Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Guru Besar UI Dorong Inventarisasi Dokumen Budaya Banyuwangi

Ali Sodiqin • Jumat, 18 April 2025 | 16:15 WIB
Banyuwangi Culture Studies bersama Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Budaya Fakultas Ilmu Budaya UI menggelar sarasehan budaya bersama budayawan di Pendapa Sabha Swagatha Blambangan, Kamis (17/4)
Banyuwangi Culture Studies bersama Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Budaya Fakultas Ilmu Budaya UI menggelar sarasehan budaya bersama budayawan di Pendapa Sabha Swagatha Blambangan, Kamis (17/4)

RADARBANYUWANGI.ID – Inventarisasi dan dokumentasi warisan budaya Banyuwangi menjadi salah satu langkah urgen yang perlu dilakukan dalam waktu dekat.

Hal itu tercetus dalam sarasehan budaya yang digelar Banyuwangi Culture Studies bersama Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Budaya Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (UI) di Pendapa Sabha Swagatha Blambangan, Kamis (17/4).

Puluhan orang mulai seniman musik, tari, penulis, pembaca mocoan lontar, praktisi keris, akademisi, dan mahasiswa hadir dalam diskusi yang diikuti langsung oleh Guru Besar FIB UI Prof Dr Agus Aris Munandar tersebut.

Nyaris setiap tokoh budaya yang hadir diberi kesempatan untuk memaparkan pandangan mereka terkait budaya Banyuwangi dalam sarasehan bertajuk ”Budaya Banyuwangi dalam Perlintasan Makna: Kajian atas Transformasi Mistis, Estetik, dan Komersial” tersebut.

Termasuk pandangan peninggalan bangunan bersejarah, kuliner, seni rupa, hingga tari gandrung.

Usai sarasehan, Guru Besar FIB UI Prof Dr Agus Aris Munandar mengatakan bahwa ada cukup banyak warisan budaya Banyuwangi. Namun, belum seluruhnya terangkat dan terdokumentasi dengan baik.

Agus mencontohkan, dari sisi arkeologis banyak budaya arkeologi prasejarah di Banyuwangi yang belum terangkat.

Meskipun tidak banyak, tapi dari arkeologi klasik itu masyarakat bisa tahu bagaimana asal muasal Banyuwangi.

”Jadi dari sisi arekeologi saja, kita bisa tahu kalau Banyuwangi ini bukan kota yang tiba-tiba jadi. Ada riwayat yang cukup panjang sejak zaman Majapahit, kemudian era kedatangan Islam, era kolonial, hingga saat ini,” terangnya.

Agus berharap, dari sarasehan itu bisa terbentuk sebuah lembaga kebudayaan yang tidak hanya mengkaji masalah seni, tetapi mengkaji kebudayaan secara luas.

Termasuk yang menjadi bagian dari 10 bidang kebudayaan, seperti tradisi lisan, manuskrip, adat-istiadat, ritus, pengetahuan tradisional, teknologi tradisional, seni, bahasa, permainan rakyat, dan olahraga tradisional.

Baca Juga: Tempat Duduk Kapal Cepat Banyuwangi–Denpasar Sudah Dipesan 150 Orang

”Hampir sebagian besar daerah itu tidak mencatat khazanah budaya yang ada. Justru kita saat mau mencari dokumentasi harus jauh-jauh ke Belanda, karena justru mereka yang rajin melakukan dokumentasi,” kata dia.

Karena itu, langkah pertama yang menurutnya harus dilakukan adalah melakukan dokumentasi kemudian menginventarisasi di mana letak budaya-budaya tersebut, baru kemudian memulihkan data-data yang ada semampunya.

”Pemerintah nanti bertugas untuk mengoordasi. Karena kita tahu sumber daya dan sumber dana pemerintah terbatas. Di pusat sekarang ada Kementerian Kebudayaan, nah di kabupaten mungkin bisa ada dinas kebudayaan sendiri,” jelasnya.

Hasil dari diskusi dalam sarasehan itu pun mendapat respons positif dari beberapa budayawan yang datang.

Salah seorang budayawan, Aekanu Haryono mengatakan, jika sepuluh item kebudayaan itu bisa diinventarisasi dengan baik, maka akan cukup mudah bagi generasi muda di Banyuwangi untuk mempelajarinya.

Dia mencontohkan untuk artefak, misalnya, selama ini masyarakat percaya cerita Sritanjung ada di Banyuwangi.

Tapi dengan adanya artefak pendukung, hal itu akan semakin memperkuat daya tarik masyarakat untuk mempelajari Banyuwangi.

Ketua Dewan Kesenian Blambangan (DKB) Hasan Basri menuturkan, hal-hal yang dicetuskan dalam sarasehan kemarin harus bisa segera direalisasikan.

Bukan tanpa alasan, Hasan khawatir, semakin lama ide ini ditunda, akan membuat narasumber yang memahami warisan-warisan budaya di Banyuwangi ini semakin hilang.

Jadi, bisa segera ditindaklanjuti kapan ide tersebut akan dilakukan, kemudian siapa yang melakukan, pendanaan dari mana, dan apa yang menjadi prioritas.

”Jadi bisa langsung kita tata, tahun ini mana dulu yang kita inventarisasi. Tahun depan apa. Kita berharap Banyuwangi Culture Studies ini bisa menjadi wadah untuk itu,” kata dia.    

Sementara itu, Inisiator Banyuwangi Culture Studies Handoko mengatakan, Banyuwangi adalah daerah yang lekat dengan identitas budaya.

Maka, pengembangan Banyuwangi ke depan tidak lepas dari pengembangan berbasis budaya. Banyuwangi Culture Studies menurutnya berinisiasi untuk mengatur kemajuan budaya dengan cakupan yang lebih luas.

”Ada sepuluh objek kemajuan kebudayaan, diharapkan bisa menjadi basis perkembangan Banyuwangi. Ke depan ini bisa mengembangkan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya. (fre/sgt/c1)

Editor : Ali Sodiqin
#Dokumentasi #universitas indonesia #warisan budaya #banyuwangi