnya. Ritual ini kini menjelma menjadi selametan agung setiap bulan Zulhijah.
Diawali tradisi mepe kasur, menjelang senja seribu tumpeng memenuhi teras-teras rumah warga. Doa-doa dipanjatkan, sekat sosial menghilang dalam kebersamaan.
Tradisi Tumpeng Sewu yang dikenal sebagai ritual bersih desa masyarakat Oseng Kemiren sejatinya berawal dari sebuah kebiasaan lama yang disebut pancen.
Pancen dulunya merupakan bentuk apresiasi masyarakat kepada kepala desa dengan memberikan hidangan maupun hasil bumi oleh masyarakat atas pelayanan sang pemimpin desa.
Haidi Bing Slamet, tokoh adat Desa Kemiren menuturkan, sejak era kepala desa pertama, tradisi selamatan sudah ada.
”Dulu, setiap kepala desa menggelar selamatan di rumahnya dan masyarakat datang membawa pancen, semacam bentuk penghormatan atau ucapan terima kasih atas pengabdian pemimpin desa,” tuturnya.
Pancen bukan soal paksaan, melainkan ekspresi penghormatan yang kuat terhadap kepemimpinan yang mengayomi.
Dalam konteks masyarakat Desa Kemiren yang agraris, pancen menjadi cermin dari hubungan sosial yang harmonis.
Namun, seiring berjalannya waktu dan masuknya sistem pemerintahan yang lebih modern, tradisi pancen telah mengalami pergeseran.
Tak lagi relevan untuk memberikan ”upah” secara langsung kepada pemimpin desa. Masyarakat kemudian mentransformasikan semangat tersebut dalam bentuk selamatan dan doa bersama.
Transformasi ini menjelma dalam bentuk syukuran yang dilakukan serentak oleh warga di teras rumah masing-masing.
Setiap keluarga membuat tumpeng sebagai simbol syukur dan kebersamaan.
Digelar pada bulan Zulhijah karena secara spiritual merupakan bulan yang penuh dengan keberkahan dalam kalender Islam.
Selamatan ini lalu berkembang menjadi apa yang kini dikenal sebagai Tumpeng Sewu.
Dalam gelaran Tumpeng Sewu, setiap keluarga menyajikan satu tumpeng lengkap dengan lauk-pauk sebagai bentuk persembahan.
Tumpeng-tumpeng itu kemudian ditata berjajar di teras rumah hingga memenuhi jalan-jalan desa.
Setelah doa bersama dipanjatkan, tumpeng disantap bersama oleh warga tanpa sekat status sosial. Di sinilah letak kekuatan tradisi ini.
”Bukan hanya sebagai bentuk syukur kepada Tuhan, tetapi juga sebagai sarana mempererat tali silaturahmi, menyatukan hati dalam satu meja, satu doa, dan satu tujuan, hidup damai dan penuh berkah,” kata Haidi.
Tradisi Tumpeng Sewu tidak hanya dihadiri warga lokal. Sejumlah wisatawan mancanegara juga menyempatkan datang ke Kemiren.
Mereka berbaur dengan warga menyantap tumpeng dengan menu ayam bakar dan jajanan khas Kemiren.
Shandah, wisatawan dari Belanda mengaku terkesan dengan keramahan warga Banyuwangi dalam acara Tumpeng Sewu.
Menurut dia, tradisi Tumpeng Sewu tidak hanya memberikan pengalaman budaya, tetapi juga menciptakan kenangan yang sangat berkesan.
”Tradisi Tumpeng Sewu sungguh membuat saya merasa diterima dengan sangat baik,” ujarnya.
Senada dengan Haidi, Ketua Lembaga Adat Odeng Kemiren Suhaimi mengatakan, tradisi Tumpeng Sewu adalah budaya leluhur sebagai bentuk rasa syukur kepada Sang Pencipta.
”Dalam Tumpeng Sewu ada beberapa tradisi yang juga digelar oleh warga Kemiren. Salah satunya tradisi mepe kasur yang dilakukan pukul 09.00 sampai sore hari,” kata Suhaimi.
Pada tengah malam, warga melanjutkan kegiatan dengan Mocoan Lontar Yusup semalam suntuk.
”Lontar Yusup merupakan naskah kuno yang bercerita tentang kehidupan Nabi Yusuf,” tandas Suhaimi. (Dalila Adinda/aif/c1)
Editor : Ali Sodiqin