RadarBanyuwangi.id – Suasana semarak tampak di Dusun Curahjati, Desa Grajagan, saat umat Buddha menggelar arak-arakan dan pelepasan satwa dalam rangka Hari Raya Waisak
Yang menarik, kegiatan ini tidak hanya diikuti umat Buddha, tetapi juga seluruh warga setempat tanpa memandang agama, suku, maupun ras.
Mulai dari anak-anak hingga orang dewasa tampak antusias memadati lokasi kegiatan. Banyak di antara mereka membawa alat pancing lengkap, bahkan ada yang datang dengan jaring untuk menangkap ikan lele.
Semua tumpah ruah dalam suasana kebersamaan dan suka cita. Puncak acara berupa pelepasan ikan lele ke sungai menjadi momen yang paling dinanti.
Setelah dilepas, ikan-ikan tersebut menjadi buruan para pecinta mancing yang sudah menyiapkan diri sejak pagi. Bagi warga, kegiatan ini bukan sekadar seremonial keagamaan, tetapi juga bentuk hiburan dan berkah nyata.
“Senang sekali ada acara seperti ini. Bisa mancing gratis dan ramai-ramai dengan warga lainnya. Apalagi ikannya lele, bisa dibawa pulang untuk dimasak,” ujar salah satu warga sambil tersenyum.
Kegiatan pelepasan satwa ini merupakan tradisi tahunan yang sudah berlangsung selama sekitar lima tahun. Sebelum ikan lele, umat Buddha juga sempat melakukan pelepasan burung sebagai simbol cinta kasih terhadap sesama makhluk hidup.
Selain memperkuat nilai-nilai lingkungan, kegiatan ini juga berdampak positif pada ekonomi warga. Banyak pedagang kecil yang ikut merasakan peningkatan penjualan saat acara berlangsung.
Warga Curahjati dikenal menjunjung tinggi toleransi antarumat beragama. Kegiatan ini menjadi bukti nyata bahwa kerukunan bisa tumbuh subur di tengah perbedaan, selama ada rasa saling menghargai. (*)
Editor : Ali Sodiqin