RadarBanyuwangi.id – Banyuwangi dikenal sebagai salah satu daerah yang menghasilkan kopi yang terbanyak di Indonesia. Setiap tahun Kabupaten Banyuwangi ini mengadakan festival kopi. Salah satu nya adalah festival Ngopi Sepulu Ewu yang di Desa Wisata Adat Kamiren Kecamatan Glagah.
Festival ini sebagai salah satu yang mengarahkan sektor ekonomi kreatif berbasis kopi di kabupaten paling timur Jawa Timur itu. Festival Ngopi Sepuluh Ewu ini akan dilaksanakan pada tanggal 6 November 2024 malam Kamis, pukul 18.00 WIB.
Festival ini juga menunjukkan keramahan warga desa yang memiliki falsafah “lungguh, suguh dan gupuh” dalam menghormati tamu. Mulai dari menyiapkan tempat, menyajikan hidangan, hingga kesigapan tuan rumah dalam menyambut tamu.
Festival kopi ini merupakan ribuan orang yang memadati jalan utama Desa Kemiren untuk menimati kopi yang disuguhkan masyarakat Suku Osing.
Bagi warga Kemiren, pemberian kopi secara gratis kepada para pengunjung adalah bentuk penghormatan kepada tamu yang datang.
Kopi yang disajikan merupakan kopi khas Banyuwangi, yaitu kopi Using. Kopi Using adalah kopi Arabika yang ditanam di wilayah Banyuwangi, terutama di Kecamatan Glagah. Ciri khas rasa kopi ini adalah rasa pahit yang dominan dengan sentuhan rasa manis yang unik.
Selama festival berlangsung, masyarakat umum dapat menikmati kopi Using secara gratis di rumah-rumah penduduk Desa Kemiren.
Festival ini bertujuan untuk memperkenalkan kopi khas Banyuwangi kepada masyarakat dan mengundang mereka untuk mengenal lebih jauh tentang budaya masyarakat Suku Osing. Menariknya, sajian kopi tergelar di setiap halaman rumah warga Desa Kemiren sepanjang 2 Km.
Kopi yang disajikan kepada para tamu berjenis arabika, robusta, dan campuran khusus atau house blend. Kopi disajikan menggunakan cangkir khusus yang sudah digunakan suku Osing sejak dulu secara turun-temurun.
Tradisi minum kopi oleh di kalangan masyarakat Osing didasari oleh filosofi sak corot dadi seduluran yang artinya “sekali seduh semua menjadi saudara”.
Hal ini dikarenakan sambil mengopi, masyarakat dapat saling berkomunikasi, berbagi rasa, dan mempererat persaudaraan.
Di sepanjang jalan dengan mengenakan pakaian adat Osing, warga desa menyuguhkan kopi kepada para tamu dengan menggunakan cangkir khusus yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
Kopi yang disajikan beragam, mulai dari arabika, robusta, hingga house blend. Disajikan pula beragaman jajanan tradisional untuk menemani nyruput kopi.
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengatakan, festival kopi sepuluh ewu ini memiliki potensi yang sangat besar dan banyak anak muda yang menggarapnya dengan kemasan menarik mungkin. Festival ini menjadi ajang untuk mempromosikan kopi Banyuwangi ke pasar nasional dan internasional.
Tradisi yang masuk rangkaian Banyuwangi Festival itu bukan sekadar acara minum kopi bersama, melainkan pertunjukan budaya yang menggambarkan keramahan dan kemurahan hati warga Osing. Pengunjung yang hadir diajak minum kopi sambil lesehan ataupun duduk di teras halaman yang disulap menjadi ruang tamu. (*)
- Penulis: AHMAD IHYA’
- Mahasiswa Fakutas Dakwah Prodi KPI Universitas Ibrahimy Sukorejo Situbondo