Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Perjuangan Adlin Mustika Mencetak Penari Gandrung lewat Sanggar Jiwa Etnik Blambangan

Redaksi • Selasa, 20 Mei 2025 | 12:00 WIB
Anak-anak dari Sanggar Jiwa Etnik Blambangan (JEB) sedang berlatih tari gandrung modifikasi di Pendapa RTH Singojuruh, Minggu (18/5).
Anak-anak dari Sanggar Jiwa Etnik Blambangan (JEB) sedang berlatih tari gandrung modifikasi di Pendapa RTH Singojuruh, Minggu (18/5).

RADARBANYUWANGI.ID - Banyuwangi punya banyak sanggar tari, bahkan hampir ada di setiap kecamatan.

Di Kecamatan Singojuruh misalnya, ada Sanggar Jiwa Etnik Blambangan. Sanggar yang dikelola pasangan suami istri (pasutri) Adlin Mustika Alam dan Sadida Nuriya Mustika itu kini telah menampung 150 murid.

Di sebuah desa kecil yang dikelilingi hamparan sawah dan semilir angin, semangat seni terus menyala dari tangan-tangan mungil anak-anak Singojuruh.

Di balik cahaya itu, berdiri sosok pasangan tangguh Adlin Mustika Alam dan Sadida selaku pengelola sekaligus pendiri Sanggar Jiwa Etnik Blambangan.

Adlin mendirikan sanggar tari semata karena panggilan jiwa pada seni. Warga Dusun Pasinan, Desa/Kecamatan Singojuruh, itu gelisah melihat anak-anak desa lebih akrab dengan gawai daripada gamelan.

Fenomena tersebut membuat Adlin mengambil langkah yang tak semua orang berani, yaitu membangun sanggar sendiri dari nol.

Adlin mendirikan sanggar tari pada 2018 selepas lulus kuliah dari Surabaya. Setelah lulus dari Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) Surabaya, Adlin mendirikan komunitas sesama seniman bersama teman-temannya.

Mulanya dia membuat komunitas skala kecil hingga berhasil mengumpulkan pemuda daerah dan mendirikan Forum Komunikasi Karang Taruna Kecamatan Singojuruh, lalu melakukan Pergelaran dan Apresiasi Kesenian Singojuruh (Prasasti).

Dari situlah titik balik lahirnya sanggar tari yang kini telah memiliki lebih dari 100 penari hanya dalam kurun waktu kurang dari 7 tahun.

”Awalnya murid kami cuma 5, tapi semakin lama semakin dilirik banyak orang. Bahkan, orang tua banyak yang tertarik untuk mengikutkan anaknya ke sanggar kami. Dari situlah kami ajak mereka untuk bergabung bersama. Hingga saat ini jumlah murid kami 150 anak,” ungkap Adlin.

Tak mudah mempertahankan semangat berkarya. Adlin dibantu oleh istrinya Sadida Nuriya Mustika— yang juga seorang penari—  harus membagi waktu antara mengurus keluarga dan melatih anak-anak tanpa imbalan sepeser pun.

Ia bahkan pernah ingin berhenti karena kurangnya dukungan, baik dari lingkungan sekitar maupun secara finansial. Namun, setiap kali rasa putus asa itu datang menghampiri, ia kembali mengingat tujuan awalnya bahwa seni bukan hanya tentang panggung megah atau tepuk tangan, tapi tentang harapan.

Dulu, Adlin memulai semuanya dengan modal seadanya. Tak ada sponsor, tak ada sorotan. Hanya niat dan keyakinan bahwa budaya tak boleh hilang.

Dia mendirikan Sanggar Jiwa Etnik Blambangan di Dusun Pasinan, Desa/Kecamatan Singojuruh dengan modal sendiri.

Awalnya Adlin membuat kostum hanya untuk 5 orang penari. Lambat laun dari setiap hasil pementasan dan iuran orang tua murid, ia kumpulkan sedikit demi sedikit untuk mengembangkan sayap sanggarnya.

”Membuat satu kostum gandrung lengkap dengan selendang, hiasan kepala, dan kain jarit bisa menghabiskan hingga satu setengah juta rupiah,” imbuh Adlin.

Selain dipakai untuk sanggar, kostum tersebut juga disewakan. Per kostum disewakan Rp 150.000.  Baginya bukan soal uang sewa yang mahal atau murah, tapi memberi kesempatan kepada sanggar lain.

Gara-gara menyewakan kostum, Adlin pernah merasakan pengalaman pahit.

”Kostum saya pernah disewa, tapi tidak dikembalikan,” kenang Adlin penuh  kecewa.

Menuju Panggung Nasional

Pada tahun 2019, ketika banyak orang mulai lupa pada kesenian tradisi, Adlin justru kembali menyalakan bara kecil yang lama padam dalam dirinya.

Setelah sekian lama berjuang mempertahankan sanggar hanya dengan semangat dan doa, ia mulai mencipta kembali karya-karyanya secara perlahan dan kecil-kecilan.

Karya pertamanya saat itu adalah ”Tabuhan Soren”.  Pertunjukan sederhana yang terinspirasi dari suara gamelan senja yang biasa ia dengar sejak kecil itu berlangsung di RTH Singojuruh.

Tak berhenti di situ. Adlin kemudian mengangkat kisah yang sangat lekat dengan tanah kelahirannya, yakni kisah Mak Pon, penari gandrung legendaris dari Desa Kemiri.

Sebuah tokoh yang dulu hanya ia dengar dari cerita orang tua, kini ia hidupkan kembali di panggung.

Bukan hanya sebagai tokoh tari, tapi sebagai lambang keteguhan perempuan, penjaga budaya yang diwariskan leluhur.

Dari dua karya itulah, api kecil yang ia jaga mulai menyala lebih terang. Pertunjukan demi pertunjukan tumbuh, sanggar mulai dikenal, anak-anak yang dulu ragu kini menari dengan penuh percaya diri. Ia seolah sedang menulis ulang sejarah seni desa dengan tangannya sendiri.

Namun, harapan yang sedang tumbuh itu tiba-tiba terhenti. Tahun 2019, pandemi Covid-19 datang seperti badai. Seluruh kegiatan kesenian terhenti.

Latihan dibubarkan, panggung-panggung dibatalkan. Sanggar kembali sunyi, dan untuk beberapa bulan, ia benar-benar vakum.

”Ruang yang dulu penuh suara tawa dan musik, jadi sepi. Saya sempat merasa putus asa,” kenang Adlin.

Adlin tak tinggal diam dengan situasi tersebut. Di tengah sunyinya dunia luar, ia justru menyalakan dunia dalam. Seni dibawa ke ruang virtual. Ia mengajak anak-anak berlatih kembali, meski dari rumah.

Ia membuat konsep sederhana, lalu lahirlah karya barunya yang menggugah ”Hang Nyakseni Samarindu” sebuah karya virtual yang bukan hanya pertunjukan, tapi juga pernyataan bahwa seni tak akan pernah bisa dibungkam, bahkan oleh pandemi sekalipun.

Warisan yang Dihidupkan

Hari ini, bara kecil yang Adlin jaga sejak 2018 itu telah menjadi nyala yang menghangatkan banyak jiwa. Dari karyanya dan sanggar tarinya, ia melahirkan banyak seniman lain yang berhasil menampilkan tarian hingga luar kota seperti Jogjakarta dan Malang.

”Berkat kerja keras dan konsistensi, pada tahun 2023 saya berhasil terpilih menjadi juara 1 pemuda pelopor dan lolos ke tahap 10 besar nasional,” ungkap Adlin bangga.

Bagi Adlin, sanggar ini bukan sekadar tempat latihan seni, melainkan ruang tumbuh untuk generasi muda. Ia percaya, melalui ketekunan dan kerja keras akan lahir sebuah karya yang indah.

”Saya selalu menekankan pada anak-anak bahwa proses itu penting dalam sebuah karya apa pun. Yang jelas, kerja keras dan konsistensi itu tidak akan menghianati,” tegasnya.

Kini, Adlin bercita-cita membangun seniman yang lebih hebat darinya melalui sanggar miliknya.

”Bagi saya jika ada anak didik saya yang sudah lebih tinggi pencapaiannya dari saya, maka saya sudah berhasil mendidik dan melahikan seorang seniman sejati,” pungkasnya. (Dalila Adinda/aif/c1)

Editor : Ali Sodiqin
#penari gandrung #banyuwangi #Sanggar tari