Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Berdiri Sejak 1970, Jaranan Campursari Sidodadi Baluk Banyuwangi Selalu Tampilkan Sesuatu yang Baru

Redaksi • Selasa, 6 Mei 2025 | 10:45 WIB
PERTUNJUKAN: Anggota jaranan Campursari Sidodadi Baluk tampil di wilayah Kelurahan Kebalenan, Kecamatan Banyuwangi, beberapa waktu lalu.
PERTUNJUKAN: Anggota jaranan Campursari Sidodadi Baluk tampil di wilayah Kelurahan Kebalenan, Kecamatan Banyuwangi, beberapa waktu lalu.

RADARBANYUWANGI.ID - Beragam hiburan ada di genggaman. Seiring perkembangan teknologi, tayangan film, musik, hingga pertunjukan kesenian tradisional bisa dinikmati dari gawai.

Namun, fenomena itu tidak menyurutkan langkah Atmo, 56, untuk terus perform secara luring sekaligus mengemban ”misi” melestarikan kesenian jaranan.

Dua pria sibuk membersihkan peralatan kesenian jaranan di Lingkungan Krajan, Kelurahan Kebalenan, Banyuwangi, pada Sabtu siang (4/5).

Termasuk kostum dan kepala barong. Rupanya peralatan itu akan digunakan untuk tampil pada hajatan khitan di Kecamatan Rogojampi esok harinya.

Ya, di era serba modern seperti saat ini, kesenian jaranan masih eksis. Salah satu yang masih bertahan adalah grup jaranan Campursari Sidodadi.

Grup jaranan asal lingkungan yang lebih dikenal dengan sebutan Baluk, tersebut punya tempat tersendiri di hati para pencintanya.

Salah satu pria yang Sabtu siang itu tengah membersihkan peralatan jaranan belakangan diketahui bernama Atmo. Kebetulan dia adalah ketua grup jaranan tersebut.

Atmo mengatakan, dirinya mulai terjun di dunia kesenian jaranan sejak masih kecil. Kala itu, dia sering diajak saudara-saudaranya melihat kesenian jaranan. Apalagi, dua saudaranya, yakni Asbu dan Usni, merupakan pendiri grup Jaranan Campursari.

Atmo mengklaim, grup Jaranan Campursari Sidodadi Baluk merupakan grup kesenian jaranan tertua yang ada di Banyuwangi. Grup ini eksis sejak tahun 1970.

”Grup jaranan ini sudah ada sejak lama. Sejak sekitar tahun 1970-an,” kata dia.

Atmo menambahkan, agar penonton tidak bosan, grup kesenian Jaranan Campursari Sidodadi selalu menawarkan pertunjukan berbeda dalam setiap penampilan.

Seperti jaran caplok, tarian, macan-macanan, kucingan, hingga pada pertunjukan pemungkas yakni menampilkan singoludro.

Atmo sendiri mengaku selalu mendapatkan tawaran tampil di acara pernikahan, sunatan alias khitan, maupun kegiatan lain yang digelar di desa dan sebagainya. Dalam sebulan, grup jaranan tersebut bisa tampil sebanyak 2 sampai 3 kali.

Bahkan tidak hanya di berbagai penjuru Banyuwangi, Atmo mengaku pihaknya sudah pernah tampil di Malang, Surabaya, hingga Lampung dengan tarif sekali tampil sebesar Rp 5 juta sampai Rp 20 juta, tergantung jarak.

Kesenian Jaranan Campursari Sidodadi yang juga dikenal dengan grup jaranan Sidodadi Baluk, itu terus melakukan inovasi dalam setiap pertunjukan.

Sebelum tampil, biasanya Atmo dan seniman jaranan yang lain selalu berlatih gerakan baru dan menampilkan kesenian yang berbeda dari sebelumnya.

Hal itu dilakukan agar kesenian Campursari selalu bisa menunjukkan hal yang berbeda di setiap pertunjukannya. ”Saya selalu belajar hal-hal baru, untuk ditampilakan di setiap pertunjukan,” aku Atmo.

Grup jaranan Campursari Sidodadi saat ini memiliki 34 anggota. Selain Atmo, salah satu anggota senior grup kesenian tersebut yang hingga kini masih aktif adalah Gianto, 54.

”Saya sudah ikut jaranan ini lama sekali. Sekitar 20 tahun lalu,” pungkas Gianto. (Mohamad Ksatria/sgt/c1)

Editor : Ali Sodiqin
#jaranan #budaya #seni #BALUK #banyuwangi #Campursari