Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Kerap Dikaitkan dengan Propaganda G30S/PKI: Berikut Makna Sesungguhnya Lagu Genjer Genjer Karya Seniman Asal Banyuwangi

Niklaas Andries • Jumat, 27 September 2024 | 16:00 WIB

DIORAMA: Peristiwa gerakan G30S menjadi salah satu penyebab lagu Genjer-Genjer dilarang
DIORAMA: Peristiwa gerakan G30S menjadi salah satu penyebab lagu Genjer-Genjer dilarang
Radarbanyuwangi.id – Lagu Genjer-Genjer selama era pemerintah Orde Baru mendapat stigma negatif. Lagi made in budayawan asli Banyuwangi  ini kerap dikaitkan dengan peristiwa berdarah pada 30 September 1965 silam. Bahkan peredaran lagu ini sempat dilarang oleh pemerintahan kala itu.

Lagu ini sendiri sempat hits di era tahun 1950an hingga 1965. Beberapa musisi besar tanah air seperti Lilis Suryani hingga Bing Slamet sempat membawakan lagu ini. Bahkan menjadi lagu popular di blantika musik tanah air kala itu. Pencipta lagu ini adalah Muhamad  Arif yang merupakan seniman asli Banyuwangi.

Dulunya dia tinggal di Kelurahan Temenggungan, Kecamatan Banyuwangi. Sayangnya hingga kini juntrungan nasibnya tidak pernah terdengar sia lagi.  Arif meninggalkan seorang istri bernama Suyekti, dan dua anak.

Mereka pernah diketahui tinggal di sebuah rumah di dalam sebuah gang di sekitaran Jalan Ijen, Kelurahan Singotrunan, Kecamatan Banyuwangi. Letaknya tidak jauh dari PT Kertas Basuki Rahmat.

Dalam sebuah wawancara yang pernah dilakukan Jawa Pos Radar Banyuwangi sebelumnya, Suyekti bercerita tentang sejarah Lagu Genjer-Genjer ciptaan suaminya tersebut. Menurutnya, lagu tersebut sudah lama diciptakan. Bahkan jauh sebelum pemberontakan PKI tahun 1965 meletus, lagu itu sudah ada.

Persisnya, Lagu Genjer-Genjer diciptakan Muhamad Arif sekitar tahun 1942. Tepatnya  pada masa pendudukan Jepang di Indonesia. Suyekti menceritakan  saat zaman Jepang dulu, kehidupan masyarakat Indonesia sangat susah.

Jangankan hidup enak, sekadar untuk makan saja, masyarakat harus banting tulang mencari apapun yang bisa dimakan. ‘’Kalau teringat hal itu, saya suka menangis,’’ katanya sambil mengusap air mata.

Suyekti menceritakan suaminya dulu sangat hobi bermain angklung dan menciptakan lagu. Ada beberapa lagu yang diciptakan sangat menyentuh hati. Namun hobinya itu sempat terhenti saat ditugaskan sebagai veteran di Surabaya. Arif mulai jarang menulis lagu lagi. Dari perjalanan Banyuwangi-Surabaya naik kereta inilah inspirasi Lagu Genjer-Genjer akhirnya lahir.

‘’Ketika perjalanan pulang naik kereta dari Surabaya ke Banyuwangi, dia melihat orang memetik genjer di tepi sawah. Karena kekurangan makanan, genjer itu dipetik untuk dimakan. Lalu muncullah ide untuk membuat lagu genjer tersebut,’’ ujar wanita asal Malang itu.

Setibanya di Banyuwangi, Arif langsung menghubungi temannya bermain musik yang bernama Buang Bajuri. Kebetulan Buang adalah seniman yang mahir bermain angklung.

‘’Lagu itu mengisahkan kurangnya pangan masyarakat zaman penjajahan Jepang. Sehingga tanaman genjer pun terpaksa dipetik untuk dimasak lalu dimakan. Bapak-bapak mencari gadung untuk nasi dan para wanita mencari genjer di sawah,’’ jelas Suyekti. (*)

 

Editor : Niklaas Andries
#angklung #genjer-genjer #hobi #surabaya #indonesia #jepang #Bing Slamet #budayawan #Seniman #pki #sawah #banyuwangi #Lilis Suryani