RADAR BANYUWANGI – Ritual adat seblang kembali diselenggarakan masyarakat Desa Olehsari, Kecamatan Glagah.
Digelar sejak Jumat (4/4), ritual bersih desa tersebut akan berlangsung selama tujuh hari berturut-turut hingga Rabu (10/4) mendatang.
Seblang Olehsari merupakan ritual yang digelar sejak zaman dahulu. Dalam pelaksanaannya, seorang penari yang terpilih secara supranatural menari dalam kondisi tidak sadarkan diri (trance).
Penari yang notabene merupakan keturunan dari penari seblang pertama itu diyakini dirasuki oleh roh leluhur masyarakat desa setempat.
Tahun ini, Dwi Putri Ramadani, 21, kembali terpilih sebagai penari seblang. Dengan mata terpejam dan mengenakan omprog (mahkota berbahan daun kelapa), dia menari mengikuti irama lagu-lagu seblang.
Sebelumnya, Putri sudah beberapa kali menjalankan ”tugas” yang diyakini merupakan petunjuk dari leluhur warga Desa Olehsari tersebut.
Bupati Ipuk Fiestiandani mengatakan, berbagai tradisi adat dan budaya Banyuwangi turut memperkaya khazanah seni budaya di kabupaten ini.
”Kami akan tetap berupaya melestarikan tradisi ini sebagai warisan leluhur dengan cara terus mendukung pelaksanaan ritual-ritual adat semacam ini,” ujarnya pada Sabtu (5/4).
Ritual Seblang Olehsari menuai animo yang tinggi dari warga maupun wisatawan yang berkunjung ke Banyuwangi.
Baik wistawan lokal maupun turis mancanegara. Salah satunya Ahmed, wisatawan asal Mesir. Dia mengaku sangat terkesan dengan ritual seblang yang baru pertama kali dia saksikan.
”Ini pertama kalinya, saya sangat menikmati dan respect dengan budaya dan tradisi masyarakat di sini (Banyuwangi),” akunya.
Ahmed menuturkan, saking kagumnya dengan tradisi seblang, dia sempat mencoba ikut menari dengan penari seblang, tapi ternyata dia ditolak.
Pada Seblang Olehsari memang terdapat ritual ”tundik” atau menari bersama penari seblang. Tundik dilakukan saat penari seblang membawa sampur atau selendang untuk mengajak penonton menari bersama.
Selendang itu kemudian dilempar ke arah penonton. Penonton yang mendapatkan selendang itu kemudian wajib naik panggung untuk menari bersama penari seblang.
”Saya tidak dapat selendang itu, tapi saya ingin merasakan pengalaman yang baru, menari bersama seblang. Makanya saya langsung naik, tapi ternyata tidak boleh. Saya minta maaf karena tidak tahu aturannya. Sepertinya tahun depan saya akan kembali lagi,” kata Ahmed.
Sementara itu, Muhammad Aqil Al Munawwar, pengunjung asal Kendari, Sulawesi Tenggara, ikut mengungkapkan kekagumannya terhadap ritual ini.
”Saat pertama kali melihat seblang memasuki lokasi, saya langsung merinding. Ketika tariannya dimulai, saya merasa ini sangat sakral. Saya harap tradisi ini terus dilestarikan,” harapnya.
Kepala Desa (Kades) Olehsari Joko Mukhlis mengungkapkan rasa syukur atas kelancaran pelaksanaan ritual Seblang Olehsari tahun ini.
Dia mengatakan, ritual ini digelar sebagai upaya bersih desa untuk menghindarkan desa dari marabahaya dan wabah penyakit (tolak bala).
”Saya sangat bersyukur ritual adat Seblang Olehsari tahun ini berlangsung lancar tanpa kendala. Ritual sakral ini dapat disaksikan oleh masyarakat luas, baik dari warga lokal maupun luar daerah. Kami berharap generasi muda di Olehsari terus menjaga dan melestarikan warisan leluhur ini,” pungkas Joko. (sgt/c1)
Editor : Ali Sodiqin