RadarBanyuwangi.id - Dalam perayaan Hari Raya Wiasak, Umat Buddha di Dusun Curahjati, Desa Grajagan setiap tahun, melaksanakan kegiatan Pelepasan Satwa.
Istilah lain dari pelepasan satwa ini diambil dari budaya Tiongkok, sebuah tradisi kuno yang penuh makna dan nilai kemanusiaan, yaitu Fang Shen.
Secara harfiah, "Fang Shen" berarti melepaskan makhluk hidup, dan praktik ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan terhadap kehidupan serta kepedulian terhadap kelestarian alam.
Fang Shen dilakukan dengan cara membebaskan hewan-hewan yang sebelumnya ditangkap, seperti burung, ikan, atau kura-kura, kembali ke habitat aslinya.
Tujuan utamanya adalah untuk menyelamatkan makhluk hidup dari kematian, memberikan mereka kesempatan hidup yang lebih panjang, dan menjaga keseimbangan alam.
Lebih dari sekadar tindakan fisik, Fang Shen mengandung filosofi mendalam tentang kasih sayang terhadap semua makhluk.
Tradisi ini dipercaya membawa berkah dan umur panjang, baik bagi hewan yang dilepaskan maupun bagi orang-orang yang melakukan pelepasan tersebut dengan niat tulus.
Selain manfaat spiritual, Fang Shen juga membawa dampak positif bagi lingkungan. Dengan membebaskan satwa kembali ke alam, tradisi ini turut mendukung upaya pelestarian ekosistem dan mengingatkan manusia akan pentingnya menjaga hubungan harmonis dengan alam.
Namun, penting untuk memastikan bahwa praktik ini dilakukan dengan penuh tanggung jawab. Satwa yang dilepaskan harus benar-benar mampu bertahan hidup di alam liar, agar tidak menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan baru mereka.
Fang Shen bukan hanya tradisi, melainkan bentuk nyata cinta kasih dan penghormatan terhadap kehidupan.
Di tengah tantangan modern yang mengancam kelestarian alam, nilai-nilai luhur dalam Fang Shen patut dijaga dan terus diwariskan sebagai warisan budaya yang membawa kebaikan bagi semua makhluk. (*)
Editor : Lugas Rumpakaadi