RadarBanyuwangi.id – Latihan Gandrung Sewu sampai malam di Stadion Diponegoro mendapatkan sorotan dari lembaga pemerhati anak dan perempuan di Banyuwangi.
Kali ini sorotan datang dari Tim Reaksi Cepat Perlindungan Perempuan dan Anak (TRC PPA) Banyuwangi.
Latihan yang melibatkan 1.350 anak itu menjadi perhatian serius TRC PPA karena jadwal latihan yang cukup memakan waktu lama. Bahkan, latihan berlangsung hingga larut malam.
”Jika latihannya sampai larut malam, tentu sangat menguras tenaga anak-anak sehingga dugaan eksploitasi anak bisa saja terjadi,” tegas Ketua TRC PPA Banyuwangi Very Kurniawan.
Very menyebut, eksploitasi anak bisa terjadi dalam bentuk apa pun. Bukan hanya dipekerjakan, melainkan adanya tugas yang menjadi tekanan anak-anak bisa disebut eksploitasi.
”Biasanya anak-anak ini diberikan tugas tambahan dan menjadi tekanan mereka, hal itu juga bisa disebut adanya eksploitasi anak,” terangnya.
Makanya, lanjut Very, harus ada solusi yang dilakukan oleh panitia agar latihan tidak terlalu memberatkan anak-anak.
”Ya harus ada solusi terbaik, mungkin waktu latihannya yang diganti atau lainnya,” ungkapnya.
Very menambahkan, anak-anak yang ikut Gandrung Sewu memang merupakan anak-anak pilihan.
Namun, jika tenaga mereka dikuras hanya untuk latihan, tentunya mereka akan sakit atau pun jatuh pingsan.
”Orang tua harus tetap menjaga stamina anak-anaknya serta meminta panitia untuk mencari solusi terbaik,” tegasnya. (rio/aif/c1)
Editor : Ali Sodiqin