RADAR BANYUWANGI – Padepokan Alang-Alang Kumitir Banyuwangi berhasil memukau berbagai kalangan pencinta seni Jakarta.
Dalam penampilannya, sanggar tari asuhan Punjul Ismuwardoyo ini menyuguhkan kisah maestro gandrung Mak Temu yang mencari penerus.
Pukul 05.34 saya tiba di Stasiun Rogojampi. Sengaja nyegat Punjul Ismuwardoyo yang baru pulang dari Jogjakarta.
Padepokan Alang-Alang Kumitir, sanggar tari yang dia dirikan dan asuh, baru saja tampil di Galeri Indonesia Kaya, Jakarta pada Sabtu (12/11) lalu. Saya ingin mendengar ceritanya.
Padepokan yang berlokasi di tlatah Alas Purwo alias Kecamatan Tegaldlimo ini menjadi salah satu dari 11 sanggar tari se-Indonesia yang diundang.
Mereka menyuguhkan berbagai penampilan tari spesial kepada para pencinta seni Jakarta, dalam rangka Perayaan 11 Tahun Galeri Indonesia Kaya.
Dalam gelaran ini, Padepokan Alang-Alang Kumitir menampilkan sendratari berjudul ”Sikep Sang Timur Aji Gandrung”.
Punjul menerangkan, sanggar yang diasuhnya berhasil lolos seleksi dari sekitar 500 sanggar di seluruh Indonesia yang mendaftar. Sebanyak 500 sanggar itu, diseleksi lagi menjadi 100 sanggar, lalu dilanjutkan lagi menjadi 20 sanggar.
”Ke-20 sanggar ini ditinjau langsung ke lokasi untuk kemudian dipilih 11 sanggar yang diundang tampil. Sepertinya, mereka tidak hanya melihat kualitas tarian, tetapi memang mengundang sanggar yang betul-betul ’hidup’ dan aktif. Jadi, bukan sanggar yang latihan hanya ketika mau ada event,” terang alumnus Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta tersebut.
Padepokan Alang-alang Kumitir, imbuh Punjul, memang aktif melakukan latihan setiap hari. Visinya tidak main-main.
Selain melestarikan seni, juga berfokus pada pengembangan. Jadi, biasanya koreografi yang digarap memang dihiasi dengan campuran seni kontemporer.
”Kami terbiasa menggarap tarian dramatik. Jadi, bukan hanya tarian lepas yang seperti biasanya. Selalu ada maksud yang kami sampaikan dengan menyuguhkan tarian tradisi yang dibalut juga dengan campuran seni kontemporer,” imbuh pria yang beralamat di Desa Purwoasri, Kecamatan Tegaldlimo ini.
Dalam sendratari berjudul ”Sikep Sang Timur Aji Gandrung” yang ditampilkan, Padepokan Alang-alang Kumitir menyuguhkan kisah Mak Temu, maestro Gandrung Banyuwangi, yang mencari penerus sebagai seniman gandrung sejati alias gandrung tarub.
Menurut Punjul, gagasan ini memang diperoleh langsung dari kegelisahan Mak Temu. Dia merasa khawatir jika suatu saat nanti tidak ada penerus yang mau mengabdikan hidupnya sebagai penari gandrung sejati.
”Ya meskipun di Banyuwangi ada ribuan penari gandrung yang bagus, sepertinya hanya ada nol koma sekian persen yang mau mengikuti jejak Mak Temu. Sebab, mungkin mereka takut karena penari gandrung beneran itu memiliki dua tantangan. Pertama, selain harus bisa menari, dia kan juga harus bisa nembang lagu-lagu tradisional. Dan yang kedua, tantangan ketika di-paju itu, harus bisa bersikap sebagaimana mestinya waktu tanggapan gandrung tarub. Ini yang ingin kami sampaikan kemarin, dan memang harus ada solusinya, begitu,” jelas Punjul.
Cerita inilah yang pada Sabtu lalu ditampilkan oleh Padepokan Alang-Alang Kumitir.
Dengan dikoreograferi Reni Wiritanaya dan disutradarai langsung oleh Punjul, sebanyak 9 penari berhasil menghipnotis penonton yang berasal dari berbagai kalangan.
Mak Temu juga tampil sebagai tokoh utama sendratari, dengan Reni yang berperan sebagai penerus gandrung tarub dalam penampilan berdurasi 45 menit tersebut.
Dengan sajian tersebut, Punjul berharap dapat menginspirasi banyak pihak terkait eksistensi gandrung tarub. Termasuk juga ada generasi pemuda yang mau meneruskan pengabdian Mak Temu.
Sehingga, sanggar tari yang dia dirikan sejak 1992 secara tidak langsung juga bertujuan mewujudkan visi tersebut. Sekaligus juga nguri-uri budaya dan tradisi.
Terlebih, tidak lama lagi sanggar yang saat ini terdata memiliki siswa sekitar 200 orang ini akan melakukan roadshow.
Pementasan berjudul ”Sikep Sang Timur Tlatah Alas Purwo” akan digelar di Taman Candra Wilwatikta Pasuruan, kampus ISI Surakarta, dan kampus ISI Yogyakarta.
”Sesuai dengan filosofi nama sanggar, yakni alang-alang yang berarti tumbuhan alang-alang dan kumitir yang artinya bergerak, kami selalu memegang itu. Ilalang akan hidup lagi meskipun dibabat, dibakar, bahkan diobat. Sanggar ini juga demikian. Terus bergerak tanpa batas, menabur karya dan menuai budaya!” pungkas Punjul. (Rizqi Hasan/aif/c1)
Editor : Ali Sodiqin