RADAR BANYUWANGI - Semangat melestarikan kesenian wayang kulit terus dilakukan oleh para dalang muda yang tergabung ke dalam komunitas bernama Paguyuban Dalang Keneman Banyuwangi (Padakawangi).
Meskipun saat ini kurang mendapat apresiasi, melalui pergelaran wayangan ”climen”, kesenian wayang kulit menolak punah dari Bumi Blambangan.
Komunitas ini berisikan anak-anak muda yang menjadi dalang. Bahkan, komunitas dalang muda ini kerap menggelar pentas pewayangan mini, wayangan climen namanya.
Wayangan kecil-kecilan ini merupakan salah satu cara yang dilakukan oleh dalang muda di Banyuwangi untuk melestarikan wayang kulit.
Wayangan climen digelar dengan pentas mini dan sederhana. Baik dari kelengkapan wayang kulit atau pengiringnya berjumlah sedikit dari pergelaran wayang kulit pada umumnya.
Tentunya, pentasan ini digelar dengan merogoh kocek pribadi atau dari iuran bersama Komunitas Padakawangi.
Ketua Padakawangi Abhillio Gitaloka Premadasa alias Ki Sanggit Abhillawa mengatakan, komunitas ini tidak hanya berisikan dalang muda saja.
Namun, mereka yang juga mencintai kesenian wayang kulit atau yogo (pengiring gamelan) dan sinden juga masuk di dalamnya.
Padakawangi berdiri sejak 2019 lalu, diinisiasi perasaan miris tentang nasib wayang kulit yang kurang diapresiasi di Banyuwangi. Hingga sampai dikatakan Banyuwangi krisis generasi dalang.
Abhillawa mengatakan, saat itu ia menilai tidak ada lagi generasi sekarang yang sudi menjadi dalang. Berbeda dari kesenian lokal lainnya, yang masih banyak peminatnya.
”Ada teman sejawat yang sudah meninggal, namanya Bambang. Dia miris dengan kondisi saat ini. Bambang yang berinisiatif mengumpulkan para dalang muda untuk membentuk Padakawangi agar pergelaran wayang kulit tidak punah di Banyuwangi,” ungkap Abhillawa kepada wartawan Jawa Pos Radar Banyuwangi, Jumat (28/2).
Saat ini Padakawangi berisikan 44 anggota. Rinciannya, sebanyak 20 orang merupakan dalang, 21 pengrawit alias yogo, dan 3 orang sebagai sinden.
Komunitas ini terdiri dari berbagai golongan usia, mula dari usia 18 tahun hingga 36 tahun. Dari anak sekolahan hingga pekerja kantoran.
Abhillawa mengatakan, sebagai ikhtiar melestarikan keberadaan wayang kulit di Banyuwangi, Padakawangi biasanya rutin menggelar wayangan climen.
Lokasinya tidak menentu, namun selalu dilakukan setidaknya dalam tiga bulan. Bahkan, baru-baru ini Padakawangi menyepakati adanya arisan bersama.
Dalam arisan tersebut akan dilakukan pengundian secara rutin setiap bulannya. Tentunya ada aturan main yang telah disepakati bersama sebelumnya.
Yakni barang siapa ada dalang yang mendapatkan arisan, maka wajib hukumnya untuk menggelar wayangan climen. Sementara jika yogo atau sinden, maka tidak wajib.
”Ada aturan bersama, jika dalang yang dapat arisan harus wayangan. Jika sinden atau penabuh gamelan tidak wajib. Tapi boleh saja jika digunakan climenan,” ungkap Abhillawa.
Abhillawa mengungkapkan, minimnya regenerasi dalang di Banyuwangi saat ini dipicu beberapa faktor. Salah satunya dari modernisasi dan invasi kebudayaan asing yang secara perlahan mulai digandrungi oleh generasi muda.
Namun demikian, Padakawangi memilih untuk tetap eksis meskipun dalam kondisi terimpit sekalipun. Sebab, menjadi dalang adalah sebuah kebanggaan bagi dirinya.
Suatu ketika, Abhillawa merasa geram dengan istilah ”memalukan” yang dilontarkan dari generasi saat ini.
Dia menyebut, beberapa generasi muda saat ini ada yang menganggap kesenian wayang dengan istilah tontonan kuno atau kurang menarik.
Menurutnya, justru dalang adalah sebuah profesi yang harus dan terus serta tidak boleh punah hingga kapan pun.
Abhillawa mengibaratkan pergelaran wayang layaknya sebuah semesta kehidupan. Di mana seorang dalang adalah yang menggerakkan dan menentukan jalan cerita dari kehidupan para wayang.
”Dalang adalah profesi yang harus terus diregenerasi. Tidak boleh punah. Karena wayang tanpa dalang ibarat tubuh tanpa nyawa. Dalang adalah ruh yang menggerakkan dan menghidupkan wayang,” jelas Abhillawa.
Meskipun terkadang wayangan climen tidak ada penonton dari golongan muda, namun Abhillawa dan Padakawangi tetap menggelarnya secara rutin. Dengan cara inilah para dalang muda di Banyuwangi melestarikan, mengenalkan, dan membiasakan masyarakat untuk terbiasa melihat wayang lagi.
”Dari biasa hingga akhirnya suka. Dari peduli hingga akhirnya cinta. Itulah keinginan kami dari Padakawangi yang ingin melestarikan wayang kulit ini selalu ada di Banyuwangi. Setidaknya tidak sampai punah,” tegasnya. (cw4/aif/c1)
Editor : Ali Sodiqin