Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Lelaki dan Bara Api, Cerita Dibalik Penjaga Rasa Ritual Tumpeng Sewu Banyuwangi

Agung Sedana • Kamis, 29 Mei 2025 | 19:50 WIB
Dibalik ritual Tumpeng Sewu, tersaji resep rahasia kuliner Pecel Pitik Banyuwangi.
Dibalik ritual Tumpeng Sewu, tersaji resep rahasia kuliner Pecel Pitik Banyuwangi.

RADARBANYUWANGI.ID - Di sudut timur Pulau Jawa, tepatnya di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, terdapat sebuah tradisi turun-temurun yang tidak hanya menjadi lambang syukur, tetapi juga cermin kekayaan budaya Suku Osing. Tradisi itu dikenal dengan nama Tumpeng Sewu.

Tumpeng Sewu merupakan ritual sakral yang ruting digelar tahunan. Penuh sarat makna, semerbak kehangatan kebersamaan, dan sarana pengikat identitas komunitas. Tumpeng Sewu bukan sekadar ritual makan bersama, melainkan sebuah upaya memelihara warisan leluhur yang selama berabad-abad.

Ia mengajarkan nilai-nilai gotong royong, toleransi, dan rasa syukur. Setiap tahunnya, tradisi ini tak hanya menjadi momen sakral masyarakat lokal, tapi juga telah berkembang menjadi daya tarik wisata budaya yang digemari banyak pelancong domestik maupun mancanegara.

Di balik ritual tersebut, Jawa Pos Radar Banyuwangi mencoba menenulusri semesta dibalik menu utama tumpeng sewu. Yakni hidangan ayam kampung yang diolah dengan cita rasa lokal. Ratusan tahun berlalu, rasanya selalu sama. Bukti bahwa Banyuwangi selalu menjaga rasa dalam setiap tradisinya.

Namanya Abdul Karim, warga Kemiren yang sudah berusia 53 tahun. Sebelum gema azan subuh pada Kamis 29 Mei 2025, lelaki tersebut sudah terjaga dari lelapnya. Tahun ini Karim menggarap 150 ekor ayam kampung untuk sajian utama ritual Tumpeng Sewu.

Mulai Sejak fajar menyingsing, Karim telah bersiap di dapur tradisionalnya, menyiapkan ratusan ekor ayam kampung siap untuk dipanggang. Proses memanggang ayam ini bukanlah hal yang mudah.

Dengan menggunakan bara api dari kayu bakar, setiap ayam dipanggang secara perlahan agar matang merata dan menghasilkan aroma khas yang menggugah selera. Selama berjam-jam, Karim wajib menjaga bara tetap menyala dan memastikan setiap ayam matang sempurna.

Outputnya, olahan tersebut akan menjadi Pecel pitik. Ini bukan hanya sekadar hidangan. Bagi masyarakat Suku Osing, hidangan ini memiliki makna filosofis yang dalam.

Nama "pecel pitik" berasal dari filosofi "kang diucel-ucel saben dinane ingkang apik", yang berarti bahwa segala sesuatu yang dilakukan warga harus mengarah pada hal yang baik.

Dalam proses pembuatannya, terdapat aturan yang harus dipatuhi. Orang yang memasak pecel pitik diyakini tidak boleh banyak berbicara dan harus dalam keadaan suci. Selain itu, makanan tidak boleh dicicipi sebelum ritual adat atau selamatan dimulai.

Tumpeng Sewu berasal dari kata “tumpeng” yang berarti nasi kuning atau putih yang disusun berbentuk kerucut sebagai simbol gunung atau hubungan vertikal manusia dengan Yang Maha Kuasa. Sementara “sewu” berarti seribu dalam bahasa Jawa, melambangkan jumlah tumpeng yang disiapkan secara kolektif oleh warga desa.

Tradisi ini telah berlangsung selama puluhan generasi di Desa Kemiren, sebagai bagian dari sistem nilai dan kepercayaan Suku Osing yang menganut kepercayaan Islam dengan kearifan lokal kuat. Biasanya digelar seminggu sebelum Idul Adha, Tumpeng Sewu merupakan ritual syukur atas limpahan rejeki dan permohonan keselamatan bagi warga desa dari segala bentuk malapetaka, penyakit, dan bencana alam.

Menurut cerita turun-temurun, leluhur Suku Osing memperkenalkan tradisi ini sebagai bentuk pengikat solidaritas sosial. Setiap kepala keluarga berkewajiban menyiapkan minimal satu tumpeng lengkap dengan lauk pauk khas sebagai persembahan dan simbol berbagi dengan sesama.

Persiapan Tumpeng Sewu dimulai sejak pagi hari. Warga sibuk menyiapkan tumpeng, memasak pecel pitik hidangan ayam kampung panggang dicampur kelapa parut berbumbu khas, yang menjadi lauk wajib acara. Selain itu, ada ritual mepe kasur, yakni penjemuran kasur berwarna merah dan hitam yang melambangkan pembersihan energi negatif dan mengusir roh jahat.

Selanjutnya, ada prosesi ngaturi Buyut Cili, ziarah ke makam leluhur sebagai bentuk penghormatan dan memohon keberkahan. Di sepanjang hari, warga bekerja sama saling membantu, memperlihatkan nilai gotong royong yang kental dalam tradisi ini.

Menjelang sore, jalan utama Desa Kemiren ditutup untuk lalu lintas. Warga mulai menata tikar di depan rumah masing-masing. Satu persatu rumah mengeluarkan tumpeng yang sudah disiapkan, lalu diletakkan di hadapan rumah sebagai simbol persembahan.

Diiringi arak-arakan barong dan ider bumi , sebuah ritual mengelilingi kampung untuk menjaga keselamatan desa. Setelah salat Magrib berjamaah, warga dan pengunjung duduk bersila di pinggir jalan yang diterangi obor bambu atau oncor ajug-ajug.

Doa bersama dipanjatkan untuk keselamatan dan kemakmuran warga Desa Kemiren. Kemudian, tumpeng dibagi-bagikan dan dinikmati secara bersama-sama, menciptakan suasana hangat penuh persaudaraan dan kebersamaan.

Makna Filosofis di Balik Tumpeng Sewu

Bentuk kerucut tumpeng secara simbolik melambangkan hubungan manusia dengan Tuhan (hablum minallah) dan sesama manusia (hablum minannas). Tumpeng sewu dengan jumlah banyak menguatkan filosofi kebersamaan dan persatuan komunitas.

Pecel pitik, sebagai lauk khas, mengandung pesan hidup hemat, sederhana, dan bersyukur. Tidak hanya soal rasa, hidangan ini merefleksikan kearifan lokal dalam memanfaatkan hasil alam dengan cara yang bijak dan penuh rasa hormat.

Selain itu, penjemuran kasur merah-hitam sebagai simbol pembersihan energi negatif, serta prosesi ziarah makam leluhur, menegaskan bagaimana tradisi ini menyelaraskan dimensi spiritual dan sosial dalam kehidupan masyarakat Osing.

Peran Tumpeng Sewu dalam Pelestarian Budaya dan Pariwisata

Seiring berkembangnya pariwisata budaya di Banyuwangi, Tumpeng Sewu menjadi salah satu ikon yang berhasil mengangkat nama Desa Kemiren di peta wisata nasional dan internasional. Kegiatan ini masuk dalam kalender Banyuwangi Festival dan rutin menarik ribuan wisatawan setiap tahunnya.

Wisatawan tidak hanya datang untuk menyaksikan rangkaian ritual, tetapi juga untuk merasakan langsung kehangatan kebersamaan dalam tradisi makan bersama di pinggir jalan desa. Hal ini memberikan pengalaman autentik yang sulit ditemukan di tempat lain.

Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, menyatakan bahwa tradisi Tumpeng Sewu merupakan contoh bagaimana kearifan lokal mampu menjadi jembatan penguatan budaya dan ekonomi kreatif, sekaligus mempererat tali persaudaraan antarwarga dan dengan dunia luar.

Di balik setiap tumpeng yang tersaji dalam tradisi Tumpeng Sewu, terdapat kerja keras dan dedikasi warga seperti Abdul Karim. Mereka adalah penjaga rasa dan pelestari tradisi yang memastikan warisan budaya ini tetap hidup dan dinikmati oleh generasi mendatang.

Editor : Agung Sedana
#tumpeng sewu #Pecel Pitik #banyuwangi